
"Kak siapa yang sakit?"
Ikut mendekat ke arah ranjang pasien yang ada di ruangan besar ini.
Edwin merasa penasaran sejak tadi setelah melihat kakaknya sudah selesai memeriksanya.
"Lihat saja sendiri..."
Menuruti perintah kakaknya dan melihatnya secara langsung.
Biasanya di ruangan ini khusus untuk keluarga mereka dan saudara-saudara terdekatnya apabila terkena sakit.
"Iya ampun Luna, dia kenapa lagi kak?"
"Sakit"
"Iya aku tahu dia sakit, maksudnya sakitnya itu kenapa kak?"
"Dia demam panas tinggi, suhu tubuhnya melemah, nafasnya juga terdengar tergesa-gesa karena suhu badannya terlalu panas, mungkin kondisinya sedang tertekan sekarang..."
"Suaminya benar-benar tidak mengurusnya yah,dia pasti hanya hidup bersenang-senang dengan swara"
"Apa?, Swara?, berarti yang menikah dengan Swara itu suaminya?"
"Iyah..,aku juga tidak tahu dimana pikiran Swara yang menikah dengan suami orang"
"Cinta itu memang Luar kendali Edwin,kau jangan sampai meragukannya, setiap orang pasti memiliki ikatan cinta yang begitu besar, dan untuk cinta itu sendiri seseorang akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, bahkan ia tidak memperdulikan lagi martabat dan harga dirinya demi mendapatkan cinta itu, Perang yang paling berat itu perang melawan hawa ***** kita sendiri Edwin"
"Tapi Kakak bertemu dengannya dimana?, apakah inikah yang namanya jodoh..."Bertanya sambil menyerkit, sepertinya ia akan mulai menggoda kakaknya kembali.
"Jangan berucap macam-macam lagi,aku muak, aku pasti akan memukul dengan ini"
Menunjukan sebuah barang yang amat sangat berat di depannya itu, sebuah vas bunga tentunya, karena ia sudah merasa kesal sekali dengan adiknya.
"Tuh...,tanyakan padanya, bagaimana dia bertemu dengannya..."
"Kau yang menemukanya hah?, Katakan!, bagaimana bisa kau menemukanya?"
"Aku menemukannya saat membeli martabak di pinggir jalan, dia juga sedang beli dan menunggu di tempat duduk yang tersedia di situ,tapi selang beberapa menit aku datang ia jatuh pingsan begitu saja, sedangkan posisiku hanya berdua, jadi aku berniat membawanya ke rumah sakit sekalian.."
"Untung saja kau baik, jika tidak, aku pasti sudah memecat mu dari sini"
"Cih.. pecat mulu perasaan.."
Semilir dinginnya udara di ruangan ini membuatnya yang pingsan itu terbangun dari pingsanya dan merasa menggigil tiba-tiba.
Aku dimana ini?,tapi sepertinya aku pernah kemari?
Sayup-sayup suara orang berbicara juga terdengar dan mengusik di telinganya itu.
Kemudian Luna mengalihkan wajahnya ke arah dimana orang-orang itu berbicara.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku ada disini lagi,dan kenapa aku bisa bertemu dengan mereka lagi
Melihat ketiga orang lelaki sekaligus di ruangan ini membuatnya merasa takut dan segera berdiri dari tidurnya.
"Di..dia... bangun"Ketiga lelaki itu menatap Luna berbarengan, membuat Luna merasa bingung dan menutupi dirinya dengan selimut Karena malu.
"Apa yang ia lakukan?"
"Kak,periksa saja dia, apakah keadaannya sudah membaik?"
Tuan muda dokter Langsung berdiri dari duduknya dan menghampirinya untuk segera memeriksa keadaanya.
"Apa yang kau lakukan?,kau harus di periksa.."Dokter itu mencoba menarik selimutnya dengan lembut.
Luna hanya bisa terdiam sambil menatap lekat dokter itu,ia bingung bagaimana bisa ia ada disini lagi, namun ia juga merasa malu karena bertemu dengan mereka lagi disini.
"Apa yang kau rasakan sekarang?"Sambil mengecek suhu tubuhnya dengan tangannya dan termometer.
Luna bungkam dan hanya menggelengkan kepalanya saja untuk menjawab pertanyaannya itu.
Ia juga tidak berani untuk menatap dokter itu lagi sambil menarik selimutnya kembali sampai ke lehernya.
Tidak bertanya lagi dokter itu,ia langsung saja mengambil remote AC dan mematikannya setelah melihat tingkahnya yang kedinginan.
Lalu menghampiri mereka yang masih duduk di sofa ruangan ini kembali untuk bergabung.
"Bagaimana kak,dia sudah baik-baik saja?,dia tidak papa kan..?"Berbisik pelan ke telinga kakaknya
Luna terus menutupi dirinya dengan selimut,ia bahkan terus memiringkan tubuhnya menghindari tatapan lelaki yang ada di ruangan ini.
Sementara supir itu sedang sibuk mengunyah martabak yang ia beli.
