
Memang takdir-lah yang menentukan dan menetapkan semuanya.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi semenit kemudian beriringan dengan berjalan waktu yang mengintari kita.
Untuk itu kita harus berjaga-jaga dan senantiasa berbuat baik, karena kita sendiri tidak tahu kapan kita akan kembali ke pangkuan yang maha kuasa.
Nasib Alfian memanglah buruk dan nyata apa adanya. Ia harus pergi dan benar-benar pergi meninggalkan dunia ini dari Swara.
Keinginannya untuk berpisah dari Swara kini terwujud,tapi pergi sejauh-jauhnya dan tidak akan pernah bertemu lagi dengan istrinya.
Keadaan Swara masih tak sadarkan diri. Ia terpengaruh oleh obat bius yang di berikan oleh suster untuk beberapa jam.
Sementara yang begitu gelisah dan tak tenang sekarang ialah ibunya Swara.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sikap putrinya saat sadar nanti.
Ia juga sudah memperjelas akan berita dan kabar ini dengan menelfon suaminya kembali.
Dan ternyata benar adanya, Alfian mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Dia di larikan langsung ke rumah sakit.
Posisi Tuan besar sendiri sedang ada di sana sekarang.
Ia sedang sibuk mengurus segala urusannya mengenai kejadian ini.
Keluarga dari Alfian sendiri sudah di hubungi dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Kedua orang tua Alfian pastinya sangat syok dan merasa begitu berat untuk menerima kenyataan ini.
Mereka benar-benar tidak menyangka jika kecelakaan besar itu yang telah menimpa anak pertamanya hingga sampai merenggut nyawa.
Sungguh hari ini adalah hari terburuk yang sedang mereka lalui dan temui.
*****
Berita benar-benar dengan cepat menyebar luas ke penghujung negeri ini.
Edward yang sedang sibuk mengunyah makanannya pun terhenti seketika setelah melihat berita dan beberapa postingan di ponselnya.
Postingan kabar tentang meninggalnya seorang CEO muda baru di perusahaan xxxx yang tentunya sangat ia kenali.
Peningkatan perusahaan dalam kepemimpinannya menjadikannya di kenali banyak orang.
Namun siapa sangka,ia harus kembali ke pangkuan yang maha kuasa hari ini.
"Luna..."Menatap istrinya yang sedang sibuk memainkan sendok-nya di atas piring karena sedang makan.
__ADS_1
"Ia sayang.."Luna pun menatap lekat Edward.
Mimik wajah Edward yang terlihat melamun dan serius membuatnya bingung.
Perlahan ia tetap mengunyah makanannya yang ada di mulutnya itu dan terus menatap suaminya.
"Aku dengar Alfian mengalami kecelakaan dan meninggal dunia hari ini.."
"Apa?"Berhenti mengunyah.
Ia juga merasa kaget sekaligus tidak percaya.
Walau bagaimanapun itu Alfian adalah orang yang pernah hadir dan bersanding bersamanya.
Tentunya masih sedikit rasa mengganjal di hatinya setelah mendengar kabar ini.
Bukan karena cinta,tapi tidak percaya jika mantan suaminya itu mengalami kecelakaan dan meninggal.
"Kau tahu dari mana?,kata siapa?"masih terbelalak tak percaya dengan ini.
Edward langsung mengalihkan tanganya untuk memberikan ponselnya kepada istrinya itu.
Ia memberikan beberapa postingan status orang terdekat di media sosialnya.
"Aku memiliki banyak kenalan dekat di kantor Swara,aku mendapat berita ini juga dari mereka yang bekerja di sana,karena keluarga kami saling mengenal satu sama lain, jadi aku yakin ini bukanlah hoax.."
Berita tentang terseretnya seorang CEO di dalam kecelakaan itu.
Terpapar jelas seorang CEO muda di perusahaan xxxx inilah yang membuatnya yakin dan percaya akan Alfian yang telah pergi.
Penjelasan tentang kronologi kecelakaan itu mungkin di karenakan karena adanya salah satu kendaraan yang melaju kencang dan mengalami rem blong.
