Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 44 - Jauhi Putriku!


__ADS_3

Sebelumnya.


Mario dan Lusi bersiap pulang ke kota.


"Sayang, pokoknya aku mau kamu selalu menghubungi aku, menemui aku dan menemani aku. Jika tidak, maka aku akan ..."


"Iya, iya, aku paham maksud mu. Awas saja berani mengadu kepada Naina."


"Makanya jangan menolak setiap ajakanku." Lusi tersenyum senang Mario ada di bawah kendalinya. Ini yang ia harapkan dan memang ia rencanakan.


"Ayo, kita pulang. Sudah cukup liburannya dan kita seperti pengantin baru saja tidur berdua di dalam hotel selama tiga hari. Kapan-kapan kita liburan bareng lagi, ya." Lusi menyenderkan kepalanya ke lengan Mario yang sedang menyetir.


Mario mendengus kesal, marah, dan ingin sekali melenyapkan wanita parasit di hidupnya ini. Kalau bukan karena ancaman yang di berikan Lusi padanya, dan kekuasaan ayahnya, tidak akan dia mau jalan dengan wanita yang tidak di cintainya.


Salahnya, Mario melampiaskan hasratnya pada Lusi ketika Naina sulit di dekati. Lusi yang notabene seorang janda di tinggal cerai dan juga seorang wanita nakal tentu menerima tawaran Mario yang mengajaknya bercinta. Tanpa di duga, yang awalnya sekali malah berkali-kali. Namun, ketika Naina meminta Mario melamarnya, Mario ingin menyudahi permainan yang menjebak dirinya sendiri.


Kini, Lusi terus menempel padanya tanpa mau melepaskannya dan bersedia menjadi wanita simpanannya. Hal itu membuat Mario pusing dan menyesal telah memakai jasa Lusi. Dan kini ia tidak bisa lepas dari wanita itu karena selalu mengancamnya yang akan memberikan video yang ternyata diam-diam dia rekam. Usia mereka juga cukup terpaut jauh, beda lima belas tahun. Tadinya jika berhubungan dengan wanita tua bisa mudah di lepaskan, tapi rupanya tidak semudah yang di bayangkan.


Dengan berat hati, Mario membiarkan Lusi bermanja di lengannya. Namun hati terus menolak dan pikiran terus tertuju pada Naina, cinta pertamanya.


Sepanjang jalan menuju kota, Mario terus fokus ke jalan membiarkan Lusi sesuka hatinya bermain di bawah sana. Meskipun geli, tapi Mario tidak mungkin menolak karena memang ia juga menikmati kegiatan yang sedang terjadi.


Karena kaca mobil mereka gelap dan tidak bisa di lihat dari luar, Lusi tidak membiarkan Mario nganggur. Wanita itu duduk di pangkuan Mari dengan bagian inti mereka menyatu satu sama lainnya. Permainan sangat gila yang dilakukan ketika sedang menyetir.


Sambil menikmati kegiatan mereka, Mario mencoba fokus ke jalan yang melewati perkebunan teh.


"Ssshhhtt ... ah... Ini menantang sekali sayang, aku menyukai sensasi baru ini. Rasanya luar biasa tidak ada tandingannya," kata Lusi begitu menggebu menggerakkan pinggulnya bergoyang heboh di pangkuan Mario.


"Ck, tapi ini menghalangi pandangan ku, kegiatan ini membuat ku kesulitan menatap jalan." Mario mencebik kesal.


"Berhenti dulu sayang, kita tuntaskan dulu kegiatan kita. Kita berhenti di tempat sepi mumpung masih pagi dan belum banyak pekerja datang."


Mario pun memberhentikan mobilnya di dekat semak-semak kebun teh. Karena memang cuacanya dingin berselimut kabut, cukup menyulitkan pandangan, keduanya sama-sama menuntaskan hasrat mereka.

__ADS_1


Semakin lama, Lusi semakin menggebu dan makin mempercepat pergerakannya sampai apa yang mereka inginkan keluar secara bersamaan. Untungnya wanita yang bersama Mario ini tidak bisa punya anak, jadinya Mario tidak perlu takut tanpa menggunakan pengaman.


Merasa gerah, Lusi membuka jendela kaca mobilnya tanpa turun dari pangkuannya Mario. Dan kebetulan juga, mobil Devan melewati jalan itu.


