Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Edward Panik


__ADS_3

Hari ini Edward pulang lebih awal ke rumah.


Ia pergi meninggalkan rumah sakit begitu saja.


Tidak seperti biasanya ia juga seperti ini,tapi Edward memang merasa begitu rindu rumah.


Mungkin sebenarnya bukan suasana rumah lah yang ia rindukan, Namun rindu seseorang yang belum ia lihat seharian.


"Dia benar-benar tidak mengabariku sama sekali,apa dia terlalu sibuk di rumah?, memang aktifitas apa yang sedang ia lakukan di rumahku?.."


Beberapa pertanyaan mulai muncul di keningnya,ia tidak bisa berhenti memikirkannya,ini yang mebuatnya heran sendiri sambil menatap layar ponselnya.


"Kenapa bayangan wajah Luna ketika terseyum selalu muncul di otakku sekarang, tiba-tiba bayangannya melintas begitu saja di pikiranku, ada apa dengan diriku?, kenapa sebenarnya..."


Fokus menyetir sambil menggerutu sendiri di dalam mobil,ia terlihat berbicara sendiri sejak tadi.


"Lalu kenapa aku merasa tidak rela sendiri dengan lelaki brengsek itu yang sedang berusaha mencari Luna sekarang?,aku benar-benar merasa begitu kesal karena dia mencari Luna,aku juga tidak tahu dia mencarinya tulus atau tidak,tapi kenapa aku merasa takut jika Luna akan pergi nantinya...."


"Hahaha..., kakak sudah jatuh cinta yah?, senang juga aku mendengarkan ocehan kakak sejak tadi..."


"Hah.. Sssrrtt,Duubrakk.."Karena kaget Edward langsung mengerem mendadak dan membuat Edwin terjungkal dari jok mobilnya.


"Aduh... pinggangku..aah.. sakit sekali..."


"Sedang apa kau ada disini?,dan sejak kapan kau disini?"Terbelalak menatap adiknya yang sedang meringis kesakitan.


"Aduh kakak ini tega sekali,aku jadi jatuh kan,gak lihat apa aku lagi tiduran sejak tadi di belakang.."


"Bagaimana kau bisa masuk ke mobilku?"


"Si Doni...,aku malas bawa mobil jadi sebaiknya aku menumpang kakak pulang saja,tapi sungguh hal apa yang aku dengar tadi..haha.."


"Beraninya kau menguping,Turun dari mobilku sekarang..!"


"Ih..ko ngusir si kak?, kakak malu yah..?, tidak papa tak usah malu kak!, kan Edwin juga yang berusaha menjodohkan kakak.."


"Kau sudah selesai berbicara?, keluar dari mobilku sekarang.."Terlihat Kesal Edward, memang benar ia merasa malu dengan ocehan yang ia ucapkan tadi.


"Tunggu dulu...,kakak tahu tidak?, sebenarnya Luna sudah berpamitan dengan mamah pagi tadi untuk pulang ke rumahnya...,aku ingin sekali melarangnya tapi aku tidak bisa kak,ia terlihat sekali ingin pergi dari rumah,jadi aku tidak bisa melakukan apapun dan membiarkannya pergi.."Berbicara dengan nada serius dan lesu-nya menatap kakaknya,ia juga merasa kehilangan saat ini.


"Apa?"Terbelalak,ia tidak percaya akan semua ini.


"Lalu dia pergi dan pulang ke rumah?,ke rumah siapa maksudmu?, apa dia pulang ke rumah suaminya?"


"Tidak mungkin lah kak,dia bilang...dia akan pulang ke rumahnya,ia tidak ingin merepotkan keluarga kita terus-menerus,aku juga tidak bisa menahannya untuk tetap tinggal di rumah kita kan, dia bersikeras untuk tetap pergi kak.."


"Bagiamana kau bisa membiarkannya pergi begitu saja?, kenapa kau tidak melarangnya pergi?,jika dia kenapa-napa di jalan bagaimana?,apa kau tidak memikirkan itu..."Mimik wajahnya terlihat begitu kesal karena khawatir.


"Apa dayaku kak,dia tatap ingin pergi meninggalkan rumah,masa aku harus memaksanya begitu.."

__ADS_1


"kenapa dia tidak mengabariku sama sekali?"Terlihat panik Edward, raut wajah khawatirnya terlihat begitu jelas dan tertera sekarang.


Bahkan saking panik dan khawatir dia langsung berusaha menelfon dan menghubungi Luna.


"Kenapa tidak di angkat?, sebenarnya kemana dia.."


Entah apa yang di pikirkan Edwin sekarang,ia terlihat pias dan termenung menatap kakaknya.


"Maafkan aku kak.."


Edward masih berusaha menghubungi Luna. Panggilannya memang berdering, namun tidak ada jawaban dari dirinya.


Ini membuat Edward merasa semakin panik dan gelisah.


"kenapa telfon ku tidak di angkat?, kemana dia,dia pergi kemana?, kenapa kau bodoh sekali tidak melarangnya pergi?,lalu bagaimana jika ia bertemu dengan lelaki brengsek itu di jalan,lalu bagaimana jika ia memaksanya untuk ikut dengannya lagi,dia itu sedang hamil Edwin, kenapa kau dengan santainya tidak mengantarnya ke rumah, bagaimana jika ia kenapa-napa nantinya?..."


Terdiam Edwin melihat tatapan kakaknya yang begitu marah.