Kejadian ini juga masih terus di selidiki oleh pihak kepolisian dan petugas setempat.
"Kau baik-baik saja?"Melihat mimik wajah istrinya yang terdiam membuat Edward tak tenang.
"Aku baik-baik saja sayang, kenapa aku tidak baik-baik saja?.."Tersenyum dan mengembalikan ponsel milik suaminya itu."Aku hanya tidak menyangka saja dia pergi secepat ini.."
"Sama aku juga sangat kaget tadi. Tapi bukankah Swara baru saja melahirkan, tapi Alfian malah pergi.."
"Melahirkan?, mereka sudah memiliki anak?"
Kenapa cepat sekali, perasaan...
Menurut perhitungan Luna sendiri umur pernikahan mereka kurang lebih baru masuk delapan bulan.
__ADS_1
Alfian memang sudah memimpin perusahaannya sekitar sepuluh bulan yang lalu sebelum ia berpisah dengan Luna.
Sejak penawaran tak adil itu ia langsung masuk untuk memimpin perusahaan.
Hal ini juga sekaligus pelatihan dan awal mulanya untuk menentukan bagaimana performa kerjanya dalam memimpin perusahaan.
Tapi akhirnya dia bisa memimpin dengan baik dan membuat perusahaan semakin maju pesat sampai sekarang.
"Iya kabarnya begitu sayang..,aku juga belum tahu pasti,Mama Papa pasti juga akan menjenguknya jika Swara benar-benar telah melahirkan anak.."
"Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana sikap Swara saat ini,ia pasti merasa begitu sedih sekarang..."
Eehh.. kau malah memikirkan perasaan Swara sayang,
biarkan saja dia merasa semua ini,dia juga harus merasakan bagaimana rasanya di tinggal kekasihnya yang ia cintai.
"Sebaiknya kita maafkan segala kesalahannya saja sekarang,baik yang di sengaja maupun tidak, semoga ia di terima di sisinya, semoga ia kembali dengan nyaman. Dan untuk Swara biarkan saja dia merasakan semua ini,ini semua karma baginya..."
"Hust..., jangan bicara begitu sayang!,kita semua manusia yang penuh kesalahan..,aku juga memaafkan segala kesalahannya kepadaku apapun itu, karena aku juga sudah bersamamu sekarang, kita tidak usah memikirkan masa lalu lagi, semuanya sudah berlalu,semoga saja Alfian juga di terima dengan baik di sana,aku juga sudah memaafkan segala kesalahannya padaku.."
Ya ampun mulianya dirimu sayang,aku salut kepadamu Luna,kau sangat baik dan pemaaf.
Aku sangat bersyukur sekali bisa memilikimu dan hidup bersamamu sekarang.
Edward langsung berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Luna dengan hangat.
*****
Anggota keluarga kandung Alfian sudah tiba di dalam rumah sakit ini.
Derai air mata masih mengintari mereka karena tidak percaya dan merasa begitu tertekan.
Suasana menjadi terasa begitu gelap gulita seperti badai.
Badai air mata yang sejak tadi tak ada hentinya mengalir dari wajah mereka masing-masing.
"Aku tidak menyangka, Alfian yang selalu membuatku kecewa selama ini mampu membuatku merasa sedih dan kehilangannya.."Mungkin Tuan besar tampak biasa saja saat ini.
Tiada air mata sedikit pun yang mengalir di pipinya.
Namun jelas terlihat raut wajah diamnya yang sedang merenung di atas tempat duduk memikirkan sesuatu.
Sementara anak buahnya ikut membantu menyiapkan segala keperluan yang di perintahkan olehnya.
Baik menyiapkan minuman untuk keluarga Alfian yang sudah datang itu dan membantu yang lainnya.
__ADS_1
Hari ini adalah hari yang sangat sibuk bercampuan dengan rasa tak tenang dan tak nyaman.
Semoga saja ada hari-hari yang menyenangkan di esok hari.