Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Belajar Memasang Dasi


__ADS_3

Hari berlalu bergitu cepat.


Keadaan Luna sendiri memang belum terlalu pulih, namun sudah lebih baik dari hari sebelumnya.


Perban di tangannya juga masih melekat dengan erat untuk membantu kepulihan-nya.


Ia sedang terdiam menatap lelaki yang sedang sibuk mempersiapkan alat medisnya untuk menangani para pasien seperti biasanya.


Dia seorang dokter,tapi kenapa dia baik sekali,dia berbeda dari dokter yang lain,dia juga sangat tampan,


Tersenyum sendiri Luna menatap lelaki itu,ia hanya bisa mengaguminya dari kejauhan.


Kira-kira suamiku yang ia maksud itu seperti apa, kenapa ia tidak datang juga sejak kemarin,apa ia sudah melupakan ku, kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali,


"Apa yang kau pikirkan?, bukankah aku sudah bilang kau itu harus istirahat dengan cukup dan jangan terlalu banyak pikiran, katakan..!,ada sesuatu yang kau inginkan?"


Menggelengkan kepalanya Luna, lelaki ini terlihat seperti malaikat baginya.


"Kau mau bekerja yah?,apa kau juga akan keluar dari ruangan ini...?"


"Iyah, kenapa?, kau takut sendirian?,mama akan segera datang menjenguk mu kemari..."


"Mama,mama siapa?"


"Mama aku, maksudku ibuku, dia akan kemari menjenguk mu, tenanglah kau tidak akan sendirian nanti..."


"iya iya baiklah..."


Tak lama kemudian Ibunya Edward pun datang dan sudah masuk ke dalam ruangan ini


"Edward..."


"Mama, syukurlah mama sudah datang kemari,aku harus segera menangani pasien.."


"Semangat kerjanya sayang!"


"Iya mah.."


Tersenyum menyemangati putranya dan mendekat ke arah Luna."Luna...kau sudah sadar?"


"Sudah mama,e'... maksudku Tante.."


"Tak apa sayang jika kau ingin memanggilku mama, panggil saja aku mama..."


"Mama,emang boleh?"


"Iya tentu saja boleh.."Terseyum manis menatap Luna yang sedang bingung itu.


"Lalu dimana mama ku?, maksudku ibuku?..."


Mendengar percakapan Ibu dan Luna membuat Edward segera mengirim pesan untuk ibunya lewat ponsel.


"Tolong mengerti keadaan Luna ma,ia sedang amnesia, beri ia penenangan dan pengertian.."


"Sabar sayang ia belum datang,mungkin bentar lagi ia akan datang kemari"membelai rambut Luna dengan lembut, dan mengetik layar ponselnya kembali,"Bagaimana ini Edward,kau tahu dimana keluarganya sekarang?.."

__ADS_1


"Tidak ma,aku juga tidak tahu,tapi aku akan segera mencari tahu dimana keberadaan mereka nanti"Begitulah balasan Edward yang merasa bingung juga dimana tempat tinggal keluarganya Luna.


"Cepat cari tahu Edward!, bila perlu jemput mereka kemari, mereka pasti sangat mencemaskan-nya.."


"Iya mah, secepatnya aku akan mencari tahu"Mematikan ponselnya dan segera keluar dari ruangan ini untuk menangani pasien.


"Suamiku juga belum datang?"


Kasian sekali Luna, yang selalu ia ingat hanyalah kata suami, mungkin ini pasti akibat rasa sakit dan kurangnya kasih sayang yang suaminya berikan selama ini.


"Dia masih sibuk sayang, mungkin jika sempat dia juga akan segera kemari..."


"Oh... gitu"


Kenapa mereka semua tampak aneh sekali, kenapa mereka hanya bilang suamiku sedang sibuk,


Aku benci suamiku,aku benci karena ia tidak memperdulikan ku di saat keadaanku yang seperti ini.


Kemudian suster datang membawa meja dorongnya dengan beberapa makanan yang tersaji di atasnya.


"Wah... waktunya makan Luna,kau harus minum obat kan?"Berbicara sambil duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya ini.


"Silahkan Nona, semoga cepat pulih, Nyonya...,saya permisi..."


"Terimakasih sus.."


"sama-sama..."


"Luna sekarang makalah yang banyak!,kau harus segera minum obat"


"Sebenarnya kalian semua ini siapa?, kenapa kalian semua begitu baik kepadaku...?"


