Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Salah paham


__ADS_3

"Sayang..hey, bangunlah"


Edward berusahalah untuk membangunkan istrinya.


Sementara istrinya langsung berkutik dan membuka matanya lebar-lebar setelah di bangunkan itu.


Lalu melihat suaminya yang sudah tampan memakai baju tidurnya.


"Edward, kamu sudah pulang?"


"Aku baru pulang"


"Jam segini?"


"Iyah, maafkan aku sayang aku membuatmu menunggu"


"Kenapa kamu tidak membalas pesanku?"


"Aku tidak sempat memegang ponsel, karena tadi ada pasien koma setelah menjalani operasi,aku menjadi sangat panik dan berusaha untuk memutar otakku agar aku bisa menyelamatkannya"


"Baiklah,aku harap itu alasan yang sebenarnya"


Luna terlihat sangat cuek dengan raut wajah datarnya itu.


Ia bahkan langsung berdiri dan meninggalkan suaminya di ruangan itu.


"Luna maafkan aku,aku tahu kamu ngambek, kamu marah karena aku tidak sempet membalas pesan mu kan?"


"Apa gunanya ngambek tanpa alasan,aku terima alasanmu kali ini, karena aku juga heran, kamu tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya,aku harap kamu bersikap jujur"


Ya ampun kenapa istriku terlihat marah sekali padaku?.


Ya Tuhan maafkan aku telah mengecewakan istriku,aku benar-benar tidak pernah melihatnya bersikap seperti ini sebelumnya.


"Luna.."


Luna terus berjalan ke lantai atas menuju ke kamarnya.


Ia tidak ingin berbicara lagi dengan suaminya, walaupun sebenarnya ia mendengar panggilan dari suaminya itu.


Tapi Edward juga terlihat menyusulnya ke dalam kamar.


Luna terlihat sudah berbaring di atas ranjang berbalut selimut yang hangat itu.


"Kamu langsung mau tidur?"Edward juga naik ke atas ranjang berdampingan dengan istrinya.


"Hem"


Hanya itulah jawaban Luna sekarang.


"Aku tahu kamu marah kepadaku, mohon maafkan aku sayang"


"Sudah tidurlah,ini sudah malam"

__ADS_1


Aku tahu istriku sedang hamil, makanya dia sensitif sekali,aku harus meluruskan kesalahpahaman ini.


"Aku tahu kamu marah karena aku lupa mencium mu tadi pagi kan?"


"Hem"


Lagi-lagi itu jawaban Luna. Sepertinya ia memang ngambek dengan suaminya.


"Muach.."kecupan hangat di kening istrinya yang sedang tidur itu.


Tidak ada reaksi dari Luna.


Baginya kecupan itu hanyalah rayuan semata.


"Muach.."Edward mengecupnya lagi seraya berkata lembut. "Jujur saja, aku merasa bersalah kepadamu karena aku sangat sibuk hari ini,tapi bukan berarti aku tidak peduli denganmu Luna. Kau USG bersama Mama kan?,lalu bagaimana hasilnya?, anak kita baik-baik saja kan?"


"Tenanglah,anak kita baik-baik saja"


"Laki-laki atau perempuan?"


"Rahasia,salah sendiri tidak menemaniku USG"


"Iya maaf sayang,aku benar-benar ingin pulang untuk menemanimu USG tadi, tapi aku tidak bisa,aku benar-benar tidak bisa, maafkan aku"


"Sepenting itukah hal rumah sakit?, sehingga kepentingan istrimu kamu tinggalkan"


"Iya ampun Luna,apa yang kau katakan?,demi Tuhan aku tidak pernah ingin melakukan hal seperti ini, apalagi kau sedang hamil. Mengertilah satu hal.."Edward terlihat terdiam lama.


Bahkan matanya sudah berkaca-kaca menatap punggung istrinya yang terus membelakangi itu karena marah.


"Aku gagal melakukan operasi dengan benar,pasien yang ada di tanganku telah meninggal dunia,aku gagal menyelamatkannya,aku benar-benar merasa bersalah akan ini.."


Edward terlihat sedih sekali.


Memang yang mengatur dan mengendalikan segalanya adalah sang pencipta itu sendiri.


Seberapa kuat kita berusaha jika memang Tuhan tidak ridho,maka semua itu tidak akan terjadi dan bahkan sia-sia.


Seberapa kuat Edward berusaha dengan rekan-rekan dokter lainnya jika memang pasiennya di takdir kan untuk kembali,maka ia tetap akan kembali.


"Apa.."


Luna langsung berdiri dari tidurnya.


