
Baik Alina ataupun Naina sampai terpaku atas ucapan Rama yang mengatakan bahwa pria itu jatuh cinta pada masakannya. Masakan yang sering Naina bikin untuk adiknya, tapi ternyata sang adik malah di berikan pada Rama.
"Kamu suka masakan yang aku buat?" tanya Alina menatap tidak percaya, yang membuatnya tidak percaya bahwa Rama cinta sama masakan itu.
"Iya, kaku kan yang masak dan sering aku kasih makanan? Ini sangat enak dan aku suka, itu juga alasan ku menyukaimu karena kamu pandai memasak."
Lagi-lagi Naina dan Alina terdiam bingung dengan pikiran mereka sendiri.
"Kamu benar Ram, ketika seorang wanita bisa masak adalah kebahagiaan sendiri bagi kita sebagai pria. Kenapa? Karena itu artinya calon istri kita nanti akan memasakkan makanan enak setiap harinya. Dan itu juga alasan ku menyukai Naina, karena masakannya." Mario juga berkata jujur mengenai salah satu alasan ia menyukai Naina. Pandangan matanya menatap kagum wanita yang ada di hadapannya. Ia cukup bangga memiliki calon istri pandai masak.
Naina tersenyum canggung pada Mario, ia melihat raut wajah Alina yang terlihat murung. Mungkin saja kecewa pada suatu hal.
"Mau wanita pandai masak ataupun tidak, pria memang wajib menyukainya. Kenapa? Karena kita tidak pernah tahu jodoh kita itu siapa. Kadang manusia hanya bisa meminta pasangan yang seperti ini, tapi Tuhan yang menentukan dengan siapa kita bakalan berjodoh," ucap Naina bijak.
"Kamu benar Kak, semua orang berbeda-beda dan semua orang tidaklah sama. Jadi selera orang juga pastinya akan berbeda termasuk wanita yang akan menjadi calon istri dari pria itu sendiri. Yang penting wanita bisa melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri, melayani suami, mengurus suami, dan pastinya menjalankan tugas sebagai istri pada umumnya."
Naina diam dan hanya tersenyum saja, namun matanya beralih menatap Rama. "Tugas seorang istri? Apa aku bisa Sedangkan aku dan Rama berbeda usia bahkan Rama adalah pacar adikku sendiri. Istri? Ya aku memang seorang istri dari bocah SMA bernama Rama, tapi istri rahasia yang menikah secara rahasia juga. Aku cintanya sama Mario, tapi Rama adalah suamiku yang sekarang. Lalu aku harus apa?"
Dan mereka berempat makan bersama-sama dengan kecanggungan antara Rama dan Naina.
*****
Keesokan Harinya
__ADS_1
"Pah, hari ini pembagian Raport, papa bisa datang?" ujar Rama sebelum pergi ke sekolah.
"Lihat saja nanti kalau tidak sibuk."
Rama menghela nafas, ia sudah meyakini kalau Papanya pasti tidak akan datang.
Hari Sabtu tanggal 15 Juni 2022. Hari dimana pembagian raport bagi seluruh anak SMA PELITA BANGSA. Hari yang ditunggu setiap murid, hari kenaikan kelas.
Setiap wali kelas mengadakan tatap muka dengan para orangtua murid di saat pembagian raport. Ini merupakan kebiasaan dan sudah menjadi tradisi sekolah di setiap semester, raport harus di ambil oleh orang tua. Raport anak-anak tidak akan di bagikan jika tidak orangtuanya atau sanak saudara yang mengambil.
"RAMADHAN RESTU ALKAHFI." suara perempuan yang diyakini seorang guru, tengah memanggil nama salah satu murid kelas 11. Nampak guru itu celingukan mencari orangtua pria yang kerap di panggil Rama
"Ramadhan Restu Al-kahfi." Dan sekali lagi guru perempuan memanggil orang tuanya sang murid.
"Rama, orangtua lo gak datang lagi?" tanya pria bermata sipit bernama DENI. Cowok bermata sipit itu menatap sahabatnya yang sedang duduk di teras depan kelas.
Sedangkan orang yang dituju mengangkat bahunya. "Mana gue tahu, paling juga sibuk ngurusin kerjaan mereka. Orangtua gue 'kan sibuk kerja, mana mau dia datang ke sekolah, buang-buang waktu saja."
Rama terlihat begitu acuh terhadap orangtuanya. Ia menganggap jika hal ini sudah menjadi hal biasa dan makanan ketika pembagian raport tiba. Setiap kali ada pembagian raport, orang tuanya selalu mengatakan sibuk bekerja dan bisa diwakilkan kepada orang tua teman-temannya. Itulah sebabnya Rama tidak berharap orang tuanya datang.
"Sesibuk apapun orangtua jika mengangkut anaknya pasti selalu meluangkan waktu. Tapi anehnya orangtua lo selalu beralasan kerja," sahut cowok berkulit kuning langsat bernama RIAN.
"Tapi tidak dengan orangtua gue, Ian. Papa tidak pernah mau datang ke sekolah, sekalipun itu hanya mengantarkan saja. Ya, seperti yang sering kalian perhatikan selama ini."
__ADS_1
Mata Rama tetap fokus pada benda pipih di tangannya. Ia paling menyukai game dan juga ada kegiatan lain yang membuatnya lebih tertarik daripada harus membahas kedua orang tuanya.
"Rama, pasti papa kamu masih sibuk mengurusi kerjaannya. Kamu yang sabar ya Ram," ucap Alina yang ada di sana mencoba menenangkan Rama.
Rama tersenyum. "Saking sibuknya ngurusin kerjaan sampai tidak pernah ingin tahu kegiatan anaknya. Tapi kalau mengenai Gilang pasti gerak cepat. Sabar, ya aku akan sabar sampai sabar itu sendiri meledak berubah menjadi amarah jika tidak di hargai terus."
"Kamu jangan bicara gitu Rama, dia itu orangtua kamu juga."
"Aku tahu dia orangtuaku, tapi cara papa memperlakukan ku seperti bukan anak saja. Dahlah aku malas bahas papaku." Rama kembali fokus pada game yang ia mainkan.
"Tapi aku yakin kali ini pasti papa kamu akan datang." Alina meyakini itu.
"Semoga saja, kita lihat saja nanti. Jika papa datang itu adalah suatu kejadian luar biasa benih langka yang harus di abadikan."
Hingga langkah tergesa seseorang terdengar nyaring di telinga anak-anak sekolah. Mereka pada menoleh melihat siapa yang datang. Termasuk Deni dan juga teman-teman Rama yang lainnya.
"Itu bokap lo, Rama." Deni menepuk-tepuk pundak Rama. Karena penasaran, pria berkulit putih dengan rambut belah tengah dan kancing baju terbuka dua, mendongak melihatnya.
"Itu beneran bokap gue? Tumben banget datang ke sekolah." Gumam Rama tapi masih bisa di dengar oleh Deni dan Rian.
"Apa kataku, papa kamu pasti akan datang. Ini adalah hari spesial kamu Rama, jadi papa kamu akan datang buat kamu." Alina senang melihat papanya Rama datang ke sekolah.
"Spesial? Tapi sayangnya ini bukan hari spesial ku, tapi hari dimana papa akan murka padaku. Lihat saja nanti, pasti papa akan marah-marah padaku." Rama memperhatikan papanya yang langsung masuk kelas tanpa melihat ke arahnya.
__ADS_1