Raut wajahnya yang serius seolah-olah berubah dan,..


"Haha...haha.. hahaha,aku ingin sekali tertawa sejak tadi,kakak, kau benar-benar khawatir sekali?,kau benar-benar marah?,kau benar-benar takut kehilangannya?"


Edward mulai tidak mengerti lagi dengan perkataan Edwin yang tiba-tiba seperti ini,ia terlihat begitu serius menatap adiknya.


"Kau tahu kak,aku tidak bisa menahan tawaku,padahal aku tadi hanya bercanda,Luna masih di rumah.. hahaha.., untuk saja Luna tidak menjawab telfon kakak tadi,jika tidak aku pasti akan ketahuan jika aku berbohong,tapi tidak Papah,ini benar-benar membuatku terhibur..."


"Edwin!"Teriakan kakaknya yang begitu marah sekarang, sepertinya darahnya sudah mulai naik menghadapi sikap adiknya yang begitu menyebalkan.


"Disaat seperti ini kau masih sempat-sempatnya bercanda,kau mau membuat kakakmu gila?, keluar dari mobilku sekarang, keluar!"


"Ta.. tapikan aku ikut pulang kak"


"Aku tidak peduli, keluar dari mobilku sekarang!, keluar..!"


"Tapi kak.."


"Keluar!"


"Oke...oke.. baiklah, tapi tidak papa, yang penting aku sudah mengetahui isi hati kakak, hahaha senangnya.."


"Dasar gila?"Menutup pintu mobilnya dengan kesal.


"Kakak perjuangan cintamu!"


"Awas saja kau jika pulang ke rumah, aku habisi kau...!"Menutup kaca pintu mobil dan langsung menginjak Gas mobilnya dengan berkecepatan tinggi karena merasa begitu kesal dengan Edwin.


"Ih... ngancem lagi,haha..oke..oke,aku tahu kak, kau pasti sedang merasa malu sekarang,tapi baiklah tidak papa..."Merogoh sakunya untuk menelfon seseorang agar bisa menjemputnya saat ini.


"HP.. HP..ku?,aduh ketinggalan di mobil lagi,kak...kakak.."Berteriak menuju ke arah mobil yang sudah berlari jauh meninggalkan jalanan itu.

__ADS_1


"Kalau seperti ini lalu bagaimana aku bisa pulang coba?"Merasa pusing sendiri dan mengharukan kepalanya di pinggiran jalan.


Entahlah bagaimana dia bisa pulang nantinya, rasakan lah Edwin, makanya jadi orang jangan jahil.


*****


Bisa-bisanya Edwin mempermainkan perasaanku...


Edward masih menggerutu sendiri sambil memasuki pintu masuk rumahnya.


Lalu ia berjalan menuju ke kamar Luna untuk menemaninya,Ia bahkan masih memakai pakaian lengkap rumah sakit dan tas medisnya yang ia tenteng ke arah kamar ini.


"Thok..thok..thok.."Mengetuk pintu kamarnya sebelum memasuki ruangannya itu untuk memastikan keberadaan Luna di kamarnya.


Namun tidak ada suara atupun sahutan darinya di dalam,ini membuatnya merasa tidak nyaman dan gelisah karena terbawa oleh ucapan Edwin juga tadi.


"Luna..?"Memangil dan mencari keberadaannya yang belum terlihat di dalam kamar ini.


"Huek..huek..huek.."Terlihat Luna yang sedang mual-mual di dalam kamar mandi yang terbuka itu.


"Luna?"Khawatir dan mendekat setelah meletakkan barang-barangnya itu di atas meja.


"Huek.."Masih mual-mual, bahkan saking eneknya ia tidak menghiraukan kehadiran Edward yang sudah menghampirinya itu.


"Kau tidak papa?"Berdiri di samping Luna dan tanganya itu sudah memijat lehernya dengan lembut.


Luna masih terdiam menatap lantai kamar mandi,ia sedang mengontrol emosi dan rasa enek di perutnya.


"Kau tidak papa..?"Masih memijat lehernya dengan lembut.


Merasakan pijatnya yang begitu lembut membuat Luna terdiam menatapnya.


Kenapa harus orang lain yang peduli denganku, lalu dimana suamiku?, ia tidak pernah memikirkan ku sama sekali..


"Kau tidak papa kan?, kenapa kau terdiam?"Mengusap air mata Luna yang terlihat menintik di ujung matanya.


"Aku tidak papa,aku hanya merasa enek saat makan udang tadi,kau sudah pulang jam segini?.."


"Apa kau selalu merasakan hal seperti ini setiap harinya?"Sambil berjalan menuntun Luna ke arah ranjang, ia tidak menghiraukan pertanyaan Luna itu.


"Tidak juga,iya.. tapi lebih sering si..."


"Setidaknya mengabariku jika kau membutuhkan sesuatu"


Membuka minyak kayu putih dan mengusap-usapkannya ke leher Luna dengan lembut dan hangat.


"Mungkin ini bisa membantumu untuk meredakan rasa enek mu.."


Iya ampun kenapa kau begitu baik ya Tuhan,aku benar-benar tidak menyangka aku akan bertemu dengan malaikat sepertinya..,

__ADS_1


Luna sudah berkaca-kaca menatap Edward,ia masih mengoleskan minyak ke lehernya dengan lembut, Sementara Edward dengan senyuman hangat melakukan perhatian ini untuk Luna.


__ADS_2