Sakitnya Berbagi Cinta

Sakitnya Berbagi Cinta
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Sebelum menjadi seorang CEO kebiasaan Alfian yang duduk dan nongkrong itu adalah di kedai kopi.


Yah,di kedai Kopi Kita Bersama.


Kedai ini adalah kedai paling terkenal yang ada di sebrang kantornya.


Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, Alfian keluar dari lingkungan kantor dan duduk di kedai ini.


Dulu setiap harinya ia selalu nongkrong dan duduk di kedai ini setiap kali waktu istirahat kantor.


Sekarang karena ia sudah menjadi seorang CEO ia tak lagi duduk di sini bahkan jarang.


Perasaannya yang sedang tak karuan dan banyak pikiran membuatnya memilih untuk duduk disini.


Ia memesan satu gelas kopi dan gorengan kesukaannya.


Sungguh kebiasaan seperti ini tidak bisa jauh darinya,ia tidak mempunyai rasa gengsi walaupun sudah menjadi seorang CEO yang biasa nongkrong di restoran ataupun caffe seperti biasanya.


"Ada apa dengan wajahmu, kenapa kusut sekali?, seharusnya posisimu yang sekarang begitu membanggakan bukan?.."


Tanya Dimas,ia termasuk sahabat baiknya sejak kecil.


"Luna kabur dari rumah,ia belum kembali?"


"Apa?,Lu..Luna kabur?, bagaimana dia bisa kabur?,kau sudah mulai membalaskan dendam mu itu?"


"Aku hanya memarahinya karena ia pulang ke rumah tengah malam dengan lelaki lain,aku benar-benar merasa kesal saat itu.., bahkan aku tidak bisa mengontrol emosiku saking kesalnya.."


"Kau cemburu..?"


"Tidak,aku tidak cemburu,aku hanya kesal,buat apa cemburu..."


"Cih...,kesal sama cemburu itu peda Alfian,Tapi kau terlihat kesal si saat ini,aku yakin kau cemburu, jangan bilang tidak, aku sudah lama mengenalmu sejak kecil,jadi aku tahu tingkah lain mu yang berbeda dari kenyataan yang sedang kau rasakan saat ini..."


"Cih..sok tahu.."


"Lalu kenapa kau terdiam?,kau sedang memikirkan Luna kan?"


"Aku hanya takut dia kenapa-kenapa,dia sedang hamil, sedang apa ia sekarang?, sudah makan belum?, kira-kira dia lagi apa?,dia tinggal dimana?,aku tahu dia tidak mungkin pulang ke rumahnya,apa dia baik-baik saja, nanti kalau ada orang jahat gimana?..."


"Cih... hahaha..,ini kah yang kau bilang tidak mencintainya?, jelas-jelas rasa sayang dan khawatirnu lebih besar dari pada rasa dendam mu,aku yakin kau mencintainya,lagian Luna itu sangat baik, dia apa adanya dan tidak banyak tingkah kok,cocok juga denganmu,cantik lagi...."


"Berhenti memujinya!,akan aku tutup mulutmu!"


"Tuh kan,kau kesal, inilah cemburu, kau mencintainya,kau benar-benar mencintainya Alfian..."Terus saja Dimas menyudutkan Alfian agar mau mengakui dan menyadari perasaannya.


Tidak menjawab lagi perkataan sahabatnya ini,ia terlihat terdiam dan merasa gelisah jika semakin mengingat Luna.

__ADS_1


"Lihatlah..,kau gelisah kan?,buang rasa dendam mu Alfian,kau mencintainya, lagian semua ini sudah terjadi, siapa tahu Luna tidak tahu jika Nico sudah mempunyai tunangan dulu, makanya ia memiliki hubungan dengannya dan ini juga tidak sepenuhnya salah Luna kan, semua ini salah Nico.."


"Diam!"Semakin kesal,di tambah lagi mengingat kepergian adik tercintanya,ini benar-benar membuat hatinya bimbang dan tak karuan.


"Bisakah kau tidak membahas hal ini untuk saat ini.."


"Oke..oke...iya..iya baiklah, terserah kau saja,aku hanya tidak ingin kau menyiksa dirimu dan terlalu banyak pikiran nantinya..."Berbicara santai dan langsung terdiam sambil menyeruput kopinya.


Sesekali ia mengambil koran yang ada di samping tangannya dan mengibas-ngibaskan ke leher.


Di luar terasa begitu panas,karena sehari-harinya ia terbiasa di selimuti dengan dinginnya semerbak angin AC.


"Baguslah jika kau mengerti..."Menatap Dimas kesal juga sambil menyeruput kopinya.


Lalu tanpa sengaja ia melihat sebuah foto wanita yang tak asing baginya melintas di bayangan matanya itu.


Di sebuah foto perempuan di koran yang sedang di pegang Dimas itu.


"Tunggu.., berikan koran itu padaku!"


"Cih.., apaan si?,aku kan lagi gerah,tuh ambil aja sendiri, lagian buat apa si ini kan koran dua tahun yang lalu..."


"Siapa foto wanita itu,aku lihat!, kenapa mirip sekali dengan.."


