
Barang-barang sudah mereka siapkan.
Para pelayan dan supir sibuk memasukan barang-barang ke dalam mobil.
Sementara pasangan ini sedang sibuk berdandan di dalam kamar.
"Sayang aku pake baju ini bagus gak?"
"Iya boleh saja,itu bagus dan cocok di tubuhmu"Selain memperhatikan istrinya,ia juga sambil membaca sebuah buku panduan kesehatan miliknya.
"Kalau yang ini?"
"Itu juga cocok, boleh juga.."
"Apa yang ini sayang?"
"Itu juga boleh, bagus juga.."
Jawaban sama yang di dengar oleh Luna berulang-ulang. Suaminya benar-benar tidak peka dan membuatnya bingung harus memakai baju apa yang sangat cocok untuk hari ini dengannya.
"Jangan membuatku bingung Edward,jika semua yang kau nilai itu sama,aku jadi bingung mau pakai baju yang mana,aku bingung.."
"Hehe.."Tersenyum, lalu mendekati istrinya yang sedang sibuk memilih baju."Dengarkan aku baik-baik sayang...!,kamu pake baju apapun akan selalu cocok dan cantik,jadi tidak perlu bingung-bingung sayang"Mengambil salah satu baju pilihannya dan memberikannya dengan penuh senyuman menatap istrinya.
"Aku hanya ingin kelihatan lebih dari biasanya di depanmu,apa itu salah?"
"Tentu benar,cukuplah di dalam kamar untukku nanti, sekarang pake baju apapun kau akan tetap cantik dan sama di mataku sayang..."
Membuat Luna terseyum dan merona sekarang. Sikap lembut dan hangat suaminya benar-benar membuatnya merasa nyaman.
Waktu semakin berputar cepat.
Setelah selesai dengan urusan penampilan keduanya langsung bersiap-siap untuk berangkat.
Ayah dan ibu Edward sudah menanti di ruang utama untuk keberangkatan keduanya.
Keduanya sudah turun dari lantai atas.
Melihat anak dan menantunya yang sangat ganteng dan cantik membuat mereka tersenyum juga.
"Pa Ma kita berangkat dulu ya.."
"Iya sayang,jaga istrimu baik-baik"
"Tentunya Pa?"
"Berbahagialah kalian berdua disana,Luna, Edward, jangan lupa jaga kesehatan ya sayang.."
__ADS_1
"Iya Ma,Mama sama Papa juga jaga kesehatan di sini yah.."
Satu persatu mereka berpelukan hangat.
Lalu di susuli dengan Edwin yang baru saja pulang dari jalan-jalan dengan istrinya.
"Kakak, kalian berangkat sekarang?"Edwin terhenti dari langkahnya di ruangan utama itu. Menatap ke-dua kakaknya yang sangat rapi membuatnya tersenyum menyeringai melintas langsung di wajahnya yang tampan itu.
"Iya..,kau kapan?"Tanya Edward kembali sambil tersenyum penuh kemenangan menatap Edwin. Sesekali ia juga mengedipkan mata untuk menggoda adiknya yang terlalu sibuk dengan urusan kantor.
"Aahh kakak,aku akan segera menyusul, tenanglah!, urusan kantorku dua hari ini juga akan segera selesai, setelah itu..kita juga akan berbulan madu ke tempat impian kita ya kan sayang?"
"Hehe.. iya tentu saja sayang"Menggelengkan kepala istrinya Edwin.
Ia juga merasa sangat senang bercampur heran melihat suaminya yang selalu humoris dan menggodanya.
"Kakak hati-hati di jalan ya, selamat sampai tujuan,dan bahagia selalu.."Memeluk kakak iparnya yang siap berangkat untuk berbulan madu dengan suaminya itu.
"Terimakasih Natria,kau juga ya jaga dirimu baik-baik di sini,kakak pergi dulu sebentar.."
"Iya kak, jangan lupa kabar baiknya yah.."Terseyum penuh godaan dan dukungan untuk kakak iparnya itu.
Setelah selesai dengan urusan berpamitan, keduanya pun langsung menuju ke pintu keluar untuk segera berangkat.
"Kak Edward, sukses ya, jangan pulang sebelum aku dapat kabarnya!"
