
Swara sudah terbaring di ranjang rumah sakit, setelah melihat istrinya pingsan Alfian langsung membawanya ke rumah sakit begitu saja.
Sebenarnya Tuan besar sendiri sudah melarangnya untuk membawanya pergi ke rumah sakit, Namun Alfian tidak menghiraukan perkataanya,ia tetap membawa istrinya ke rumah sakit.
Dokter sudah selesai memeriksanya, panasnya juga sangat tinggi, ia belum sadar dari pingsanya.
"Bagaimana keadaan istriku Dok,dia kenapa, dia sakit apa?"
"Istri anda tidak papa Tuan Muda, mungkin ia hanya banyak pikiran dan memang rasa pusingnya ini sepertinya juga karena pengaruh kehamilannya juga"
"Apa, hamil?"
"Iya Tuan Muda,Semuanya sudah saya periksa Tuan Muda,baik denyut nadi,dan darahnya juga normal, sebentar lagi ia juga akan segera sadar"
Kenapa dia cepat sekali hamil..,
"Kira-kira umur kandungannya berapa lama Dok?"
"Kira-kira umur kandungannya sudah hampir menginjak 9 minggu Tuan Muda,jadi aku harap perhatikan aktifitas dan kesehariannya karena ia sedang hamil muda, agar tidak terlalu stres dan banyak pikiran"
"Apa...9 minggu?, apa dokter salah menghitung?"merasa tidak mungkin dan bingung sendiri Alfian mendengar kabar ini,ia benar-benar tidak percaya akan ini.
"Hah..?,tidak mungkin Tuan muda,saya memprediksinya dengan alat dan dari seberapa besar benih janin yang ada di kandungannya,jadi kemungkinan sangat kecil untuk salah dalam masalah ini Tuan Muda"
Bagiamana bisa kandungannya berumur 9 minggu, sedangkan aku saja baru menikahinya kurang lebih sekitar 4 minggu.
Tuan Muda terdiam begitu lama,ia terlihat begitu marah menatap istrinya yang masih terbaring itu.
"Baiklah, terimakasih atas informasinya Dok"
"Sama-sama Tuan Muda, saya permisi..."
Masih melotot tajam menatap istrinya,ia benar-benar masih tidak percaya dengan semua ini.
Bahkan tangannya sudah terlihat mengepal karena marah dan tidak terima.
Mungkin sekitar sepuluh menit berlalu, akhirnya Swara berkutik dari pingsanya, jari-jari tangannya mulai bergerak dan menandakan kalau ia akan segera sadar.
Kemudian menatap langit-langit ruangan ini yang terlihat begitu asing baginya.
"Hah..aku dimana?, kenapa aku ada disini?"
"Kau sudah sadar, baguslah.."Melotot tajam menatap istrinya..
Kemudian tangan Swara langsung menggapai tanganya untuk mengajaknya berbicara.
__ADS_1
"Sa.. sayang..,i..ini dimana?"
"Tak usah bertanya,kau sedang hamil..?,kau sedang hamil kan?"Menatap sinis istrinya.
Apa dia benar-benar sudah tahu, kenapa tadi aku harus pingsan si,
"Sa... sayang a..aku.."
"Apa?, katakan sekarang!,kau sedang hamil?"Semakin terlihat tegas dan serius saat bertanya.
"I..iya sayang,aku memang sedang hamil"
"Anak siapa yang kau kandung?"
"A.. anak..anak siapa, anak kamu lah sayang.."
"Cih...."menepis tangan istrinya karena tidak percaya."Katakan!,anak siapa yang kau kandung,aku baru menikahi mu 4 Minggu bukan, bagaimana bisa kehamilan mu sudah hampir 9 minggu, maksudnya apa itu?,apa maksudnya?, anak siapa yang kau kandung?"
Terlihat begitu marah sambil meletakkan kedua tangannya di pinggangnya itu.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika kau adalah wanita sepicik ini"
"Mas Alfian aku bisa jelasin semuanya mas, sebenarnya aku.."
"Iyah... dia memang bukan anakku"Menjawab datar menatap suaminya pias.
"Kau.."Tidak bisa berkata-kata lagi Alfian,ia ingin sekali menamparnya.
Hanya genggaman tangannya yang sudah mengepal karena kesal itu.
"Maafkan aku,aku sudah menyembunyikan hal ini darimu, aku.. aku.."
"Kau berani menikah denganku, dengan keadaanmu yang seperti ini..,apa maksud semua ini,kau memanfaatkan ku untuk menikahi mu karena kau sedang hamil anak orang ya kan?"
"Tidak, tidak sayang, bukan begitu aku..aku memang mencintaimu,aku benar-benar mencintaimu.."
