Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
ujian


__ADS_3

"Bagaimana Edward?,kau membuahkan hasil?"


"Tentu tidak, pemerikasaan mu adalah benar adanya"


"Iya ampun,aku berharap ada perubahan hasil tadi"


Edward terlihat datar dan lesu sekali seolah-olah ia yang merasakan semua ini.


"Intinya,mau tidak mau kita harus jujur kepada mereka, tidak boleh ada yang di tutup-tutupi!"


Edward dan teman dokternya langsung keluar dari ruangan pemerikasaan khusus itu.


Tatapan Luna dan Edwin sama-sama tak sabar menanti kabar dari mereka tentang Natria.


"Bagaimana keadaan Natria kak?dia baik-baik saja kan?"


"E'mm.. untuk keadaannya baik-baik saja Edwin,tapi ada sesuatu yang harus kau ketahui"


"Apa kak..?"


"Istrimu Natria sebenarnya mengidap penyakit..."Edward malah terdiam kaku ia tidak ingin mengatakan hal ini. "Kau lihat saja hasil diagnosisnya, kemungkinan seperti itu"Memberikan hasil diagnosis itu kepada adiknya langsung.


Wajah Edwin sudah tegang duluan.


Ia mencoba memahami isin hasil diagnosisnya.


Kemudian ia terbelalak dengan data-data itu sekaligus tak percaya akan itu semua.


"Apa ini!, istriku kena gagal ginjal kronis?,dan apa ini!, istriku ma...ma.. mandul?"


"Iyah kemungkinan besar seperti itu Edwin,tapi pasrahkan dan serahkan semuanya kepada yang di atas, memohonlah yang terbaik untuk keadaan istrimu"


Kebetulan Natria memang sedang menstruasi saat ini. Selama ia mengalami menstruasinya ia selalu mengalami sakit yang berlebihan dan selalu tidak teratur. Bahkan saking sakitnya ia sampai ingin pingsan jika ia sedang datang bulan.


Jadi dokter memeriksanya dengan sangat teliti tadi.


Pernikahan antara Edwin dan Edward memang di langsungkan selama bersamaan. Tapi sampai detik ini juga ia belum di miliki momongan.


Atupun kabar tentang kehamilan istrinya.


"Ya ampun Natria...,aku yakin semaunya akan baik-baik saja padamu"


Edwin tampak berkaca-kaca mendengar kenyataan itu. Sementara Edward sebagai kakaknya hanya bisa mengelus pundak Edwin dengan lembut untuk menenangkannya.


------------


Saat ini mereka sudah berada di ruangan kamar Natria yang di rawat itu.


Natria terlihat begitu sedih dan menangis. Bahkan ia terlihat tidak ingin menatap suaminya karena malu dengan penyakit yang di deritanya.

__ADS_1


"Sayang.."Panggilan Edwin lembut.


"Pergi!, hiks...hiks"Natria tampak sesenggukan karena menangis sedih. Ia juga tidak ingin menatap Edwin.


"Sudahlah jangan menangis, semua ini ujian Sayang,tidak ada yang bisa mengatur kehidupan seseorang kecuali yang di atas Natria"


"Iya tapi kenapa harus aku!... hiks..hiks,aku gak mau..."


Natria terlihat sedih sekali setelah mengetahui ini semua.


"Hey..hey, jangan seperti itu tidak baik sayang, berdoalah yang baik-baik untuk kita ya, semua orang pasti juga gak mau menerima takdir ini,tapi percayalah kau yang paling baik dan paling kuat sayang.."Edwin terlihat memeluk Natria dengan hangat dan penuh perasaan iba yang mendalam.


Ia tidak pernah menyesal atas apapun setelah menikahi istrinya.


"Aku hanyalah wanita yang tak berguna Edwin, aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untukmu jika kenyataannya seperti ini... hiks.. hiks"


"Kata siapa?,aku bahagia memilikimu Natria, sekarang fokus untuk kesembuhan mu dulu, kau pasti sembuh sayang, percayalah..."


Edward dan Luna hanya bisa ikut menenangkan Natria di samping ranjang.Mereka juga terlihat sedih dan iba kepada Natria yang terus menangis itu.


Setelah beberapa jam kemudian suasana tampak tenang di dalam ruangan itu.


Natria juga terlihat tenang tak berkutik. Namun sepertinya ia memang sedang melamun tentang kesedihannya ini.


