
Jaka kembali ke dalam gedung kantor dengan wajah kesalnya saat ini.
Setelah berada di depan pintu ruangan majikanya ia langsung berwajah pias.
Ia tahu ia pasti akan kena amukan atau ocehan dari atasannya karena tidak bisa menjalankan perintahnya dengan baik.
Tapi ia mencoba untuk tetap tenang,ia yakin jujur itu tidak akan menyebabkan kerugian baginya.
Ketika gagang pintu bergerak, mata Demian langsung beralih ke arahnya.
Ia juga tahu siapa yang sudah datang ke ruangannya itu.
"Eh.. Tuan muda"Menundukkan kepalanya setelah masuk ke dalam ruangan dan bertatapan dengannya secara langsung.
"Bagaimana, kau sudah bertemu dengannya?"
Kenapa Tuan Muda begitu berharap untuk bertemu dengannya,apa dia itu wanita penting,
Jaka sudah menyeringai.
Hal ini membuat Demian mengerutkan dahinya sambil menatap Jaka.
"Mohon maaf Tuan Muda,saya memang sudah bertemu dengannya, tapi saya tidak berhasil membawanya kembali ke kantor"Ia juga terlihat menundukkan kepalanya karena merasa bersalah saat ini.
"Maksudmu?,Kau tidak bisa mengatasi wanita itu hah?, hanya seorang wanita?"
Sudah berwajah masam Demian.Ia juga terlihat kesal menatap Jaka.
"Tiba-tiba lelakinya datang Tuan Muda, ia juga menghajar saya dan melarang saya untuk menyentuh Nona itu,ia juga terlihat sangat gagah dan tampan, sepertinya ia memang berasal dari keluarga konglomerat"
Apa maksudnya itu suami Swara
Demian terdiam sesaat.
Ia benar-benar salah paham akan ini, Namun ia juga merasa semakin penasaran dengan wanita itu.
"Dia juga mengenakan baju dokter Tuan muda, sepertinya ia benar-benar kekasih yang sengaja menjemput Nona itu ke halte tadi..."
"Cukup!,aku tidak ingin mendengar lagi tentang lelaki itu,aku juga tidak perduli akan-nya"
Dokter?, suami Swara bukanlah seorang dokter kan, melainkan CEO, jadi lelaki mana lagi yang wanita itu dekati?.
Beraninya dia menolak segala tawaranku, padahal aku sudah menjanjikan banyak uang untuknya jika ia melayanimu dengan baik.
"Baiklah,aku akan pergi,kau berjaga lah disini, Jangan sampai orang sembarangan masuk!"
"Baik Tuan.."
Demian pergi meninggalkan ruangan begitu saja tanpa berbicara panjang lebar lagi. Hal ini membuat Jaka merasa lebih tenang untuk masalah ini.
Hebat sekali wanita itu,ia bisa mendapatkan seorang dokter dan suami Swara sekaligus.
__ADS_1
Menggerutu sambil berjalan meninggalkan ruangannya.
Kenapa ia jadi kesal sendiri tanpa alasan?,yang jelas ia memang sedang salah paham terhadap Luna saat ini.
*****
"Kau masih memikirkan perkataanku tadi kan?, maaf Luna, ini mungkin membuat mu merasa canggung dan tidak nyaman"
Sembari menyetir Edward memang memperhatikan Luna yang sedang terdiam sejenak tadi.
"Apa yang kau katakan Edward?"
"Justru aku yang harus bertanya?,apa yang sedang kau pikirkan Luna..?"
"Tidak ada.., memang apa yang aku pikirkan hehe..."Sambil terseyum kecil menatap Edward yang sedang bertanya itu.
"Kau tidak menyinggung perkataan ku sama sekali yang tadi?"Merasa heran sekaligus penasaran dengan isi hati Luna saat ini.
"Tidak, tenanglah..!,aku tidak berharap lebih, lagian itu tidak mungkin. Aku tahu kau melakukan ini untuk menyelamatkan ku tadi kan, terimakasih Edward.."
"Apanya yang tidak mungkin?"Memberhentikan mobilnya seketika di pinggir jalan.
Edward benar-benar ingin mengungkapkan perasaannya kepadanya sekarang ini.
"He'h?,e'...tidak mungkin kan aku bersamamu apalagi kau menyukaiku, jadi aku tidak terlalu memikirkannya,kau selalu ada untukku Edward,dan kau juga selalu melindungi ku di setiap kalinya, terimakasih banyak Edward..., terimakasih banyak,aku benar-benar tidak tahu harus menganggap mu apa,kau seperti seorang kakak bagiku.."
Mendengar perkataan itu membuat telinga Edward berdengung terasa menusuk ke hatinya dan membuatnya merasa kesal tiba-tiba.
Kedua mata Luna sudah membulat sempurna.
Mendengar perkataan Edward yang begitu serius menatapnya lekat membuatnya terdiam membisu.
Apa yang kau katakan Edward,apa aku ini sedang mimpi.
Masih tidak percaya akan ini, sesekali ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah lain sesaat.
