Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Melamar


__ADS_3

Seorang pemuda tampan berkemeja dengan jas yang ia pegang sedang merasa sangat kesal sambil bertelepon dan berjalan kesana kemari.


Sepertinya ia sedang menunggu kedatangan seseorang dengan tidak sabar.


Untung saja aku memakai sabuk pengaman,jika tidak aku pasti akan terbentur tadi...,


"Aku sudah terlambat, seharusnya meeting ku sudah mulai sejak tadi"


Tak lama kemudian Luna terlihat muncul mengikuti langkah seorang polisi yang sedang mengantarnya ke ruangan di mana Edward di rawat itu.


Mata Demian sudah tertuju ke arah datangnya wanita itu.


Ia masih menyengkrut-kan dahinya merasa tidak asing dengan orang itu.


Luna,


Begitu pun Luna merasa kaget dengan hadirnya lelaki itu yang sedang berdiri di depan ruangan di mana Edward di rawat saat ini.


"Kau..."Luna menatap sinis lelaki ini. Ia merasa amat sangat malas untuk bertemu dengannya lagi.


"He'h, ternyata jodoh itu gak akan kemana ya,tak usah di cari pun ia akan muncul dengan sendirinya.."


Sengit lelaki itu langsung.


"Apaan sih,apa yang kau lakukan disini?"


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau mengikutiku...?"


"Mengikuti mu?,tak sudi..."


Mereka berdua bahkan masih saling membalas sapaan mereka masing-masing.


Walaupun terdengar sendiri mereka tidak memperdulikannya kehadiran polisi yang ada di samping mereka.


Seseorang dokter pun keluar dari ruangan ini setelah selesai memeriksa mereka.


"Atas nama keluarga Edward?"


"Saya pak, bagaimana kepadanya pak,dia baik-baik saja kan?"


"Tenang saja Edward baik-baik saja, saya sudah menanganinya, tunggu beberapa saat dia pasti akan segera siuman"


"Bagaimana dengan keadaan supir saya Dok, dia baik-baik saja kan?"


"Dia baik-baik saja Tuan, mungkin ia hanya sok dan kaget saja,ia juga sudah sadar saat ini.."


"Syukurlah terimakasih Dok.."


"Sama-sama,saya permisi.."


Setelah dokter meninggalkan ruangan itu keduanya kembali bertatapan sinis.


"Oh... jadi kau kekasihnya lelaki itu ya?, seharusnya kau ajari dia bagaimana caranya mematuhi peraturan lalu lintas, gara-gara dia aku sial hari ini, untung saja supirku tidak papa, udah tahu lampu merah,main nyerobot saja..."


Tidak di dengarkan ocehannya itu oleh Luna,ia masuk begitu saja ke dalam ruangan untuk menjenguk Edward.


Bedebah, wanita ini benar-benar menyebalkan sekali,


Dua pasien ini terlihat berdampingan ranjang.


Demian menghampiri supirnya dan untuk Luna sendiri tentunya ia menghampiri Edward.

__ADS_1


Mata Luna berkaca-kaca setelah melihat Edward yang baru pertama kalinya terbaring di ranjang rumah sakit.


Biasanya ia yang selalu mengobati para pasien, namun untuk kali ini,ia sendiri yang sedang di rawat dan di obati.


"Edward..."Panggilan yang amat sangat lembut dengan wajah lesu.


Sesekali tangannya pun membelai kepala Edward yang sedang terbaring itu.


"Kau tidak papa..."Demian sendiri juga merasa peduli dengan supirnya yang sedang terluka itu. Namun sayang ia bertanya sambil menghadap ke arah Luna, sementara pertanyaannya di tunjukkan untuk supirnya itu.


"Saya tidak papa Tuan muda.."


"Aku sudah menyuruh rekan lainnya untuk datang kemari, nanti aku harus tinggal ya,kau tahu sendiri aku harus menghadiri pertemuan dengan klien besar ku hari ini"


"Iya saya tahu Tuan muda, terimakasih anda sudah bersedia menunggu saya disini.."


"Kau adalah tanggung jawabku juga, tidak mungkin aku meninggalkan mu begitu saja.."


"Bangunlah.. kau tidak papa kan?"Air matanya sudah menganak di ujung matanya.


Rasanya Luna ingin sekali menangis sambil memeluknya dengan erat.


"Edward bangun.."Hingga tak sadar dengan rada sedih Luna langsung memeluk tubuh Edward dan mengharapkan agar ia segera terbangun.


"Aku tidak papa Luna..."Pelukan Luna yang hangat menumbuhkan sinyal cinta di dalam tubuhnya.


Seolah-olah ia merasakan kehadiran cinta dan getaran hebat di sisinya saat ia pingsan tadi,ini membuatnya terbangun.


