Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Edward Vs Alfian


__ADS_3

"Maafkan aku, gara-gara aku kamu belum sampai ke rumah,apa kamu mau pulang naik taksi saja?"Duduk berdua di sebuah posko kecil yang ada di pinggir jalan ini.


Kelihatannya mereka berdua sedang mengalami hal apes yang tak di ingin.


"Aku kan ikut denganmu,masa aku meninggalkanmu, lagian suamiku tidak menantikan ku di rumah,ia pasti sudah tidur,aku juga tidak berani naik taksi malam-malam begini sendirian..."


Terlihat juga beberapa montir yang sedang memeriksa mesin mobilnya dari bengkel terdekat dekat jalan raya ini.


"Ini semua gara-gara Doni,apa dia lupa untuk menservis mobilku.."Merasa kesal dengan supirnya yang lalai itu.


"Tapi bukankah kau sedang terburu-buru pulang tadi,ini malah begini..."


"Sudahlah, itu tidak penting, lagian itu juga bukan keinginanku.."


Sebenarnya Luna sendiri tidak bisa mengartikan apa yang sedang ia bicara, memang hal apa yang bukan menjadi keinginannya, namun ia enggan untuk bertanya, lebih baik diam saja.


"krrukk..krrukk"Melirik Luna yang sedang menggaruk-garuk tangannya.


"Kau di gigit nyamuk..?"


"Hmm...dikit.."Sambil terseyum grogi.


Lalu Edward beranjak berdiri dan berjalan ke arah mobilnya, kemudian mengambil jas putih yang selalu ia kenakan di rumah sakit.


"Bagiamana Pak, masih lama?"Edward yang sudah lama menunggu dan merasa begitu bosan.


"Belum Tuan Muda, sebentar lagi..."


"Baiklah.."Mencoba duduk kembali di samping Luna yang masih terdiam di tempat itu.


"Pakailah ini,ini lebih panjang dan akan menutupi tanganmu sepenuhnya..."


Aku kira dia mengambil ini untuk dirinya..,


"Oh baiklah, terimakasih banyak.."Menerima dan langsung mencoba memakainya.


Ya ampun, perasaan ini sudah di pakai seharian oleh pria ini tapi kenapa tetap wangi yah,


dia baik juga,


Tersenyum menatap Edward,


"Kenapa?"Membuat Edward bingung menatap balik Luna.."


"Hmm?,e'... tidak papa.."Luna benar-benar tidak sadar jika ia tersenyum menatap lelaki ini.


Apa yang aku lakukan, bagaimana bisa aku tersenyum kepadanya tadi.


"Kau siapnya Edwin?"merasa ingin tahu.


"Kau mau tau?"melihat Luna yang menganggukan kepalanya membuatnya segera menjawab.


"Aku kakaknya,kalau kau siapanya Edwin?"

__ADS_1


"Hem..?"Bingung Luna.


"Tidak-tidak aku hanya bercanda, tegang banget...."


"Tuan muda mobilnya sudah jadi.."Terdengar juga mesin mobil yang telah hidup.


"Baiklah, kerja yang bagus.."Mendekat ke arah mobil itu lagi untuk memeriksanya sendiri.


"Baiklah ini kartu nama ku, kirimkan nomor rekeningnya ke nomor hp saya,nanti saya transfer!"


"Siap Tuan Muda, jangan lupa cek...cek"Mengkode berharap akan di kasih bonus oleh Tuan Muda tampan ini.


"Tak usah di pikirkan,tanpa kau minta pun akan aku berikan.."menghampiri Luna kembali setelah selesai berbicara dengan para montir itu.


"Luna ayo masuk, aku akan antar kau pulang.."


"Baiklah..."


Keduanya langsung masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan.


Luna terlihat begitu lemas, sepertinya ia merasa lapar lagi.


"Kau lapar lagi?"melihat Luna yang terus memegangi perutnya sambil menatap kaca mobil membuatnya berani bertanya.


"Iya...,aku tidak tahu kenapa rasanya aku ingin makan terus"


"Bagaimana tidak lapar jika dirimu makan saja tidak kau habiskan kan?.."


Edward langsung mengalihkan setirnya ke kiri untuk menuju ke restoran burger.


"Kau pikir aku tega membiarkan orang kelaparan saat bersamaku, tidak akan..."


Edward langsung memesan dua menu burger lengkap berserta minuman untuknya dan Luna.


"Makanlah, kasihan bayimu..."


"Ee'... nanti saja"


"Kau malu..?"


Tersenyum kecil Luna.


"Maafkan aku,aku sudah sangat merepotkan mu hari ini,mobilmu juga mogok gara-gara aku, maafkan aku, aku benar-benar merasa tidak enak denganmu, seharusnya kau sudah beristirahat sekarang.."