Lalu menatap suaminya yang bahkan hampir menangis.


Tapi pada akhirnya berderai juga air matanya karena sedih sambil menatap Luna lekat.


"Makannya aku sangat sibuk hari ini. Aku sibuk mengurusi dan mengobatinya agar ia mampu bertahan hidup,tapi hasilnya nihil,aku bahkan tidak sempat mengabarimu Luna, karena aku panik bersama rekan-rekan dokter lainnya mengurus operasi ini,aku mohon maafkan aku.. hiks.. hiks"


Malah semakin menjadi tangisan Edward.


Luna terlihat berkaca-kaca dan langsung memeluk Edward lekat.

__ADS_1


Ia merasa bersalah karena telah berburuk sangka kepada suaminya.


"Maafkan aku Edward,aku mohon maafkan aku"Luna ikut menangis. Ia merasa begitu bersalah karena telah bersikap seperti ini kepada suaminya.


Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan,aku bahkan berburuk sangka kepada suamiku sendiri dan mengira-ngira yang tidak-tidak, maafkan aku ya Tuhan.


"Jangan marah Luna,aku tidak ingin kau bersikap kepada seperti ini,aku tidak bisa"


"Iya.. iya.maafkan aku,aku sungguh minta maaf sayang, aku tidak mengerti akan perasaanmu yang sekarang, tenanglah..."


Edward masih menangis di pelukan Luna, entah apa yang membuatnya menangis,ia terlihat begitu sangat sedih malam ini.


"Apa yang membuatmu menangis seperti ini?,apa aku benar-benar membuat mu sedih,aku minta maaf Edward?"


"Aku hanya sedang merasa bersalah Luna"


"Edward...,di dalam hidup ini tidak ada yang bisa mengatur dan memegang tentang kematian seseorang, bukankah semuanya ada di tangan yang maha kuasa"


"Iya sayang aku tahu, aku hanya merasa sedih saja"


Ya Tuhan aku benar-benar melakukan kesalahan besar hari ini,aku benar-benar tidak pernah melihat suamiku sampai sesedih ini sebelumnya, maaf aku..


"Apa yang begitu membuatmu sedih Edward,aku juga minta maaf yah karena sikapku tadi"


"Pasienku tadi anak kecil,ia terlihat sangat lusuh dan kurus, bahkan ia sebatang kara. Jikalau aku tahu dari dulu tentangnya aku pasti sudah mengadopsinya dari dulu untuk tinggal bersama kita. Ia terlihat kasihan sekali.ia hanyalah seorang pemulung rongsokan. Dokter Adi menemukanya di jalan, ia korban tabrak lari, tidak ada yang menolongnya...ih.. hiks..hiks,aku tidak bisa membayangkannya Luna, kasihan sekali.."


Edward benar-benar terlihat seperti seekor kucing yang habis kehujanan dan kedinginan.


Ia terlihat sedih dan terpukul sekali.


Ia bahkan terengah-engah untuk melanjutkan bicaranya.


Hidungnya bahkan terlihat basah karena efek menangis itu.


Luna dengan perhatian sambil berderai air mata mengusap air mata suaminya setelah mendengar penjelasan itu.


"Lalu bagaimana dia sekarang?"


"Saking sibuknya aku hari ini,aku mengurus pemakamannya juga, karena kasihan dia,jika tidak kita lalu siapa yang akan menolongnya?aku hanya terbayang-bayang akan wajahnya sayang,dia sangat imut, tampan sekali,dia bahkan baru berumur sekitar 7 tahunan"


"Ya ampun, pantaslah kau sangat sibuk jika kau mengurus pemakamannya juga"


Edward masih berderaian air mata.


Ia terlihat seperti seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya yang tersayang di mata Luna.


"Kau tahu setelah ia sadar ia berpesan apa kepadaku sebelum pergi. Ia berpesan seperti ini. Sangat mulia sekali ucapannya; Dokter terimakasih untuk waktunya, tetaplah jadi orang yang bermanfaat walaupun kita tak selamanya di anggap ada"


"Iya ampun,ia manis sekali"


"Ia juga meninggal sambil tersenyum,aku benar-benar merasa kehilangannya Luna,aku juga tidak tahu dia siapa, tapi aku merasa kehilangannya..."


"Sabarlah sayang,aku tahu akan perasaan mu ini, pasti surga lah tempat terbaik untuknya"

__ADS_1


"Aammiin"


Begitulah kehidupan, janganlah kita terlalu berburuk sangka terhadap suatu hal, keren itu tidak baik untuk kenyamanan hati kita sendiri.


__ADS_2