Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Edward sibuk


__ADS_3

"Ibu hanya sendirian saja bersama anak ibu kesini?"


Luna ikut duduk mendekati ibu itu yang tampak bersedih dan bertanya langsung.


"Iya Nona, terimakasih juga atas izin dari Nona tadi"


"Sama-sama Bu . Ibu sedang hamil berapa bulan?"


"Saya sedang hamil masuk ke 7 bulan"


"Dimana suami ibu?, kenapa tidak menemani ibu kemari?"


Wanita itu tampak terdiam sejenak.


Lalu menjawab dengan penuh senyuman, walaupun di matanya tertera kesedihan yang sedang ia tahan.


"Suamiku tidak lagi memperdulikan ku dan anaknya, semenjak ia mengenal wanita lain"


"Hah?"


Apa maksudnya ini,apa maksud ibu ini suaminya selingkuh?.


"Ya ampun maafkan saya ibu, saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan ibu"


"Tidak papa, saya juga tidak merasa tersinggung"


"Sebenarnya anak ibu kenapa?, kenapa ia bisa seperti itu?"


"Sebagai seorang ibu tentunya memiliki rutinitas di setiap harinya yang sangat sibuk. Baik merawat rumah, masak, melayani suami dan sebagainya. Karena aku terlalu sibuk dan lalai kepada anakku menjadikannya tidak sempat ke jaga dengan baik, makanya ia sampai menelan mainannya begini karena tidak ada yang menjaganya saat bermain"


"Iya ampun"


Mendengar cerita ibu itu juga membuat Luna merasa sesak dadanya.


Ibu itu juga tampak melanjutkan bicaranya kembali.


"Sementara suamiku mendua dengan wanita lain di saat aku hamil begini. Katanya makin hari aku semakin jelek, semakin gendut dan membosankan. Aku juga tidak pandai merawat diri seperti dulu lagi katanya"


"Ya ampun sabar ya Bu, ini semua adalah cobaan, semua pasti ada kebaikannya di balik semua ini"


Kasihan sekali ibu ini,apa lelaki itu tidak pernah berpikir seberapa sibuknya seorang ibu mengurus kehidupan rumah tangga hingga lupa mengurus diri!


"Makanya sekarang saya jadi begini Nona, seperti gembel dan gelandang, tempat tinggal punya tapi serasa tak memiliki rumah untuk berlindung, suamiku juga jarang pulang, sekali waktu dia pulang itupun hanya akan ada pertengkaran dan pertengkaran. Tidak pernah harmonis seperti yang dulu"


Ya ampun kasihan sekali ibu ini.


"Lalu ibu dengannya gimana?, apakah masih bersama-sama sampai sekarang?"


"Kami memang belum berpisah,tapi kita sudah memutuskan untuk pisah setelah anak ini lahir nanti"


"Ya ampun ibu..,aku sungguh salut padamu, engkau terlihat begitu tegar dan gigih dalam menghadapi kenyataan yang pahit ini, semoga kedepannya kehidupan ibu akan lebih baik "


"Aamiin...aammiin, terimakasih atas doanya Nona"


"Saya juga pernah mengalami hal yang sama Bu. Rasanya berbagi cinta itu sangatlah sakit. Terlebih di saat hati ini sangatlah mencintainya lalu di duakan. Benar-benar seperti hidup tanpa tulang. Tapi percayalah Bu,di balik semua ini akan ada keindahan di suatu saat nanti."

__ADS_1


Setelah lama berbincang-bincang Luna terlihat meninggalkan ibu itu.


Karena Luna juga memiliki urusan pemeriksaan kandungannya,ia harus meninggalkan ibu itu terlebih dahulu ke ruang pemeriksanya.


Setelah itu mungkin ia akan menemuinya kembali setelah urusannya selesai.


Dengan cepat dokter menangani anak itu.


Luna lumayan lama meninggal ibu itu dari tadi.


Sampai-sampai dokter sudah keluar dari ruangannya dan memberitahukan keadaan anaknya itu kepada ibunya.


Dokter juga menyarankan agar anak itu diinapkan untuk beberapa hari agar bisa sembuh dengan maksimal.


Namun karena ibu itu merasa tidak memiliki uang jadi ia memutuskan untuk membawa anaknya pulang saja.


