
Tanpa di antar papanya, tanpa diantar mamanya, dan hanya diantar oleh Nenek dan teman-teman Rama. Itupun hanya Deni dan Rian karena sebagian orang sudah pada pulang ke rumah masing-masing. Ada rasa sedih ketika keluar lagi rumah namun sosok yang menjadi cinta pertamanya malah tidak terlihat bahagia dan seakan menunjukan kekecewaannya.
Pindah dari rumah keluarganya dan akan menetap di rumah suaminya. Mengingat kata suami, Naina pernah menyangka kalau dia akan menikah dengan pria dibawah umurnya. Lima tahun perbedaan usia mereka. Namun dari wajah jangan ditanya, keduanya terlihat seumuran.
"Kalau gitu kita balik dulu, Ram. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian berdua. Pokoknya doa terbaik buat pernikahan kalian," kata Deni.
"Iya, Ram. Gue juga hanya bisa mendoakan kalian berdua. Dan kalau perlu apapun jangan sungkan sama kita."
"Pastinya, Bro. Dan gue juga mau bilang terima kasih atas semua bantuan yang kalian lakukan. Tanpa bantuan kalian, semua acara tidak akan selesai. Dan gue juga berterima kasih karena kalian selalu mau gue repotin."
"Tidak salah, Rama. Kita kan saudara. Kalau gitu kita baling dulu. Nenek, Naina, kita pamit," kata Deni berpamitan pada mereka bertiga.
"Mari, Nek. Assalamualaikum." Sahut Rian dan mereka berdua pulang setelah berpamitan sama pada ketiganya.
"Rian tunggu!" Kata Nek Erna.
"Iya, Nek."
"Nenek ikut kamu pulang ya."
"Nenek tidak akan menginap di sini?" tanya Naina.
"Nenek tidak mau mengganggu kalian berdua. Nenek tahu akan ada banyak hal yang akan kalian bicarakan tentang masalah ini. Jadinya Nenek membiarkan kalian berdua, toh sudah sah juga. Kalau gitu Nenek juga pamit pulang dulu. Semoga kamu betah, Nai. Saran nenek patuhi semua perintah suamimu, berbaktilah padanya dan jangan pernah melawan apa kata suami. Hah, Nenek tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mendoakan yang terbaik buat kalian."
__ADS_1
"Nenek." Naina tidak bisa berkata apa-apa selain kembali memeluk neneknya.
"Semoga kamu bahagia."
******
Kediaman Devano.
Devan terus memukul tembok, mengeluarkan segala macam rasa kesal yang sedang ia rasakan. Merasa gagal menjadi seorang ayah, merasa buruk tidak bisa menjaga putrinya sendiri, merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Naina. Seharusnya ia bisa menjaga Naina lebih dari menjaga dirinya sendiri.
"Mas sampai kapan kamu menyakiti diri kamu sendiri? Dari tadi terus saja memukul tembok, tidak kasihan sama tangan kamu yang sudah berdarah begini?" Kania mencekal tangan suaminya, ia menahan agar Devan tidak lagi menyakiti diri sendiri.
"Aku telah gagal menjaga putriku sendiri, aku merasa bersalah padanya. Sekarang semua yang menimpa pada Naina adalah sebagian dari sikapku yang kurang memperhatikannya. Merasa Naina terlihat kuat, nyatanya dia tidak sekuat itu." Devan terduduk di lantai, punggungnya ia senderkan ke dinding dengan mata berkaca-kaca.
"Ini bukan salah kamu, ini musibah, Mas. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Semua ini sudah takdir hidupnya Naina. Terus kalau kamu menyiksa diri kamu sendiri apakah keadaan akan baik-baik saja? Belum tentu, Mas. Seharusnya kamu mendukung Naina, memberikan support pada Naina, memberikan semangat padanya dan mendukung Naina. Saat ini Naina sedang bersedih, sedang tertimpa musibah, kamu sebagai papanya harusnya mendukung Naina, bukan seperti ini. Apa kamu tidak tahu kalau tadi Naina bersedih melihat kamu pergi begitu saja tanpa memberikan pesan dan semangat padanya? Naina terlihat kecewa, Mas. Dia itu putri pertama kamu, putri kita, putri yang seharusnya kita jaga dan juga kita bahagiakan serta kita dukung dalam keadaan hal apapun, tapi kamu? Kamu seakan menunjukan kecewa terhadapnya."