"Luna... tak usah berpikir macam-macam,anggap saja kita ini adalah keluarga mu,tenanglah, ayo makanlah dulu sayang...!"


"Iya..ma,e'...Tante.."Merasa tidak enak sendiri dengan ucapannya, karena ia juga tidak mengenal wanita ini yang ada di hadapannya.


Keduanya seharian berada di dalam ruangan ini sambil menonton film untuk menghibur diri dan menghilangkan rasa bosan.


*****


Dengan rasa terpaksa Swara harus menyuruh beberapa anak buah Papa-nya untuk segera membantunya menemukan keberadaan Luna saat ini.


"Cek data-data pasien di seluruh rumah sakit yang ada di kota ini!, cari tahu dimana keberadaan Luna sekarang!, harus ketemu dan secepatnya!, kalian mengerti kan apa maksud ku?"


"Mengerti Nona..."menundukkan kepalanya seperti biasa.


Hanya saja Nona muda tidak mempunyai pikiran jika kita di suruh mengecek seluruh rumah sakit, kapan kelar dan ini benar-benar seperti kurang kerjaan saja..,


"Sekarang!, kenapa kalian masih terdiam?"


"Tapi kan nunggu keputusan Tuan besar Nona"


"Tak usah menunggu,biar aku yang berbicara, laksanakan tugas kalian sekarang!"Berbicara dengan sangat kesal dan gregetan, karena


terbawa suasana dengan permintaan suaminya yang tidak di inginkannya ini.

__ADS_1


"Baik,kami akan segera bertugas Nona..."


Mereka semua langsung berangkat.


Sementara suaminya juga sudah berpakaian rapi dengan kemeja dan jas-nya.


Sepertinya ia juga akan segera berangkat ke kantor.


"Pasangkan dasi ku!"Berbicara datar tanpa menatapnya,namun sembari memberikan sebuah dasi agar ia dapat memakaikannya.


"Aku..?"


"Iya, siapa lagi, akankah tembok..?"


Kenapa dia ketus sekali sekarang, bisakah lembut sedikit saja,


Swara terdiam menatap suaminya,


Ia juga tidak tahu bagaimana caranya memasangkan dasi.


"Tapi aku.."


"Tidak bisa..?"menatap sengit istrinya."Iya sudah.."Merebut dasi itu dari tanganya dan segera berangkat begitu saja,ia juga terlihat menampakan kekesalannya karena bermuka masam sambil memasuki mobilnya.


"Alfian..,aku akan belajar memasang dasi untuk mu..."


Tidak di hiraukan olehnya,ia berangkat begitu saja ke kantor,ini membuat hati Swara merasa begitu kesal dan ingin sekali menangis.


Segitu bencinya ia kepadaku sekarang, lihat saja kau pasti akan menjadi milikku sepenuhnya Alfian, dasar menyebalkan...


Menggerutu sambil berjalan memasuki ruangan untuk mengambil iPad-nya.


Ia mulai melakukan pencarian tutorial dan cara-cara memasang dasi yang baik dan benar.


Hanya masalah dasi saja dia begitu kesal, dasar menyebalkan,


Ia begitu mengamati video tutorial yang ada di YouTube itu, namun ia juga memerlukan seseorang untuk membantunya dalam mempraktekkan cara memasang dasi.


Kemudian ia memanggil salah satu pelayan yang ada di rumahnya itu untuk membantunya cara memasang dasi.


Kelihatannya Swara benar-benar mencintai Alfian,ia bahkan tidak mau menyerah untuk mendapatkannya.


"Mba ini gimana si caranya, kenapa tidak se-rapi yang ada di video.."


Ya ampun Nona perasaan gampang banget...


"Sini Nona biar aku ajari, begini Nona posisikan di dua sisi yang berbeda, yang satu panjang dan yang satu pendek, kemudian putar ke salah satu sudut yang anda inginkan baik ke kana maupun ke kiri, masukan ke ruas tengah ini dan bla..bla...."Menjelaskan dengan sangat lembut.


Pelayan itu mengajari Nona mudanya dengan baik dan perlahan, namun Swara tetap terdiam berpikir.


"Kenapa rumit sekali si, susah.."


"Baiklah,kita ulangi lagi ya Nona..."


Dengan sabar pelayan itu mengajari Nona mudanya lagi sampai bisa memasang dasi dengan rapi.

__ADS_1


Semangat ya Swara agar kau bisa merebut hati suamimu yang sedang berada di ambang kebencian itu.


__ADS_2