Bahkan pembayaran pengobatan tadi pun sampai ia mencopot kalung emasnya yang sedang ia pakai dan beberapa lembar uang untuk membayarnya.


"Ibu...ibu mau kemana?"Luna tampak terengah-engah memanggil ibu itu yang akan melangkah keluar dari gedung rumah sakit.


Terlihat juga Luna yang sedang terburu-buru mengejar ibu itu dengan menggandeng seseorang.


Siapa lagi kalau bukan suaminya Edward.


"Kita harus pulang Nona, kebetulan pengobatannya sudah selesai"


"Bukankah dokter menyarankan ibu untuk rawat inap anak ibu?"


"Kami tidak memiliki uang Nona, pengobatan tadi saja masih kurang"


Luna terlihat kesal menatap suaminya.


Padahal suaminya tidak tahu apa-apa akan ini.


"Aku tidak menyuruhnya untuk membayar sayang, hanya saja pihak administrasi rumah sakit belum mendapat tanda tangan ku jadi mungkin mereka menagihnya"


"Iya sudah ini gimana?"


"Iya aku akan menelfon pihak administrasi untuk mengembalikan uangnya, tenanglah sayang.."


Edward sebagai pemilik rumah sakit pun turun tangan untuk mengurus ibu itu.


Ia memberitahukan kepada seluruh staf rumah sakit agar menanganinya dengan baik tanpa adanya biaya administrasi yang dipertanggungkan.


Masalah anak dan ibu itu sudah selesai.


Berkat kebaikan Luna, anak itu pun di rawat di rumah sakit dan mendapati penanganan terbaik secara gratis.


------------


Satu Minggu cepat berlalu.


Pagi ini Luna sedang berdiri di atas timbangan.


Umur kandungan yang bertambah tentu saja membuat angka timbangan semakin bertambah pula dengan beratnya bayi yang di kandungnya.

__ADS_1


Kaki yang biasa ramping itupun semakin terlihat berisi.


"Sayang aku berangkat yah"


"Kenapa kau terburu-buru sekali?,kau tidak ingin makan buah dulu sebelum berangkat?"Luna terlihat berjalan ke arah meja makan untuk menunjukan buah yang sudah ia siapkan untuk suaminya.


"Ada hal mendesak di rumah sakit,aku harus segera kesana!. Dah..."


"Sayang tapi aku...."Saat di lihatnya Edward sudah tidak ada di ruangan.


Sepertinya ia memang sudah keluar rumah.


"Eh..dia beneran langsung berangkat?, terburu-buru sekali"


Edward memang terlihat terburu-buru sekali, bahkan ia sudah meninggalkan ruangan rumahnya dan masuk ke dalam mobil langsung.


Istrinya saja belum sempat mengajaknya bicara, namun ia sudah pergi meninggalkan rumah terlebih dahulu.


"Sepenting itukah perihal rumah sakit, sehingga ia lupa akan aku?,dia bahkan tidak mencium ku hari ini. Padahal hari ini aku juga harus USG 4D, jahat sekali"


Hari sudah siang.


Luna terlihat siap dan rapi untuk pergi.


Tapi kali ini ia pergi bersama ibu mertuanya dan supir untuk menemani USG kandungan.


Ia sudah mencoba untuk menghubungi suaminya namun tidak ada balasan darinya.


Sepertinya ia memang sangatlah sibuk.


Bahkan beberapa pesan yang sudah ia kirim ke suaminya pun tidak ia baca. Ini membuat Luna begitu kesal.


Akhirnya urusan mereka sudah selesai.


Setelah melakukan check up dan USG kandungan Luna langsung kembali ke rumah.


Hingga hari sudah mulai petang.


Edward belum pulang juga ke rumah.


Sementara istrinya sudah menunggunya di ruang santai sambil menonton TV dengan mata ngantuk.


Terlelap.


Yah.. Luna sedang ketiduran sekarang.


Ia terlihat anteng di atas sofa sambil memeluk remote TV yang sedang ia pegang.


Sementara Edward baru sampai ke rumah.


Melihat istrinya yang tertidur membuatnya tersenyum.


"Pantas saja ia tidak membalas pesanku, ternyata ia ketiduran"


Edward sengaja membiarkan istrinya yang tertidur itu.

__ADS_1


Ia langsung menuju ke lantai atas untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum menyentuh istrinya.


__ADS_2