
Waktu sudah menjelang malam.
Edward sudah wangi membersihkan dirinya dan keluar dari dalam kamar mandi miliknya yang ada di ruangan rumah sakit ini.
Kenapa dia belum sadar juga?,
mau sampai kapan kondisinya seperti ini..
Menatap jarum jam yang sudah menunjukkan pukul Delapan malam sambil berjalan menghampirinya untuk mengecek keadaannya kembali.
Detak jantungnya mulai kembali normal seperti semula.
Mengecek denyut nadinya dengan lembut di tangan kirinya dengan jemari tangannya sendiri.
Kondisinya semakin membaik, sadarlah Luna aku mohon,
Menatap lekat Luna, ia juga sedang berdo'a di dalam hatinya agar wanita yang ia sayangi ini agar segera sadar.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadamu, mungkin karena kau baik..,kau juga manis,dan kau juga tidak manja seperti wanita lain yang ada di luar sana,
ibuku selalu mengenalkan ku kepada banyak wanita cantik,tapi aku tidak tertarik karena mereka semua manja,
Aku tidak suka,ini bukan tipe ku,
Berjalan untuk menaruh handuknya di dalam ruangan gantinya.
"Uhuk.."Suara yang terlintas di telinganya begitu saja, ini membuatnya merasa senang sambil membalikkan badan menatap Luna yang terbaring itu.
"Uhuk..uhuk.."
"Luna..."Semakin merasa senang saat melihat tangan wanita itu berkutik.
"Luna..kau sudah sadar?,kau haus yah..?"Bertanya dengan sangat lembut dan penuh harap untuk kesadarannya kali ini.
Luna belum membuka matanya,ia masih berusaha untuk mengenali suara yang ia dengar sekarang ini.
Matanya mulai berkedip-kedip kembali.
Sepertinya ia benar-benar akan segera sadar dari pingsanya.
"Luna..."
Mendengar panggilan lelaki itu yang lembut membuatnya mencoba untuk membuka matanya perlahan.
Ia terdiam begitu lama setelah menatap lelaki yang ada di sampingnya ini.
"Luna...?,itu aku?"Suara lembutnya mulai terdengar dari mulutnya yang sedang lemas tak berdaya itu.
Mendengar pertanyaannya ini membuat Edward semakin yakin bahan Luna pasti amnesia.
Pikirannya juga menjadi gudah.Ia bingung sendiri harus bersikap seperti apa nantinya jika ia benar-benar amnesia.
__ADS_1
"Iya.., kau adalah Luna,aku memanggilmu,itu nama mu.."
Ia terdiam lagi mendengar perkataan lelaki itu, mungkin ia sedang berusaha untuk mengingat-ingat tentang dirinya.
Raut wajahnya juga masih terlihat begitu pucat,ia justru terlihat masih lemas dengan sangat lesu menatap Edward.
"Kau siapa?"
Dia benar-benar amnesia, tidak salah lagi.
"Kau mengenalku?,kau tidak ingat aku?"
Luna hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap lelaki ini yang sedang berbicara.
"Aku kenapa?, kenapa aku ada di sini?,ini dimana?"
"Kau sedang sakit,kau butuh banyak Istirahat sekarang, Istirahatlah dulu dan jangan terlalu banyak berpikir...!"
Luna tetap mencoba untuk duduk dari tidurnya.
"Aw..ahh...."Terasa nyeri di bagian perutnya tiba-tiba, namun perlahan-lahan mulai menghilang saat ia berhenti bergerak.
"Ada apa dengan perutku?"merasa bingung sendiri sambil menahan rasa nyeri yang sedikit menghilang.
Apa dia tidak ingat juga dengan kandungannya?,
lalu bagaimana jika ia ingat dan bertanya-tanya tentang kandungannya.
Terlihat pias terlebih dahulu wajah Edward melihat Luna yang memegangi perutnya.
"Sedikit..."
"Kondisimu belum pulih Luna,kau harus Istirahat, tidurlah dulu!, jangan berpikiran apapun yah...!"
"Aku tidak mau.."Luna terlihat merasa haus menatap gelas yang berisi air putih yang ada di atas meja dekat ranjangnya itu.