"Naina, itu kan Mario? Apa Papa tidak salah lihat?" Devano tercengang ketika melewati mobilnya Mario dan melihat wajah pria yang ia kenal.


"Masa sih Pah? Naina tidak lihat. Mungkin orang lain." Tidak bisa di bohongi kalau hati Naina teriris bak tersayat silet. Dadanya sesak kala mengetahui orang yang ia cintai dan di percaya akan menjadi pria idaman nyatanya berkhianat.


"Papa yakin itu Mario." Devano memberhentikan mobilnya. Dia ingin tahu lebih jelas penglihatannya tidaklah salah.


"Pah mau kemana?"


"Papa mau melihatnya." Dengan rasa amarah Devan melangkah mendekati mobil Mario.


Mario dan Lusi sedang menikmati sisa-sisa kenikmatan tanpa melepaskan bagian inti mereka. Karena menunduk dan terhalang oleh Lusi, Mario tidak melihat Devano yang mendekat.


"Aku menikmatinya, sayang." Lusi membenamkan bibirnya dengan Mario.


Devano begitu murka melihat apa yang terjadi, keduanya tengah berpangutan. "Kurang ajar!"


Devan menggebrak bagian depan mobil Mario sampai keduanya terkejut. Mario menoleh dan matanya sempurna.


"O-Om Devan!"


"Sayang, siapa dia? Ganggu saja aktivitas nikmat kita." Mario gemetar dan seakan sulit menelan ludah.


"Ck, menjijikan. Jadi ini kelakuan mu di belakang putriku? Kau menjalin hubungan dengan wanita tua ini sampai berhubungan badan begini? Menjijikan sekali!"


"O-Om, i-ini tidak se-seperti yang kau pikirkan."


"Diam kau bajingann! Mulai hari ini saya tidak akan membiarkan kau mendekati putriku. Saya bersyukur Allah menunjukkan kebusukanmu!" Devan ingin sekali memukul wajah Mario, tapi dia tidak mau mengotori tangannya.


"Om ini ..."

__ADS_1


"Pah." Naina memanggil papanya.


Devan menoleh, pun dengan Mario dan juga Lusi. Mario semakin terkejut ada Naina di sana.


"Na-Naina!"


Naina mematung semakin tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Mario sedang memangku wanita dan ia tahu apa yang dilakukan keduanya. Tadinya Naina tidak ingin menangis, tapi lagi-lagi air matanya tidak bisa di ajak kompromi dan pada akhirnya Naina menangis diam.


"Naina, kita pergi dari sini. Dan putuskan hubungan mu dengan pria brengsek ini. Papa tidak akan membiarkan kamu menikah dengannya. Papa tidak merestuinya!"


"Minggir kau Lusi!" Mario mendorong tubuh Lusi kesamping, lalu ia membereskan celananya. "Ini ini tidak ..."


"Mulai saat ini jangan pernah lagi muncul dihadapan ku! Kita putus!" Lalu Naina berlari entah kemana.


"Naina tunggu!" Mario turun dari mobil, tapi Devan memukul wajah Mario.


Bug!


Mario tersungkur ke tanah.


"Bajingann ... brengsek ... kurang ajar ... beraninya kau menyakiti putriku!"


"Om tolong dengarkan dulu penjelasanku, aku terpaksa melakukan ini karena ..."


"Karena kau menyukainya bukan? Untungnya kalian belum menikah sehingga putriku masih terbebas dari pria gila sepertimu. Dan satu lagi, jangan pernah kau injakan kakimu di rumahku! Jauhi putriku! Saya tidak sudi Naura memiliki hubungan dengan pria seperti mu!" Devan menatap tajam penuh amarah. Dia celingukan mencari Naina lalu pergi dari sana.


"Akhh ... Brengsek! Ini semua gara-gara wanita tua itu!" sentak Mario menyalahkan Lusi.


Devan pikir Naina pergi ke mobil, tapi berada di sana Naina tidak ada. "Naina! Naina kemana? Dia tidak ada di sini?" Devan mengedarkan pandangannya. "Naina ... Kamu dimana Nak?" pekik Devan.


Mario mendengar teriakannya Devan. "Naina tidak ada? Tidak, aku tidak ingin kehilangan Naina. Aku harus mencarinya, aku harus minta maaf padanya." Mario bertekad mencari Naina tanpa peduli pada Lusi.


"Mario, kamu mau kemana sayang?"

__ADS_1


"Diam kau wanita tua!"


__ADS_2