
Suapan demi suapan telah berlalu.
Piring pun sudah terlihat kosong,Swara dengan cepat menghabiskan makanannya dari tangan suaminya itu.
Kira-kira apa yang akan dia katakan kepadaku?, kenapa dia terlihat serius sekali..,
Tatapan Swara sudah tertuju ke arah suaminya yang kini sama-sama menatapnya.
Ia sedang menantikan apa yang akan keluar dari mulut suaminya itu.
"Kau sudah melahirkan,dan kau juga sudah menjadi ibu sepenuhnya sekarang, selamat Swara atas kelahiran putrimu..."
"Hah..?,hehe.." Merasa semakin bingung dengan sikap dan perilaku Alfian kali ini,ini membuatnya merasa aneh namun sedikit senang.
Ternyata anak yang dilahirkan Swara adalah seorang putri.
Apa dia akan menerimaku sepenuhnya sekarang.
Masih hening di dalam ruangan ini,mata Swara tak berkedip menatap suaminya yang akan melanjutkan bicaranya.
"Untuk itu kau harus tahu kalau aku sudah mengajukan permohonan perceraian tentang pernikahan kita sekitar satu bulan yang lalu, tapi aku masih menundanya sampai saat ini,dan aku juga akan melanjutkan gugatan cerai setelah kau melahirkan.., maaf Swara,aku tidak bisa terus bertahan denganmu.."
Entah sudah berapa derai air mata yang Swara jatuhkan ke pipinya. Ia masih terbelalak tanpa bergeming mendengar perkataan suaminya yang terus terang kepadanya.
Bibirnya terasa kaku untuk membuka suara, karena air mata ini telah lebih dahulu menguasai suasana untuk membungkam akan dirinya.
"Aku tidak ingin menyakitimu terus menerus dengan sikapku yang selalu jutek kepadamu,aku juga ingin kau hidup bahagia dan berhak bersama yang lain yang menyukaimu sepenuhnya,aku juga tidak bisa memaksakan diriku sendiri untuk ini,aku sudah mencobanya dan aku tidak bisa,aku tetap akan menceraikan mu Swara, karena aku tidak mencintaimu,aku sungguh tidak bisa memaksakan akan perasaan..."
"Inikah pemberianmu untukku?, inikah balasanmu?,aku sudah memberikan segalanya untukmu Alfian,tapi apa,begini-kah caramu?"
"Aku bukan hanya sekedar menerima segala pemberianmu begitu saja kan,aku bekerja mengurus perusahaan, dan aku yang menjalankannya, kini sudah cukup bagiku,aku akan memberikan semuanya kembali untukmu, jadi bersiaplah untuk berpisah denganku"
"Memang apa kurangnya aku Alfian?,apa segalanya yang aku miliki itu kurang untukmu.?"Sambil mengusap air matanya sesekali.
Swara terlihat begitu sedih. Dia baru saja melahirkan,tentunya suasana hati dan perasaannya masih melayang-layang entah kemana.
Di tambah lagi dengan perkataan Alfian, membuat suasana hatinya begitu buruk sekarang.
"Kau lebih dari kata kurang Swara,kau memiliki segalanya dari paras maupun kasta, untuk itu aku jauh darimu,aku tidaklah pantas untukmu, aku tetap akan menceraikan mu.."
"Tak usah berbelit-belit, kenapa kau ingin menceraikan ku?, bukankah aku lebih dari apa yang kau katakan tadi, seharusnya kau bersyukur memilikiku bukan?"
"Hanya satu jawabanku, karena aku tidak mencintaimu Swara,aku hanya bingung dengan dirimu selama ini, sebenarnya dimana ayah dari anak itu, kenapa kau tidak menikah dengannya?, Kenapa kau tidak menyuruhnya untuk bertangungjawab,dan kenapa harus aku yang kau inginkan?"
Swara terdiam,Ia terlihat merenung dan semakin menangis berderaian air mata.
__ADS_1
Entah apa yang ia pikirkan,ia terlihat begitu sedih dan lemas.
"Kau tidak menjawab ku?, dimana bapaknya, Kenapa kau hanya terdiam?"
"Aku tidak tahu"menjawab singkat dan datar.
"Apa?,kau tidak tahu, omong kosong macam apa ini Swara,aku bertanya sangat serius,jadi jangan bermain-main!..."Mendengar jawabannya yang terdengar main-main membuat Alfian merasa kesal sendiri sekarang.
Bahkan raut wajahnya sudah terlihat kusam dan masam.