"Apa yang kau katakan?, semua ini kerena musibah dan takdirnya bukan, memang kita bisa melawan takdir untuk tidak bertemu dan seperti ini, tidak bisa kan..."Terseyum menanggapi perkataan Luna yang menurutnya tidak terlalu merepotkan.


Ternyata ia tidak semenyebalkan seperti apa yang aku bayangkan kepada-nya.


"Habis ini belok kanan,aku berada di gang ke-dua dekat posko keamanan"


"Baiklah..."Mengalihkan setir Kembali untuk berbelok ke kanan, setelah lebih dari satu menit akhirnya keduanya sampai tepat di depan rumah.


Inikah rumah Swara yang sekarang,

__ADS_1


Kebetulan Alfian sedang berdiri di balkon depan teras atas, melihat mobil mewah yang terhenti di depan rumah gerbang rumahnya membuatnya mengerutkan dahi.


"Siapa dia?, tidak mungkin tamu datang di tengah malam,apa itu Luna.., beraninya.."


Keduanya tampak lama di dalam mobil, membuat Alfian segera Turun untuk menemui orang itu.


"Makasih banyak yah, makanannya juga, berkat dirimu aku sembuh dan enak badan lagi.."


"Jangan berterima kepadaku,aku hanyalah perantaranya.."Menunjuk ke atas,ia merendahkan diri karena yang maha tinggi adalah milik yang di atas sana.


"Baiklah,aku Turun yah.."Sesudah turun dari mobil ia mendapati suaminya yang sudah berdiri di depan gerbang.


"Bagus, keluyuran jam segini baru pulang,kau berselingkuh, siapa dia hah..?"Terlihat begitu marah menatap Luna.


"Tidak,dia dokter yang sudah menolongku.."


"Alasan, memang apa yang kau alami?, sekarang kau berani berdekatan dengan pria lain"


Sepertinya mereka ribut,


Merasa tidak nyaman Edward, kemudian ia turun dari mobil untuk menemui keduanya.


"Siapa kau, beraninya mendekati istriku"


"Maaf,Anda salah paham,aku tidak ada hubungan apapun dengan istri anda,aku hanya mengantarkannya kemari karena ia sedang sakit.."terseyum tenang.


"Luna!, jelaskan kepadaku siapa lelaki ini!,kau beraninya bermain-main denganku sekarang!, dan apa ini, brakk...."Menepis kantong burger yang belum di makan itu ke jalanan.


Membuat Edward yang melihatnya merasa ikut kesal dan geram.


"Jaga sikapmu, seharusnya kau menyambut istrimu dengan baik,dia itu sedang sakit..!"Menahan tangan Alfian yang akan menyeret tangan Luna.


"Siapa kau?,tak usah ikut campur!"Alfian Melotot tajam menatap sengit sang dokter yang terlihat begitu tenang sejak tadi.


"Oh... kau ini siapanya?, pacarnya?, kekasihnya?,atau pahlawan kemaleman yang berani mendekati istriku hah?.."


"Cih..."mencibir menatap balik Alfian.


"Aku adalah dokter yang menanganinya, bersikap baiklah kepada istrimu, kondisinya sedang lemah,dia sedang hamil muda,kau membiarkannya kelaparan hah?, tega sekali kau sebagai seorang suami!"Menunjukan sebuah sempel rumah sakit kepala lelaki keras kepala ini.


"Ini lihatlah sendiri!,dia habis di rawat di rumah sakit,dia butuh istirahat dan perhatian, dan kau sebagai seorang suami seharusnya kau memperhatikannya kan,dan dimana perhatianmu?, istri sedang hamil muda kau biarkan terlantar di jalanan begitu saja, apakah seperti itukah suami yang baik?"


"Kau sudah selesai berbicara?,jika sudah pergilah!,aku tidak ada waktu untuk berbicara denganmu..."


"Menarik Luna begitu saja untuk masuk ke dalam gerbang!"


"Tunggu Luna"Edward mengambil satu tas kantong burgernya untuk Luna yang merasa lapar itu sejak tadi.


"Ini makanlah!,jaga kesehatan dan kandungan mu baik-baik,aku pamit,dan kau janganlah istrimu dengan baik,dia harus makan..!"


Alfian hanya terdiam kesal melihat tingkah lelaki yang sok-sokan ini, intinya ia merasa begitu benci dengan lelaki itu.


"Ayo masuk!,apa ini?"merebut makanan itu kembali dan melemparnya begitu saja ke halaman rumahnya.

__ADS_1


Ia benar-benar terlihat begitu marah sambil menggandeng tangan Luna dengan kasar untuk masuk ke kamar.


Keadaan rumah tampak sepi, waktu juga sudah menunjukkan pukul tengah malam, sepertinya para penghuni rumah sudah pada tertidur untuk istirahat.


__ADS_2