"Kau haus?"Mengambil gelas itu dengan hati-hati dan menyodorkan ke arah Luna.
Ia pun menganggukan kepalanya dan langsung meminum air putih yang di berikan lelaki baik itu.
"Kau siapa?, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?, kenapa kau begitu baik kepadaku?,kau suamiku...?"
Suaminya,
dia ini mengingatku siapa,apa dia mengingat aku ini adalah lelaki brengsek itu...
Edward terdiam membisu menatap Luna,ia bingung harus berkata apa sekarang, sedangkan menjelaskannya pun ia tidak akan membuatnya mengerti karena amnesia.
"Baiklah jika kau tidak ingin menjawab ku..."Merasa sedih Luna,ia begitu bingung akan dirinya sekarang yang tidak mengingat apapun.
Ia terlihat terdiam menatap perutnya kembali dengan tangannya yang sudah bertumpuan di atas perutnya itu.
__ADS_1
Sesekali ia mengelusnya,ini membuat wajah Edward semakin pias, merasa tidak tega untuk mengatakannya.
Apa lagi ini?,apa dia ingat akan kandungannya,lalu bagaimana jika ia bertanya-tanya tentang kandungannya,aku harus menjawab apa sekarang,
"Kau kenapa lagi?, masih sakit perutnya?"
Menggelengkan kepalanya lagi Luna, sesekali matanya itu mulai melirik ke arah makanan yang tersaji di atas meja dekat gelas air putih tadi.
"Kau lapar yah..?"Dengan senyuman Edward menawarkannya,ia langsung mengambil makanan itu untuk menyuapinya.
Luna masih terdiam merasa bingung dengan semua ini.
Ia masih menatap setiap sudut ruangan sambil memikirkan sesuatu,ia terlihat begitu mengamati sudut ruangan ini yang pernah ia datangi sebelumnya.
Namun ia tetap tidak mengingat apapun, yang ada kepalanya terasa pusing sendiri jadinya.
Syukurlah dia tidak mempertanyakan kandungan tadi, tapi bagaimana ini, kasian jika ingatannya suatu saat akan pulih dan kembali seperti semula,
Aku juga jadi tidak tega melihatnya amnesia begini.
"Makanlah dulu!,apa yang sedang kau pikirkan?, bukankah aku sudah bilang,kau perlu istirahat dan jangan memikirkan apapun yang akan membuat kepalamu pusing..."
Luna menuruti perkataannya dan mulai Membuka mulutnya saat Edward memberinya suapan pertama.
Mengapa ia baik sekali, mengapa dia melihatku seperti itu,
apa aku benar-benar dekat dengannya, apa yang terjadi pada diriku sendiri,apa dengan dia suamiku?,
Begitulah yang terlintas di pikirannya saat ini, karena ia sendiri tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya dan masa-masa yang telah ia lewati dalam waktu dekat ini.
Inilah yang membuatnya begitu bingung,dan terus berpikir, bahkan tragedi kecelakaannya pun ia tidak ingat sama sekali.
"Clekk"Pintu tiba-tiba terbuka dan datanglah seseorang dari arah pintu..
Seseorang yang tampan dan berpenampilan rapi ala dokter dengan jas putih dan alat stetoskop yang ia kalungkan di lehernya.
Ia juga berjalan mendekati keduanya dengan seorang suster yang mengikutinya dari belakang.
Syukurlah dia sudah sadar,apa dia benar-benar amnesia,
Ke-dua tatapan lelaki ini saling bertemu dan saling memberikan sinyal berbagai pertanyaan yang muncul di antara pikiran keduanya masing-masing.
"Dokter.., anda dokter?,anda dokter kan?".
Merasa semakin penasaran lagi dengan kehadiran akan lelaki itu.
ia juga ingin bertanya-tanya apapun yang mebuatnya tidak mengerti saat ini.
"Iyah,aku memang dokter,kau sudah sembuh..?"
"Dia itu siapa?, dia suamiku?"Masih tetap memperjelas pertanyaannya,ia tidak ingin diam sebelum lelaki ini menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Eh..dia malah bertanya seperti ini kepadaku,aku harus menjawab apa sekarang.
"Dia suamiku kan Dok?"