"Dia pasti sangat lapar Tuan Muda, buktinya ia membeli martabak tadi pagi..,nih...."Menunjukan satu box martabak yang masih utuh.
"Kasih dia, suruh dia makan Edwin,dia itu sedang hamil,ia harus selalu mengisi perutnya"
"Gak mau kak,aku sibuk,ada meeting room mendadak lagi,eh Doni ayo antar-kan aku ke kantor..."Beranjak berdiri dari duduknya dan mengajak supir itu untuk segera pergi. sepertinya Edwin benar-benar ingin mengerjai kakaknya itu.
"Siap Tuan Muda.."melihat kode yang di berikan Edwin lewat matanya membuat supir itu peka dan langsung pergi mengikuti langkah Edwin yang meninggalkan ruangan ini.
"Bedebah, semua kabur dari tanggung jawab sekarang..."
"Hahaha... biarkan saja kak Edward yang melayaninya,aku kan senang jadinya, ayo kita ke kantor, aku harus mengecek data-data.."
"Baiklah Tuan Muda"
Lalu Edward berjalan mendekati Luna sambil membawakan martabak yang ia beli tadi pagi.
"Kau makanlah dulu!, perutmu masih kosong kan.."
Luna masih membisu dan menggelengkan kepalanya lagi,ia benar-benar merasa tidak nyaman berada di ruangan ini dan hilangnya ***** makannya.
__ADS_1
"Huft..."Menghela nafas panjangnya, lalu dokter itu duduk di samping ranjang dimana Luna terbaring.
"Kau boleh menyiksa dirimu, tapi bukan berarti kau harus menyiksa seseorang yang ada di perutmu ini kan?, makanlah.."
Sudah membuka kotak martabak itu dan menyibakkan bau harum makanan ini yang begitu nikmat.
Masih menggelengkan kepalanya, mungkin ia merasa begitu malu sekarang,ia juga sedang merasa begitu sedih, di saat kondisinya yang seperti ini tidak ada kehadiran suaminya yang menemaninya saat ini.
"Aku tahu apa yang sedang kau lakukan di bawah selimut,kau sedang memegangi perut mu karena merasa lapar kan?.."
Darimana ia tahu kalau aku sedang memegangi perutku karena merasa lapar,
Hanya menatap Dokter dingin ini dengan diam, matanya terlihat berkaca-kaca sambil menatapnya.
Membuat Dokter sedikit mempunyai perasaan tidak tega dan berbicara lagi untuk yang kesekian kalinya.
"Makanlah!, jangan sampai kau membuatku marah.. untuk menyuruhmu berulang-ulang kali untuk makan!, karena aku paling benci hal seperti ini"Sedikit kesal dari nada suaranya, mungkin dengan cara ini ia mau makan, pikirnya.
Suaranya yang terdengar begitu serius dan menakutkan membuatnya merasa takut dan berdiri dari tidurnya untuk duduk.
"Jika masih pusing bersandar-lah..!"Merapikan bantal untuk menyuruhnya bersandar di tumpuan bantal yang ada di ranjang ini.
Seharusnya mad Alfian yang ada di sampingku sekarang, seharusnya ia juga yang menemaniku saat ini,
Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana caranya untuk menjelaskan semua ini kepada mas Alfian,
Setidaknya bukalah sedikit saja perasaannya untukku,
"Kau malah melamun?, seharusnya kau itu tak usah memikirkan apapun,kau ini harus Istirahat dengan cukup,kau tidak boleh banyak pikiran,ini mengganggu kandungan dan kesehatanmu.."
"Hiks...hiks..."Malah menangis, air matanya berderai begitu saja, Luna merasa tidak tahu lagi harus bagaimana, sedangkan ia merasa takut dengan dokter ini.
cih malah menangis, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi wanita seperti ini.
Pelan-pelan Tuan Muda, wanita hamil itu sensitif,kau harus sabar menghadapinya.
Pelan kan suaramu!.
"Oke baiklah maafkan aku..,aku hanya menyuruhmu makan!, udah itu saja..."Menyodorkan kontak martabak itu kembali ke arah Luna.
Luna yang merasa sangat lapar langsung mengambil martabak itu dengan tanganya yang gemetaran karena lemas.
Melihat tanganya yang gemataran membuat Dokter ini semakin geregetan sebenarnya.
"Makanlah..,aku yang menyuapi mu..!"menyodorkan martabak ini ke mulutnya.
"Tak usah banyak berpikir,aku melakukan ini bukan bermaksud apapun,kau harus makan, kasihanilah kandungan mu..."melihat Luna yang terdiam dan menatapnya lekat, membuatnya langsung berbicara kembali.
Akhirnya dengan perkataan dan perhatian lembut sang dokter Luna mau membuka mulutnya dan memakan beberapa potong martabak yang dokter itu berikan.
Walupun suasana di penuhi kesunyian dan rasa canggung di ruangan ini Luna merasa sedikit tenang dan lega dengan orang yang begitu baik ini.
__ADS_1