
Pesta besar, megah dan mewah di selenggarakan di dalam gedung ini.
Gedung yang berada di tengah kota yang tak jauh dari komplek perumahan di mana keluarga Edward tinggal.
Seluruh luas halaman parkiran di wilayah ini sudah di penuhi dengan berbagai kendaraan orang-orang yang menghadiri pesta pernikahan ini.
Yah pesta pernikahan besar-besaran tentunya.
Kerena pesta pernikahan ini adalah pesta pernikahan kedua putra orang nomor satu pemilik rumah sakit terbesar xxxx.
Tak ada hentinya para tamu berdatangan, mereka semua tampak cantik dan tampan ala penampilan mereka sendiri.
Senyuman tak berhenti melintas di wajah para tamu yang berbondong memberikan selamat kepada mempelai wanita maupun pria yang menikah itu.
Kedua pasangan pengantin itu sama-sama saling berdiri dan berjejer di pelaminan.
Mereka sudah melakukan akad nikah dengan lancar tanpa halangan.
Senyuman tak berhenti melintas di wajah mereka karena kebahagiaan yang begitu besar hari ini.
Senyuman bahagia juga semestinya terlihat begitu indah di raut wajah orang tua mereka yang menghadiri pesta ini.
Harapan terbesar kedua orang tua Luna adalah kebahagiaan putrinya yang berawal dari hari ini sampai seterusnya nantinya.
Setelah melewati kepahitan dan beban yang di rasakan putrinya selama ini membuat mereka bungkam dan hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan putrinya kedepannya.
Tapi hari ini, do'a mereka sudah terkabulkan.
Kini Edward datang di kehidupan putrinya dengan penuh rasa cinta dan tulus untuk Luna.
Membuat air mata haru mereka perlahan berderaian karena begitu bahagia dan menahan rasa haru.
Aku tak menyangka hari ini aku akan berdiri di pelaminan bersama Edward,
aku juga tidak menyangka pertemuanku dengan Edward selama ini adalah hal terindah yang ada di dalam hidupku sampai saat ini.
Semoga kebahagiaan ini akan selalu abadi bersamaku selamanya.
"Apa yang kau pikirkan sayang?,ini adalah hari kebahagiaan kita,aku sungguh tidak ingin melihat mu menangis.."
__ADS_1
Melihat istrinya yang terdiam dan berkaca-kaca membuat Edward merasa tidak tenang sendiri.
"Tersenyumlah sayang,kita akan segera di potret.."Penuh dengan kelembutan dan senyuman manis Edward menatap istrinya yang ada di hadapannya ini.
Aku bahagia Edward,aku sangat bahagia, terimakasih atas kehadiran mu, tetaplah bersamaku selamanya,
Rangkulan tangan Edward sudah melingkar hangat di pinggang istrinya, mereka berdua pun tersenyum berhadapan di atas pelaminan dan menyelesaikan acara pemotretannya.
Sama halnya dengan kedua mempelai yang berada tepat di sebelah pasangan Edward dan Luna itu, mereka berdua juga sedang berpandangan hangat saling memancarkan aura bahagia satu sama lain.
Para tamu masih tak berhenti berdatangan dan menikmati pesta pernikahan sekaligus resepsi pernikahan mereka yang sudah sah sebagai pasangan suami istri.
Pesta ini adalah pesta yang paling besar yang ia temui di dalam hidup Luna.
Ia tidak menyangka juga akan pesta yang begitu besar dan meriah ini.
Pesta pun berlangsung lama tanpa adanya kendala dan rintangan.
Tapi anehnya tidak ada kehadiran Swara di dalam pesta ini, seharusnya ia hadir dan memberikan selamat untuk mereka.
Karena hubungan mereka juga saling mengenal dan cukup dekat,tapi sepertinya Swara benar-benar tidak bisa hadir karena suatu halangan.
*****
"Kau pikir aku ini kembali?,aku hanya ingin menyelesaikan urusan ku denganmu, bukan untuk kembali"Sama ketusnya seperti istrinya.
"Ada hubungan apa kau dengan sekertaris itu,ada hubungan apa?,ayo jawab!"
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, bahkan aku saja tidak kenal, kenapa kau main memfitnah ku sembarangan?"
