Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 25 - Kita Putus


__ADS_3

Rama sudah menunggu kedatangan Alina di cafe yang biasa mereka kunjungi, ia menunggu sekitar satu jam. Dia juga mengajak Deni dan juga Rian untuk menemaninya dan menjadi saksi atas keputusan yang ia buat sendiri.


"Ram, lo ngapain ngajak kita ke cafe? Emangnya lo mau traktir kita? Alina juga datangnya lama banget, apa dia lupa jalan ke sini?" tanya Deni.


"Iya Rama, ini tidak biasanya pagi-pagi gini lo ngajak kita ke mari. Mungkin Alina sedang do jalan." Rian juga heran. Melihat keadaan kafe yang masih sepi membuat kedua sahabatnya bertanya-tanya.


"Salah satunya gue mau traktir kalian berdua di sini, sekalian gue mau pamitan liburan ke kota B. Dan selama di kota B, tugas kerjaan kalian yang kerjakan."


"Soal itu mah gampang, kita kan masih bisa komunikasi," kata Deni.


"Eh itu Alina," ucap Rian menepuk pundak Rama.


"Kalian pindah dulu dari sini, buruan minggir!"


"Lo ngusir kita Ram? Keterlaluan lo, datang pacar suruh kita pergi." Deni mendadak lebai.


"Gue mau bicara serius sama dia."


"Hai Rama," sapa Alina tersenyum lalu duduk. Rian dan Deni pun beranjak pindah dari sana mencari tempat duduk yang lain, tapi masih tidak jauh dari tempat duduk Rama


"Hai juga, aku sudah pesankan kamu makanan kesukaan kamu."


"Kebetulan sekali kamu sudah memesan makanan kesukaan aku. Aku senang banget kamu perhatian gini." Alina senang Rama ingat makanan kesukaan dia. Ya di atas meja sudah ada beberapa makanan yang telah disiapkan dari menu utama yang ada di cafe itu.


"Oh iya, ini makanan untuk kamu." Alina mengeluarkan kotak makanan yang ia bawa dari rumah untuk Rama. "Aku sendiri loh yang masak ini buat kamu."


"Jadi kamu lama masak dulu?" tanya Rama, Alina mengangguk. Ia memang belajar masak dan sebelum bertemu Rama meminta Kakaknya memasak nasi goreng spesial kesukaan Rama, tapi dia yang memasaknya dan Naina hanya mengarahkan saja. Alina yakin kalau Rama pasti bakalan suka sebab ia masaknya penuh cinta dan resepnya pun dari Naina.


Rama menatap Alina dengan tetapan bersalah. Ia tidak menyangka kalau Alina sampai segitunya demi memasak untuknya.


"Kamu makan ya? Ini buatan aku sendiri loh."

__ADS_1


"Iya aku makan." Rama tidak mungkin begitu saja membiarkan makanan yang di bawa Alina. Ia membuka penutup kotak makanannya lalu mengambil sendok dan ia mencobanya.


Ketika satu suap makanan itu masuk ke dalam mulutnya Rama, ada rasa yang berbeda. Rasa makanannya tidak sama seperti yang sering ia makan. "Kok beda dari biasanya ya? Yang biasa lebih enak, ini juga enak tapi tidak seenak kemarin-kemarin."


"Bagaimana, enak?" tanya Alina harap-harap cemas.


Rama mengangguk, "enak, sangat enak. Tapi ini beneran buatan kamu kan?"


"Iya, dong ini masakan aku. Aku senang kamu menyukainya."


"Aneh, kali ini Alina terlihat senang dan yakin jika ini masakannya. Namun aku merasa yang ini berbeda. Ah sudahlah, sekarang aku harus bicara serius sama Alina."


Namun, Rama membiarkan dulu Alina selesai makan. Sesudahnya barulah ia bicara.


"Ah enak sekali. Makasih ya atas traktiran makannya."


"Sama-sama. Oh iya Al, aku ingin bicara serius sama kamu."


Rama menunduk, ia membuang nafas berat. "Alina, sebelumnya aku berterima kasih kepada kamu karena sudah mau menjadi pacarku selama sembilan bulan ini. Aku senang bisa menjadi bagian dari hatimu, aku juga senang bisa memiliki pacar seperti mu."


Alina masih mendengarkan, pun dengan Deni dan juga Rian yang mencuri pembicaraan Rama dan Alina.


"Namun aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita. Aku mau putus."


Deg.


"Putus!" ucap Alina kaget.


"Rama minta putus sama Alina! Ini tidak salah?" bisik Deni.


"Gue juga tidak menyangka Rama bakalan memutuskan Alina. Kita dengar saja dulu alasan dia."

__ADS_1


"Maaf," lirih Rama menatap Alina.


"Kenapa? Kenapa kamu mendadak memutuskanku? Apa salah ku? Setahuku hubungan kita baik-baik saja, Rama." Alina tidak tahu kesalahannya apa sampai Rama minta putus.


"Kamu tidak salah apa-apa, tapi aku yang salah tidak bisa menjaga perasaan kamu. Maaf, kota putus dan aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Maaf." Rama berdiri, ia tidak ingin melihat Alina menangis karenanya. Jika itu terjadi ia tidak akan tega dan malah membuatnya sulit menentukan pilihan.


"Rama, kamu tidak bisa begini. Kasih aku alasan mengapa kamu sampai ingin putus." Alina juga berdiri menghalangi Alina.


"Alasannya aku tidak suka kamu lagi." Sebenarnya berat ia berucap seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Keputusan ini harus ia ambil demi mempertahankan pernikahan yang menurutnya jauh lebih tinggi daripada hanya sekedar pacaran.


Alina menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. "Bohong, kamu berbohong. Kamu tidak mungkin tidak suka aku lagi."


Namun Rama melepaskan tangan Naina dan ia melangkah keluar. Deni dan Rian berdiri, mereka juga bingung atas keputusan Rama yang mendadak ini.


"Alina, mungkin Rama ingin ..."


"Diam lo! Pasti ini semua gara-gara kalian kan? Pasti gara-gara ajakan kalian yang sesat ini Rama mutusin gue!" sentak Alina menyalahkan mereka.


"Loh kok lo malah nyalahin kita? Kita aja tidak tahu Rama bakalan mutusin lo," sahut Deni kesal.


"Kalau bukan karena kalian siapa lagi, hah? Kalian berdua suka ngajak Rama nongkrong, ngajak Rama main balapan, ngajak Rama main game, dan gue yakin itu alasan Rama mau jauhin gue karena dia mau ikutan kalian."


"Cukup ya! Cukup lo nyalahin kita. Sekarang gue malah senang Rama putus dengan cewek yang suka ngatur seperti lo, gue senang Rama bebas dari cewek yang suka nekan dia sesuai kemauan lo," kata Rian lalu pergi di ikuti oleh Deni.


"Sialan, kalian semua sialan. Rama, kamu tidak bisa giniin aku. Aku tidak terima kamu putusin gini."


"Akhhh..." jeritnya marah.


"Berisik Mbak! Kalau mau buat keributan silahkan di luar!" ujar salah satu pegawai Cafe.


"Kalian yang berisik!"

__ADS_1


__ADS_2