"Lihatlah, bercanda mu tidak lucu Edward,aku tidak ingin bercanda, jangan membuatku merasa tambah bingung begini"
"Luna, kau masih menganggapku bercanda?,aku serius,tatap mataku!,aku benar-benar serius,aku menyukaimu Luna aku benar-benar menyayangi mu.."
Bibirnya terasa semakin kelu, untuk berbicara lagi pun rasanya begitu berat bagi Luna.
"Luna..."Panggilan lembut Edward sambil berusaha menyakinkannya dan mencoba memegang tanganya.
Kemudian menatapnya lekat kembali untuk meyakinkan Luna bahwa dia sangatlah serius akan ini."Aku menyukaiku, aku mencintaimu,dan aku juga sayang kepadamu Luna,aku ingin kau mengerti akan ini,aku tidak berbohong,aku mencintaimu Luna.."
Mata itu sudah menganak air mata di ujung kelopak matanya.
Lelaki yang ada di depannya ini membuatnya terdiam seperti patung tidak bisa berkata-kata, sungguh ini seperti mimpi baginya.
Namun di dalam hatinya merasa bergitu senang dan bahagia secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan?,itu tidak mungkin,aku mimpi kan?.."Sambil berderai air matanya. Ia tidak yakin akan kehidupanya hari ini.
"Kau tidak percaya juga?..."Sambil mengusap mata Luna yang berderai itu.
"Ini nyata..?"
"Ini nyata,aku ada di depan mu Luna.."
"Kenapa harus seperti ini, bagaimana bisa kau menyukaiku Edward, apa kau tidak melihat keadaan ku sekarang,aku ini siapa,aku dan kamu sangatlah berbeda.., kau,keluargamu dan sedangkan aku..."
"Cukup!,aku tidak tahu apa yang sedang kau katakan Luna?, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu, aku hanya ingin kau tahu itu,aku.. aku juga tahu bagaimana keadaan dan suasana hatimu sekarang, tapi intinya aku sangat menyukaimu Luna..."
"Kasta kita jauh begitu berbeda Edward, tidak mungkin kita bersama, jujur saja aku memang mempunyai perasaan untukmu,tapi aku sadar diri akan ini,aku juga belum siap untuk kedepannya lagi terlebih perihal tentang menyukai seseorang, lagian kita tidak mungkin bersama..."
"Aku mohon hentikan ocehan mu tentang harta!,ini tentang perasaanku Luna,aku sedang mengungkapkan bagaimana perasaanku saat ini kepadamu,bukan malah mengungkit kekayaan, lagian semua ini cuma titipan kan?, keluargaku juga tidak pernah mementingkan atas kasta dan kekayaan, kebahagiaan itu dari hati kita sendiri Luna, dimana kita berusaha di situlah kita yang akan menghasilkannya..."
"Edward.."Air matanya berlinang kembali menatap Edward.
"Aku ini adalah calon janda yang sedang hidup luntang-lantung gak jelas cari uang buat hidupku kedepannya, aku tidak pantas untukmu,kau sangatlah baik.., seumur hidupku kau adalah lelaki yang paling baik yang pernah aku temui, kau berhak mendapatkan yang lebih sempurna dan lebih baik dariku, jangan mencintaiku...aku benar-benar tidak pantas untukmu"
"Tatap aku sekarang Luna,aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan sekarang, aku hanya mencintaimu...dan asal kau tahu,aku juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan, karena seharusnya kau tahu,aku ini adalah seorang duda...,sama kan.."
"Duda?"Sedikit kaget mendengarnya, namun Luna masih merasa semakin insecure.
"Tapi tetap saja kan keluarga kita..."
"Cukup!,jika kau mengulangi perkataanmu yang panjang lebar itu,aku tidak ingin bertemu denganmu lagi,aku akan tetap mencintaimu,dan aku juga tetap akan mencintaimu apapun yang kau katakan"
"Jangan mencari uang lagi!,aku yang akan mengurus perceraianmu,dan aku akan tetap menunggumu sampai kau mau hidup bersamaku nantinya"
"Edward..."
"Kita pulang!, tunjukkan dimana rumahmu kau harus istirahat!"
"Rumahku jauh Edward,kau harus berkerja di rumah sakit kan?"
Sepertinya ke-dua orang itu juga melupakan akan jadwal makan siang bersamanya.
Edward merasa kesal sendiri akan ini.
"Kau sungguh menolak ku Luna?"Bertanya dengan mengemudi mobilnya.
"Aku tidak menolak mu Edward,aku hanya butuh waktu untuk..."
"Aku tunggu sampai kau mau hidup bersamaku nantinya"
Kau tahu rasanya aku ingin sekali menangis Edward, kenapa kehadiranmu benar-benar membuatku merasa terharu.
Terlebih dengan ungkapan perasaan mu ini,aku benar-benar tidak menyangka,
Edward,
__ADS_1
Luna benar-benar ingin menangis bahagia, tapi ia benar-benar merasa tidak pantas untuk Edward akan kehidupanya yang sekarang.