Masalah ini belum juga keluar ataupun selesai karena waktu itu Alfian belum menjelaskan sedikit pun tentang kesalahpahaman ini, hingga membuatnya berkepanjangan tak selesai-selesai.
"Aku sedang hamil tua, seharusnya kau mendampingiku dan menemaniku di setiap harinya kan,tapi ini apa?,kau pergi dan kembali tanpa rasa bersalah,apa kau punya hati?"
"Kau pikir aku yang menghamili mu?, bukan kan.., seharusnya kau malu dan tidak membanggakan kandungan mu ini kepadaku,apa kau sendiri punya pikiran?, tidak kan?,apa kau tidak malu?"
Sebenarnya niat Alfian kembali ke rumah untuk menyelesaikan masalah ini dengan istrinya.
Namun sesampainya di rumah ia benar-benar di sambut dengan ocehan Swara yang begitu panjang lebar tanpa henti.
__ADS_1
Ini membuat telinganya semakin terasa panas dan pusing.
Semula keadaan hatinya sudah tenang.
Tapi justru Alfian kembali ke rumah di sambut dengan suasana tidak enak hati,ini membuatnya berubah suasana dan terasa pusing bercampur kesal kembali.
Hingga akhirnya keduanya berdebat kembali seperti ini.
"Iya aku tahu aku yang salah,ini semula memang salahku, tapi setidaknya tunjukkan sikapmu sebagai seorang suami, bukan malah seterusnya bersikap seperti ini,kau pikir aku ini tidak memiliki perasaan, seharusnya kau ini pikirkan itu, bukan malah bersikap seenaknya..."
"Kau bilang aku tidak memiliki perasaan?, sampai detik ini aku sudah bertahan bersamamu, seharusnya rubah sikapmu yang manja dan melayani suami mu dengan baik, bukannya malah mengoceh dan terus menerus membuatku pusing"
"Baiklah,aku bisa berubah seperti apapun yang aku inginkan, tapi setidaknya kau juga harus berubah layaknya seorang suami untukku,apa kau bisa melakukan itu?,aku sudah memberikan segalanya untukmu, apalagi?,harta, kekayaan,kau juga yang pegang kan?,kini hidupmu enak, tapi apa,kau tidak memiliki rasa terimakasih sama sekali.."
"Apa maksud perkataanmu ini?,kau pikir aku hanya menerima suka rela,aku yang menjalankan perusahaan mu,aku yang mengurusnya juga,aku bekerja sibuk siang malam,tapi kau dengan seenaknya berbicara seperti ini, kau menyuruhku untuk berterimakasih pada mu..,kau benar-benar tidak menghargai ku sebagai seorang suami,aku capek berdebat denganmu...,aku capek, urus hidupmu sendiri!"
Berbalik badan,kali ini Alfian sudah kehabisan kesabaran dan akan pergi lagi meninggalkan Swara.
"Alfian.., Alfian kau mau kemana?,Alfian.."Teriakan Swara melihat suaminya yang akan pergi meninggalkannya kembali.
Tidak ada respon ataupun sahutan balik dari istrinya,ini membuat Swara semakin kesal dan geram.
"Alfian.. Alfian.. Alfian..., aahh...aw...aw perutku"Swara sedikit berlari untuk mengejarnya tadi, sehingga tak sengaja ia tersandung dan terpentok meja.
"Sakit..."Rintihan Swara sambil terpuruk memegangi perutnya di atas lantai.
Seolah-olah perutnya menjadi kontraksi tiba-tiba.
Memang umur kandungannya sendiri sudah memasuki bulan dan hari kelahirannya,hal ini membuat pelayan yang melihatnya ikut panik.
Semula Alfian tidak peduli, namun mendengar suara pelayan yang panik dan terburu-buru membuatnya beralih pandangan menghadap ke arah Swara.
"Ya ampun Nona,anda..anda tidak papa.., Nona.. Nona kenapa?"
"Tolong Bi,perutku sakit sekali,ah.. tolong Bi.."Wajahnya berubah pucat seketika.
"Swara..."Alfian pun mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan rumah.
Seburuk-buruknya Alfian masih memiliki perasaan dan rasa takut akan keadaan Swara saat ini.
__ADS_1
Ia langsung membawanya ke rumah sakit
agar istrinya segera di tangani oleh dokter.