"Edward...,kau sudah sadar?"menintik juga air matanya, melihat Edward yang sudah sadar membuatnya merasa senang.


"Jangan menangis,kau tidak pantas untuk menangis,aku tidak papa..,dan memangnya aku kenapa, kenapa kau menangis?"


"Aku tidak papa Luna.., tenanglah.."Mencoba menghapus air mata Luna yang sudah menintik itu.


Mereka sangat dekat sekali, apakah mereka memiliki hubungan yang sangat spesial.


Apakah lelaki itu juga yang menonjok tangan kanan ku waktu itu?,


Mata Demian tiada henti menatap kebersamaan mereka.


"Edward..."Panggilan ibunya yang sudah datang dari arah pintu bersama Edwin.


"Kakak,kakak tidak papa kan?"


Dua-duanya terlihat panik sambil berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Ibu, Edwin.."Edward pun tersenyum menatap kehadiran mereka.


"Apa yang terjadi sayang?, bagaimana kau bisa kecelakaan seperti ini?"


"Aku tidak fokus menyetir karena sibuk cari cincin mah,aku lupa di mana aku menaruhnya.."


"Cincin..."Ibu Edward terlihat terdiam.


Ia langsung merogoh tas mewahnya yang ia kenakan itu.


"Yang ini sayang?"


"Loh, bagaimana bisa di mama?, bukanya aku sudah membawanya ke rumah sakit.."


"Belum, kau meninggalkan di meja depan,tapi kau tidak papa sayang?,kau tidak terluka parah kan?"

__ADS_1


"Meja depan.."Edward baru ingat saat ia sedang memandangi cincin itu, panggilan rumah sakit untuk pasien koma tiba-tiba masuk dan membuatnya terburu-buru ke rumah sakit dan meninggalkan cincin itu begitu saja.


"Papa di mana?"


"Ia sedang mengurus masalah ini ke kantor polisi.."


"Maafkan aku mah,aku begitu merepotkan kalian..."


"Ini adalah takdir dan musibah sayang,tak sepantasnya kau meminta maaf.."


"Ma, berikan cincin itu.."Tangan Edward sudah menjulur panjang,ia tidak sabar untuk memberikan cincin itu untuk Luna.


Dengan penuh senyuman ibunya Edward memberikan cincin itu ke Edward.


"Luna.."


"Hmmm..?"Matanya masih terlihat basah dan merah karena habis menangis sambil menatap Edward.


"Ulurkan jarimu!,aku tahu kau pasti sangat menunggu ku lama tadi, maafkan aku..."


Demian sesekali masih memperhatikan keduanya, namun tak lama kemudian ada dua orang yang menyusul ke ruangan ini.


"Maaf lama Tuan muda.."


"Tidak papa...,kau tunggulah di sini aku sedang terburu-buru sekarang.."


"Baik Tuan muda.."


Lelaki itu akan melamar Luna hah,


sial,bagaimana bisa aku melihat pemandangan seperti ini, sebaiknya aku pergi saja..


"Maukah kau menjadi istriku..?"


Walaupun Demian akan segera pergi dari ruangan ini,ia tetap mendengar perkataan Edward yang sudah melintas di telinganya tiba-tiba.


"Edward..."Luna masih terdiam,ia sangat mau akan ini.


Tapi ia selalu berpikir panjang,ia merasa tidak pantas, adik dan ibunya Edward juga sedang berdiri di dekatnya.


Ini membuatnya merasa begitu takut akan Ibunya Edward yang tidak akan memberikan restu untuknya nantinya.


"Hari ini rencana ku bertemu denganmu adalah untuk melamar mu Luna..,tapi kecelakaan terjadi,aku tidak ingin di tunda lagi maukah kau menjadi istriku nantinya..."


Demian langsung keluar ruangan ini,ia merasa penasaran sekaligus panas,ia juga harus mengurusi urusan pertemuannya dengan klien.


"Tapi..."


"Mah, Edwin.. kalian setuju kan..?"Edward tahu apa yang di rasakan Luna saat ini.


"Kebahagiaan kalian ada di tangan kalian masing-masing,ibu dan Edwin hanya bisa merestui dan mendukung kalian sepenuhnya.."


"Bagaimana Luna..?"


Luna menganggukkan kepalanya sambil menangis,ia merasa begitu bahagia saat ini


"Aku berjanji Luna,aku akan selalu bertanggung jawab dan membuat hidupmu bahagia nantinya.."sambil memasukkan cincin ke jemari Luna dengan lembut.


"Terimakasih Edward.., terimakasih atas kehadiranmu.."Menangis tersedu-sedu.


Edward langsung terduduk dan berusaha memeluk Luna dengan erat untuk memberinya penenangan.

__ADS_1


__ADS_2