"Dengan siapa?,Apa si?,foto siapa si?.."Merasa bingung dan mencoba membalik-balikkan koran itu.


Ini juga membuat Dimas terdiam dan merasa begitu penasaran.


"Ha.. siapa ini,Lu..Luna?"


"Benarkah..?"Langsung merebut koran itu dari tangan Dimas,ia merasa begitu penasaran sejak tadi.


"Luna?...,ini Luna kan?"Menatap lekat foto perempuan yang ada di koran ini.


Ia sangat mirip dengan istrinya Luna.


"Kenapa kau hanya menatapnya saja?,coba liat identitas dan keterangan yang ada di koran ini..."Merasa gregetan Dimas,ia merebut koran itu kembali dari tangan Alfian.


"Bagaimana bisa ia masuk ke dalam koran?"Berbagai pertanyaan langsung melintas di pikirannya.


"Kasus wanita cantik tabrak lari, korban meninggal di tempat paska kecelakaan,hah... maksudnya?"Semakin penasaran setelah membaca beberapa kata dari satu kalimat yang ada di koran ini.


Alfian pun mengerutkan dahinya dan mencoba melihat koran itu kembali dari dekat.


"Korban jiwa bernama Lani Ayunda Putri, tunggu-tunggu..,ini itu Lani apa Luna si?,apa korannya salah ketik?"


"Salah ketik bagaimana?,ini kan korban tewas masa salah nama.."

__ADS_1


Merebut koran itu kembali dari tangan Dimas.


"Entar,dia itu mirip sekali seperti Luna kan?, nama lengkapnya juga sama-sama Ayunda Putri,apa Luna memiliki kembaran waktu dulu?"


Termenung, sambil menatap foto ini, terlihat perbedaan antara mereka yaitu letak lesung pipinya.


Alfian sangat mengetahui hal ini, karena di setiap harinya ia selalu menghabiskan waktu bersama Luna,jadi ia selalu memperhatikan apapun yang di miliki Luna di parasnya yang cantik itu, karena apa?, karena memang sebenarnya dia itu menyukainya.


Jika tidak, ia tidak mungkin memperhatikannya sampai sedalam itu.


"Kau boleh membenciku sekarang,tapi setidaknya kau tahu bukan aku wanita yang ada di foto itu"


Teringat akan perkataan Luna sebelum kabur ia dari rumah.


Apa maksudnya ini?, kenapa dia bilang bukan dirinya,apa yang ia maksud itu adalah orang lain..,


*Apa dia hanya berbohong?,tapi dari matanya terpancar kejujuran yang ia katakan.


Apa sebenarnya orang ini yang menjadi penghalang hubungan adikku dan Nico,aku harus bagaimana jika bukan Luna orangnya*?,


"Woy..,apa yang sedang kau pikirkan sekarang?"Sejak tadi Dimas juga memperhatikan Alfian yang terus menyengkrut-kan dahinya memikirkan sesuatu.


"Sebelum dia kabur dari rumah,Luna bilang dia bukan wanita yang ada di foto itu bersama Nico..,Tapi aku benar-benar tidak percaya dengan perkataanya,aku terus memarahinya kerena begitu kesal,tapi apakah wanita ini yang bersama Nico?,dan apakah Luna memang memiliki kembaran sebelum kematiannya dan inikah orangnya?.."


"Lah terus... Jangan bilang kalau dendam mu itu salah alamat"


"Tidak mungkin..."Semakin gelisah hatinya ia juga memikirkan hal yang sama saat ini,ia juga takut sendiri jadinya.


"Coba kau bandingkan antara foto ini dengan foto yang bersama Nico itu,itu foto jelaskan,baik dari senyuman atau perbedaan yang lain mungkin..!"


"Iya... iya.. baiklah"


Langsung mengambil foto itu yang tersimpan di dompetnya.


Kedua orang ini langsung membandingkan dua foto dengan seksama.


Terpapar jelas dia antara foto ini sama-sama memiliki lesung pipi dan yang lebih jelas lagi,ada satu tahi lalat yang terletak di ujung matanya.


"Luna... tidak memiliki tahi lalat yang di bawah ujung matanya kan?"


"Tidak,tapi ia memang benar-benar mirip sekali dengan Luna, apakah dia itu kembarannya?,dan apakah memang wanita ini yang bersama Nico dan bukan Luna?"


"Untuk memastikan semua ini kau harus mencari Luna sampai ketemu!, tanyakan yang sebenarnya kepadanya!, dan dengarkan semua penjelasan yang ia katakan!,kau jangan sampai terus memikirkan dendam mu itu tanpa memikirkan kebenaran,dan yang lebih kacau lagi jika kau sampai salah alamat..."


"Aku... harus bagaimana sekarang?"Gemetar jiwanya,ia semakin merasa gelisah sendiri jadinya.


"Terserah kau saja, bagaimana pun caranya kau harus mencari Luna dan menemukanya, karena inilah yang pasti dan yang terbaik Alfian..!,aku juga akan berusaha membantu mencarinya juga.."

__ADS_1


__ADS_2