Aku tahu,aku pasti akan kehilangan Edwin. Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untuknya,aku tidak bisa memiliki anak. Pastinya Edwin sangat berharap dapat memiliki anak dan keturunan kan,lalu bagaimana jika aku seperti ini?.


Natria terus saja melamun tak tenang untuk tidur.


"Sayang kau tidak papa kan?,aku mohon jangan terus dipikirkan,ini juga demi kesembuhan mu"


"Aku tidak bisa tenang Edwin.."


Iya Tuhan, kasihanilah istriku. Mungkin semua ini hanyalah perkiraan medis, tapi engkau yang maha memiliki segala sesuatunya, berikanlah segala kebaikan untuk rumah tangga kami. Khususnya kesembuhan untuk penyakit istriku.


Tak lama setelah itupun keluarga Edward dan Natria datang untuk menjenguknya.


Namun tidak ada yang memberitahu mereka atas kabar ini.


Mereka tampak diam dan bungkam demi keharmonisan susana keluarga.


Ada saatnya orang berbahagia dan ada saatnya juga orang bersedih.


Sesedih apapun itu pasti ada waktu dan batasnya. Ada masnya juga kita pasti akan tersenyum kembali setelah tahu akan itu semua walupun sepahit apapun kenyataan hidup.


-----------


1 bulan berlalu begitu cepat.


Luna tampak menatap timbangan di pagi hari.

__ADS_1


Berat badannya sudah naik melebihi 6 kg. Tentunya bentuk tubuh yang semakin berisi dan membengkak di bagian kakinya sudah terlihat sangat jelas.


Cihh,tak ada hentinya istriku menimbang.


Langkahnya juga terasa semakin berat.


Umur kandungan yang semakin membesar juga membuat pinggangnya terasa begitu pegal di setiap pagi.


Sebentar lagi bulan persalinannya juga akan datang.


"Sayang hari ini kamu cek kandungan yah!"


"Iya sayang,tapi dengan dokter siapa?"


"Aku tidak ingin dokter laki-laki yang menangani mu kaya kemaren, jadi aku akan suruh Yasmine untuk memeriksa kandungmu"


"Yasmine?, kenapa harus Yasmine si sayang?. Kenapa harus mantanmu terus?. Bisakah kau jaga jarak dengannya?!"


Kali ini sepertinya Luna benar-benar kesal dan cemburu.


Terlebih status Yasmine adalah mantan kekasih Edward. Jadi melihat keduanya yang akur dan dekat membuat Luna kesal sekali rasanya.


"Ya ampun sayang, Yasmine itu baik kok!. Kamu lagi ngomongin apa si,kok marah-marah?"


"Setiap hari di rumah sakit kau pasti selalu dekat-dekat dengannya kan?, apa-apa urusan rumah sakit kau pasti akan bersama Yasmine,ya kan?"


"Iya ampun bumil kalau lagi sensi. Sini duduk sayang!"


Edward duduk di pinggiran ranjangnya dan menyuruh Luna untuk duduk di pangkuannya.


Luna masih terlihat masam,ia juga diem saja mendengar tawaran suaminya.


"Kau tidak mau duduk di pangkuanku juga?"


Sekali lagi Edward menawari pangkuannya dan sesekali ia juga menepuk-nepuk pahanya.


Luna hanya melirik melihat itu,ia masih terlihat kesal kepada suaminya.


"Sini duduklah.."Edward terlihat menarik tangan Luna dengan lembut untuk menyuruhnya duduk di pangkuannya.


Luna tampak duduk di pangkuan itu, tapi dengan membelakanginya, jadi Edward hanya bisa menatap rambutnya saja.


"Kau membelakangi ku?. Padahal aku ingin menatap wajahmu Luna"


"Iya tapi aku berat, susah kan duduknya.."Masih menjawab dengan nada kesal Luna.


"Duduk saja yang benar sini..!, Berhadapan dengan ku!, aku ingin melihat wajahmu apa tidak boleh?, beratmu dengan ku juga kalah jauh kan"


Luna duduk di pangkuan Edward dengan perut membuncit dan saling berhadapan.

__ADS_1


Kemudian Edward tersenyum sambil mengelus perutnya,lalu ia langsung menerkam bibir Luna dengan lembut.


"Percayalah padaku,aku sudah menganggap Yasmine sebagai adikku sendiri,ia juga akan menikah bulan depan. Kepribadiannya memang baik makanya aku masih berhubungan baik dengannya Luna"


__ADS_2