"Lagi-lagi aku menyakiti perasaannya. Seharusnya aku berpikir dewasa, bukan bersikap seperti ini. Aku harus bertemu dengan Naina sekarang juga." Devan menyesal telah bersikap seperti ini, ia ingin meminta maaf pada putrinya. Ia juga sadar kalau yang ia lakukan salah, seharusnya dia berada di samping Naina dan mensuport baik suka maupun duka, tapi fia malah pergi begitu saja. Pantas saja Naina akan bersedih.
"Ini sudah malam, Mas. Besok saja kita bertemu Nainanya. Kita juga tidak tahu dimana alamat rumahnya."
"Kamu benar. Nanti kita tanyakan sama mama. Aku ingin meminta maaf padanya." Terkadang umur sudah dewasa tidak semuanya memiliki pikiran dewasa, kadang juga ada umur masih muda tapi pikiran dewasa. Semua hanya tergantung cara mereka berpikir dan pengalaman yang mereka hadapi. Namun tidak semuanya akan sama, sama halnya dengan cara pola berpikir seseorang.
*****
__ADS_1
Kediaman Rama.
Ada kecanggungan, ketakutan, kebingungan, dan juga rasa berdebar ketika berada dalam satu ruangan yang sama. Apalagi sedari tadi mereka masuk ke dalam kamar, Rama terus menatapnya tanpa bergerak sedikitpun di hadapan Naina yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang. Tangan Naina terus saja menunduk takut menatap pria di hadapannya. Rasa bersalahnya terus menghantui pikirannya.
"Di bawah kakimu ada apa sampai kamu terus menatapnya? Di sini ada aku dan lihatlah wajahku!" Rama bersuara, ia cukup sedih karena Naina tidak sebawel biasanya, tidak seceria biasa, tidak segalak biasanya.
"Maaf." Hanya kata maaf yang terus Naina ucapkan pada Rama, tidak ada kata lain lagi yang mewakili hatinya selain beribu maaf.
Rama menghela nafas, ia berjongkok di hadapan Naina, perlahan mengangkat dagu Naina. "Maaf untuk apa? Masalah yang terjadi? Terik kamu yakin begitu saja kalau Mario sudah melakukan hal buruk pada kamu? Nai, sekalipun itu terjadi aku akan memaafkan mu dan tentunya tidak akan pernah meninggalkan kamu dalam hal apapun. Di sini kamu hanya korban, Bukan pelaku yang sengaja menyerahkan diri begitu saja pada pria."
"Tapi aku sudah tidak seperti yang dulu. Semuanya telah berubah Rama, semuanya telah berbeda. Padahal harta yang paling berharga dari diri dalam seorang wanita adalah kesucian tubuhnya yang memang ahrus di berikan pada suaminya, tapi aku?" Air mata bening kembali meluncur membasahi pipi putih Naina.
Rama lagi-lagi menghela nafas panjang. Ia bingung harus berkata apa lagi supaya Naina percaya kalau dia tidak tersentuh. "Masa gue harus membuktikannya pakai tindakan? Tapi hanya itu cara yang efektif untuk membuat Naina percaya kalau dia baik-baik saja."
Rama berdiri, ia duduk di samping Naina dan memeluk tubuh wanita yang sudah menjadi istrinya. Tubuh Naina menegang, ia menjauhkan tubuhnya.
"Kenapa?"
"A-aku ... Tidak pantas untukmu," lirihnya terisak kecil.
Jempol tangan Rama mengusap lembut air mata yang terus membasahi wajah Naina. "Biar aku yang akan membuktikan kalau kamu pantas untukku. Biar aku yang akan menunjukan kalau semua pikiran mereka dan pikiran kamu salah."
"Ma-maksud kamu apa?"
__ADS_1
"Mari kita buktikan dengan tindakan."
Deg.