"Cih, mencintai kau bilang!, bilang yang sejujurnya!,kau menikahi ku karena apa?, karena bayi ini kan, iya kan?,iya kan?, jawab!"
Teriakan marahnya sudah menggelagar kemana-mana.
Ini membuat Swara takut dan mulai menangis .
Sementara Tuan besar sudah menebak akan hal ini, Alifian pasti akan begitu marah jika mengetahui hal ini nantinya.
Mendengar suaranya itu sudah membuatnya bergegas memasuki ruangan itu.
__ADS_1
"Tidak mas..,tidak mas Alfian, aku... aku.. hiks.. hiks..aku mencintaimu,aku benar-benar mencintaimu,aku sungguh mencintaimu mas Alfian..."
"Menjijikan!, mendengarnya saja sudah membuatku gila, jangan harap aku akan mencintaimu"
"Mas...mas Alfian"
Alfian begitu marah dan akan pergi meninggalkan ruangan ini, sementara Tuan Besar yang sudah masuk ke ruangan langsung mencegat kepergiannya.
"Kau mau kemana Alfian?,kau mau meninggalkan putriku, apapun itu dia adalah istrimu sekarang"
"Maaf Pah, putri anda sudah kelewatan,aku benar-benar tidak menyangka ini"
"Kejadian ini sebelum ia menikah denganmu kan, putriku juga sudah sangat mencintaimu, lagian semuanya sudah aku berikan kepadamu,kau hanya bertugas sebagai seorang suami yang baik untuk putriku, sudah itu saja.., tidak lebih, segala alih perusahaan sudah aku berikan kepadamu,lalu apa lagi yang kau mau untuk menerima putriku?...."
"Oh...jadi Anda pikir aku akan menerima putri anda dengan semua kekayaan ini, dengan mudah dan gampangnya Anda berpikir seperti ini?.., dimana Ayah anak itu?, kenapa anda tidak mencarinya untuk menikahi putri Anda?"
"Putriku hanya menginginkanmu Alfian,dia tidak menginginkan lelaki yang lain"
"Cih apa lagi ini?,hanya menginginkanku?,lalu bagaimana bisa hal sepicik ini ia lakukan dengan orang lain?, tidak masuk akal..,hanya orang gila yang mampu memahami hal ini"Langsung pergi meninggalkan ruangan ini.
"Alfian.. Alfian...,aku yakin kau akan menyesal nantinya jika kau sampai berani meninggalkan putriku.."
Tidak di hiraukan-nya,ia pergi begitu saja dari tempat ini karena merasa begitu marah.
"Papah...hiks..hiks.."Semakin menangis tersedu-sedu, sementara Tuan Besar sendiri langsung berusaha menenangkan putrinya dan memeluknya hangat.
"Tenganlah,pecarlyalah pada Papah sayang, Alfian tidak akan berani meninggalkanmu..., dia hanya sedang marah, setelah marahnya reda Papah akan mencoba berbicara dengannya,kau tenanglah,tak usah khawatir...."
"Tapi Alfian terlihat sangat marah Pah,ia bahkan sangat membenciku sekarang,ia pasti pergi akan mencari Luna dan akan kembali denganya,Swara harus bagaimana Pah,mas Alfian pasti akan...."
"Tenganlah.., tenang sayang, jangan berpikiran macam-macam, Alfian akan kembali dan terus bersamamu bukan dengan wanita itu, percayalah pada Papah.."
Alfian,kau tidak boleh pergi begitu saja dari putriku, apapun itu kau harus kembali dan bersama putriku.
Aku tidak akan membiarkanmu kembali dengan wanita itu lagi.
*****
Alfian berjalan menuju ke arah mobil dengan begitu kesal, lalu ia segera menghidupkan mobilnya dan langsung tancap gas pergi dari tempat ini dengan keadaan marahnya itu.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini, pantas saja dengan mudahnya keluargamu menyuruhku untuk memimpin perusahaan dan menikahi mu,apa hanya karena ini,apa hanya karena ini swara melakukan hal ini, sungguh picik..,aku sudah gila dengan semua ini, kenapa aku menelantarkan istriku sendiri yang sedang hamil entah kemana, dan kenapa aku malah menikahi orang yang sedang mengandung anak orang, kenapa...?, dasar bodoh, seharusnya aku mikir dari awal, seharusnya hati ini tak pendendam, kenapa jadi seperti ini,apa yang harus aku lakukan...apa yang harus aku lakukan sekarang?,apa?,Luna..kamu dimana."Memberhentikan mobilnya dan Menyenderkan kepala begitu saja di setir mobilnya itu.
Mencaci maki dirinya sendiri, perasaan dan keadaan pikiranya saat ini benar-benar tidak karuan dan begitu kacau.
Rasa rindu ingin bertemu Luna juga semakin besar dan membara.
__ADS_1