"Aku benar-benar tidak tahu, waktu itu keadaan diriku sedang mabuk dan tidak sadar,aku tidak tahu melakukan hal ini dengan siapa,aku pikir hal ini tidak akan terjadi pada diriku, tapi itu terjadi begitu saja tanpa kesadaran.."
"Tapi bagaimana kau bisa seperti ini,kau tidak sadar?,kau sedang mabuk?..."
"Iyah, waktu itu aku sedang tidak sadarkan diri,aku pergi ke bar untuk mencari ketenangan dan kenyamanan di sana,tapi malah seperti ini yang aku dapatkan"
"Mencari ketenangan dan kenyamanan bukan disitu tempatnya,kau salah besar Swara,kau sendiri yang mengambil langkah ini,dan kedepannya kaulah yang harus menghadapinya sendiri,aku tetap akan pergi, maafkan aku.."
Langsung berdiri dari duduknya,Alfian benar-benar serius dan mantap dengan keputusannya.
"Kamu mau kemana?"
"Aku ada urusan sebentar,aku harus pergi"
Tepat saat ini juga ibunya Swara masuk ke dalam ruangan ini.
Kemudian Alfian keluar begitu saja setelah melihat ibu mertuanya masuk,ia hanya menyapa sekilas dan menganggukan kepalanya sopan seraya pergi.
"Sayang, Alfian mau kemana?"
"Dia ada urusan sebentar Ma.."
"Kau kenapa sayang,kau habis menangis?"
"Tidak mah,aku hanya bahagia persalinan ini berjalan dengan baik,aku hanya khawatir dengan anakku saja.."
"Tenanglah,anakmu pasti baik-baik saja"
******
"Pagi sayang..."
Luna sudah lebih dulu bangun dari tidurnya.
Ia menatap suaminya lekat sambil memainkan pipinya dengan jemari tangannya.
__ADS_1
Edward pun sudah bergerak dari tidurnya karena terganggu.
Dengan senyuman ia langsung membekap Luna di dalam dada karena memeluknya.
"Pagi juga sayangku, kenapa kau berani menganggu tidurku hah?, sudah mulai berani yah?, muach.."
"Siapa yang berani?,aku hanya ingin membangunkan mu,ini sudah siang,kau harus siap-siap ke rumah sakit kan?"
"Hey dengarkan!, Kerja mulu, istirahatnya kapan?,hehe...aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu untuk beberapa hari ini,kita akan berlibur dan jalan-jalan,apa kau tidak ingin berbulan madu denganku hah?"
"Bulan madu,kapan?, secepatnya?"Beranjak dari dada suaminya,ia merasa tidak percaya dengan ucapan suaminya itu.
"Iya tentu saja, besok pagi kita sudah berangkat untuk berlibur dan bulan madu,kau senang kan?"
"Tentu saja, asalkan bersamamu sayang.."
"Cantik banget si kamu kalau habis bangun tidur hah?"Edward mencubit pipi kirinya.
"Hehe..."Dengan rona wajah merona karena malu dan bahagia,ia kembali memeluk suaminya erat.
Sekitar satu jam berlalu keduanya sudah sangat rapi.
Sepertinya mereka berdua akan pergi keluar untuk makan berdua sekaligus mencari udara segar.
Mama dan Papa Edward sedang duduk bersanding menikmati pagi hari yang cerah di teras rumah.
Melihat menantu dan anaknya yang bergandengan tangan membuat keduanya terseyum lebar juga ikut bahagia.
"Kalau melihat mereka berdua sedekat itu?, sepertinya kita akan segera punya cucu Sayang.."Membelai kepala istrinya dengan penuh kelembutan di pagi hari yang hangat ini.
Nada bicaranya lebih menuju ke sindiran saat mereka lewat, namun keduanya tentu saja mendengar hal itu dan akan berpamitan dengan rona wajah malu mereka karena mendengar perkataan sang Ayah.
"Pa,Ma,kita keluar dulu yah,mau cari angin..."
"Angin kok di cari,kau saja bernafas dengan angin disini Edward.."
"Hehe.."Edward terseyum sendiri mendengar perkataan sang Ayah.
"Sudah, Pergilah, bersenang-senanglah kalian berdua.."
Tersenyum lebar penuh dengan restu untuk kebahagiaan keduanya.
"Jaga istrimu dengan baik Edward.."
"Pastinya Pa..."
__ADS_1
Keduanya langsung pergi untuk bersenang-senang dan berjalan-jalan hari ini.