"Cih, apaan sih dia ini.."Langsung merangkul istrinya dan tidak lagi mendengarkan ocehan adiknya yang gak jelas itu.
"Jika kakak belum dapat,aku melarang kakak untuk pulang"
"Hust!,kau juga jangan berisik,kau juga harus dapat sebelum pulang nanti,awas jika tidak.."
"Ih.. apaan si Ma?,aku kan hanya bercanda.."
Apa si yang sebenarnya mereka bahas?,
Tentunya kabar baik yang di nantikan oleh calon seorang uncle untuk pasangan itu.
*****
Jadwal sore ini adalah keberangkatan Edward dan Luna untuk pergi berbulan madu.
Tentunya hari ini adalah hari yang menyenangkan dan di penuhi rasa semangat untuk keduanya.
Berbeda dengan suasana di ruangan ini.
Ya.. dimana lagi kalau bukan di sebuah ruangan pasien rumah sakit VVIP.
__ADS_1
Mata sayu, badan yang begitu terasa letih dan bercampur dengan perasaan lesu.
Di tambah lagi rasa sakit yang menyertainya karena persalinan.
Merenung tak percaya akan semua ini.
Air mata tak berhenti berderai dari mata Swara.
Ia sudah sadar. Namun karena pengaruh obat bius itu membuatnya lemas dan tak berdaya.
"Sayang, terimalah semua ini,ini memanglah terjadi"Ibunya Swara juga berkaca-kaca menatap putrinya.
Lalu ia memberikan pelukan hangat dengan penuh kasih sayang untuk putrinya.
Rasa sedih juga menyertainya, bukan karena kepergian sang menantu, namun keadaan Swara yang begitu terpuruk hingga membuatnya tak bisa menahan air mata.
"hiks... hiks.., Kenapa di saat seperti ini Alfian harus pergi meninggalkanku,hiks..hiks...aku tidak ingin ini Ma, kenapa si semuanya jadi seperti ini,aku kira hidupku kedepannya akan lebih indah dan bahagia,tapi ini apa?, kenapa hidupku jadi seperti ini?, kenapa Alfian harus pergi meninggalkanku secepat ini Ma, kenapa?..hiks.. hiks.., aku tidak ingin jadi janda..."Terus menangis begitu sedih.
Jika memang bercerai denganya yang membuat Alfian bahagia itu tidak papa, tapi kenapa aku harus kehilangannya untuk selamanya.
Setelah merebut kebahagiaan orang lain kau sendiri berharap untuk bahagia Swara?. Seharusnya kau sadar,semua yang di lakukan kita di dunia ini pasti akan terbalaskan dengan sendirinya.
Mungkin cintamu begitu besar kepada suamimu Alfian, hanya saja cara dan mendapatkannya yang salah.
Kini itulah yang seharusnya kau dapatkan, jadi berpikirlah akan ini untuk di jadikan pelajaran.
Bahwa hidup tak semestinya terus berjalan mulus,namun tetap saja akan ada batu yang mempersulit jalanya hidup kita yang tak selamanya mulus dan bahagia ini.
"Apa yang kau katakan Swara?,ini semua adalah takdir, pasti akan ada hikmah dan keindahan di balik semua ini,kau tidak boleh menangis terus sayang!, ikhlaskan Alfian..!,kau baru saja melahirkan,kau tidak boleh stres memikirkan hal ini, yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu dan anakmu, ikhlaskan Alfian pergi!,ini yang akan membuatnya tenang...."
Tidak mau..aku tidak mau.., kenapa jadi seperti ini si...?.
Begitu hancurnya perasaan Swara saat ini.
Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Perasaan ini sudah buyar campur aduk tak karuan entah kemana.
Hingga ia lupa akan sosok putrinya yang telah ia lahir-kan.
Bagaimana kondisinya sekarang ia juga tak perduli.
"Tiduran dulu sayang, berhentilah menangis!"
Aku tidak tahu apa yang putriku cintai dari Alfian. Dia hanyalah lelaki biasa,dia memang tampan dan hebat, tapi bukanya Alfian sendiri tidak mencintai putriku setelah tahu kebenaran ini.
Kenapa Swara masih begitu sayang padanya.
__ADS_1