Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Kedatangan Omah


__ADS_3

Sepulang dari kantor Alfian terlihat begitu lemas dan tak bersemangat.


Sementara Swara sedang sibuk merias kukunya.


Melihat suaminya yang sudah pulang membuatnya langsung berbicara tentang apa yang sedang ia .pikirkan sejak tadi.


"Sayang..,kau mengadakan sayembara?,demi Luna?"


"Iyah, kenapa memangnya?"


"Bukankah kau memintaku untuk hadir di hatimu!,tapi kenapa sekarang kau mencari Luna dan menyuruhnya untuk kembali?".


"Karena dia juga istriku kan.., dia istri pertama ku"


"Bukankah kau membencinya?, seharusnya biarkan dia pergi..."


"Aku tidak membencinya,aku hanya salah sangka kepadanya, dan mungkin sekarang aku juga benar-benar mencintainya...."


"Apa?, apa maksud yang kau katakan?, seharusnya kau hanya mencintaiku kan?"


"Seharusnya aku yang bertanya,apa maksud mu ini, kenapa kau bersikap seperti ini?"


"Aku tidak terima jika kau mencari Luna untuk kembali ke rumah ini, biarkan dia pergi,dan kau hanya akan menjadi milikku sepenuhnya"


"Apa yang kau katakan,Luna juga istriku, bahkan dia adalah istri pertamaku, dia sedang mengandung anakku sekarang, apapun itu dia harus tetap kembali, karena dia yang selalu melayaniku dengan baik..."Pergi meninggalkan istrinya begitu saja, hatinya sedang di penuhi dengan kekacauan jadi ia malas untuk berdebat.


"Tapi sayang..sayang...,huek...huek..."Mendengar istri keduanya yang mual membuatnya menyengkrut-kan dahinya.


Bahkan ia sudah memberhentikan langkahnya dan menatap Swara yang sedang mual-mual.


Ada apa dengannya?, kenapa dia mual-mual seperti itu.


"Huek..."


Aduh kenapa aku mual-mual si di saat seperti ini,


"Swara,kau kenapa...?"Mendekati istrinya lagi.


"Aku tidak Papah, tenganlah..,aku tadi habis makan pitza keju mozzarella, Jadi rasanya masih sangat enek di tenggorokan, mungkin aku terlalu banyak memakannya"


"Kau yakin...?"


"Iyah aku tidak Papah,jika tidak percaya kau lihat saja di meja ada pitza keju Mozzarella"


Untung saja beneran ada pitza keju mozzarella,


tapi....belum di makan sama sekali, untuk saja dia tidak berjalan ke arah meja,


jika tidak ada itu aku harus mengatakan apa jika dia terus bertanya tadi...


Setelah melihat suaminya pergi,ia langsung memotong sebagian pitza Mozarella dan memindahnya ke tempat untuk di kasih ke pelayan.


Ya...ya.. anggap saja aku makan segitu banyak.


Apa yang sedang ia tutupi, kenapa ia terlihat pias wajahnya tadi.


*****

__ADS_1


Semua urusan praktek dokternya sudah selesai.Waktu jam kerjanya juga sudah kelar.Edward langsung bergegas pulang ke rumah dengan supirnya yang selalu standby menunggu dan menantinya di setiap harinya.


"Dimana kau membeli beli martabak itu saat bertemu Luna..?,aku ingin membelinya..."


Haha..anda bercanda Tuan Muda,aku belinya di abang-abang gerobak jalanan,anda pasti tidak akan mau,


"Aku beli di pinggir jalan Tuan Muda,dan itu juga jualan gerobakan, memang Anada yakin akan beli...?"


"Jika rasanya enak dan lezat apa salahnya?,aku ingin membelinya.."


Yakin..,


"Baiklah Tuan Muda"


Doni langsung memutar jalan menuju ke tempat martabak yang biasa berlangganan denganya itu.


Memang cita rasa dan khas yang terasa di martabak ini begitu berbeda.jauh dari yang lain.


Dari harganya sendiri terjangkau dan minimum bagi kalangan bawahan seperti kita.


Tapi bagi Tuan Muda harganya murah sekali.


Bahkan tak jarang pula pembeli yang bolak-balik datang membelinya.


"Kenapa rame sekali?,apa martabaknya sangat enak..."


"Tentu saja Tuan Muda,dari berbagai penjual yang pernah aku beli tidak ada yang seenak martabak disini..."


"Kau ini promosi..?"


"Hehe.. siapa yang promosi Tuan Muda,aku hanya menjawab perkataan anda kan.."


"Baiklah Tuan Muda..."


Siapa tahu Luna suka jika di beliin martabak,


sedang apa dia sekarang, kenapa tidak memberi kabar


Menatap layar ponselnya yang tidak ada pesan darinya sama sekali.


"kenapa dia tidak mengirim ku pesan walaupun hanya satu kata saja...?"


"Eh...apa yang aku katakan, bukankah Luna tidak memegang hp.."


Sementara Luna di rumahnya sedang asik bermain dengan Omah,ia juga merasa terhibur dengan kehadiran Omah yang datang ke rumah siang tadi.


"Omah minum dulu yah,omah belum minum sejak tadi..."


Menyodorkan gelasnya dengan lembut dan mencoba menyuapinya perlahan.


Omah terlihat begitu berumur,jalanya saja sangat lambat, bahkan ia perlu memerlukan bantuan dan ada yang menuntunnya dari samping jika berjalan.


"Kau pacar cucuku...?"


Luna terdiam mendengar perkataannya.


Aku harus berbohong lagi ini dengan nenek juga,atau lebih baik jujur saja, lagian Omah baik kayaknya,

__ADS_1


"Omah, apa aku boleh jujur,tapi omah jangan marah yah, sebenarnya aku ini hanyalah teman cucu Omah saja,cucu Omah menolongku karena aku tidak punya tempat tinggal,tapi aku akan segera pergi dari sini ko omah,tenang saja, tapi aku mohon omah jangan marah yah ..."merasa malu sendiri Luna untuk mengatakannya.


"Aahh.. baguslah jika kalian akan segera menikah, Omah senang mendengarnya, semoga kalian bahagia yah nantinya.."


"Hah..?"Terbengong Luna,ia sudah menjelaskan panjang lebar dan sepertinya karena Omah sudah berumur ia sedikit mengalami gangguan pendengaran.


Ah..ya sudahlah terserah, yang penting setelah dua minggu aku akan pergi dari sini.


"Omah lanjutin makannya yah?,ini enak loh omah..."Menyuapi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, entah kenapa setiap kali melihat orang tua Luna selalu merasa sedih dan sayang.


Sementara pengasuh Omah sendiri sedang menuju ke mobil untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal.


"Eh Nona..,sini biar saya saja, nanti gak enak dilihat sama yang lain jika Nona yang melakukan pekerjaan ku.."Dengan cepat ia kembali .


"Tenang saja,aku bukan siapa-siapa disini, lagian aku hanya ingin menyuapi Omah.."


Padahal sejak tadi Edward berdiri di depan pintu masuk,ia sedang memperhatikan Luna dan Omah-nya yang sedang mengobrol.


Senyuman tipisnya pun melintas di bibirnya melihat kelembutan dan kebaikan Luna.


Namun tak lama setelah itu Luna sudah melihat keberadaan Edward yang sudah berdiri di depan pintu.


"Kamu sudah pulang?...."


Menganggukan kepalanya Edward,ia juga langsung berjalan menuju ke arah mereka.


"Aku bawakan hadiah untukmu..."


"Untukku..?"


Apa ini ,


"Buka saja..."


"Ih...kau bawa martabak untukku.., terimakasih..cap..cap..,"Merasa begitu senang dan mengecap-ecap mulutnya sendiri,ia terlihat senang sekali.


"makalah,kau pasti disini tidak enak makan kan?"


"hehe..."Terseyum malu."Apa ini?"Berhenti terseyum setelah melihat satu kotak benda untuknya.


"Itu untukmu, pakailah..!, jangan lupa mengabariku di saat kau merasa bosan,dan jika kau membutuhkan sesuatu kabari aku saja..."


"Iya baiklah, terimakasih banyak.."Terseyum menatap Edward.


"Kalian berdua sangat romantis,Omah senang melihatnya, Calon istrimu sangatlah cantik Edward...."


"Hm?,.iya.. iya Omah.. hehe"Bingung harus berekspresi seperti apa.


"Istirahatlah di kamar, makanlah dulu,kau jangan terus beraktifitas..."


"Aku tidak melakukan apapun seharian,tapi baiklah, terimakasih atas martabaknya.."


Ya ampun senangnya sampai begitu,itu baru martabak, bagaimana jika aku kasih rukonya,


Lucu juga ya orang ngidam..,


"Mamah dimana Omah?, kenapa tidak ada disini..."

__ADS_1


"Ibumu sedang pergi,ia juga belum kembali sejak tadi"


Luna masih tersenyum di dalam kamarnya, terlebih hp baru yang di berikan Edward kepadanya adalah hp termahal dan tingkatan teratas.


__ADS_2