
Dua orang anak muda beda usia dan beda jenis tengah duduk di bangku kayu, di bawah pohon mangga dengan pemandangan kebun sayuran di belakangnya. Keduanya menunduk tidak berani menatap orang yang ada di hadapannya. Rasa takut menyelimuti relung hati keduanya sampai mereka saling sikut.
Wanita paruh baya, tapi masih terlihat sehat dan muda tengah berdiri di hadapan mereka dengan tatapan tajam bak ingin menguliti tubuh mereka. Rasa tidak percaya atas apa yang ia dengar membuat Erna ingin sekali menanyakan semuanya kepada cucu dan pria yang ada di samping cucunya.
"Coba kalian jelaskan maksud dari pembicaraan kalian tadi? Apa benar kalian sudah menikah? Sejak kapan? Dan kenapa kalian menyembunyikan ini semua dari kita?" cerca Erna dengan segala macam pertanyaan yang ingin ia dengar jawabannya.
"Aku ..."
"Biar aku yang jelaskan, Nai." Rama mencegah Naina yang ingin bicara sesuatu.
"Maaf, Nek. Kami memang sudah menikah dua Minggu yang lalu. Pernikahan kami di selenggarakan ketika kami berada dalam masalah. Waktu itu kami kerampokan dan kami berusaha menyelamatkan diri dari mereka yang ingin membegal kami. Aku dan Naina lari menyelamatkan diri dari orang-orang yang hendak mencelakai kami karena aku tidak ingin Naina ternoda oleh mereka. Jadinya aku membawa Naina kabur. Karena tempatnya cukup jauh dari pemukiman, hanya banyak kebun dan juga jarang ada lamu, kamu tersesat ke kebun yang entah milik siapa. Kami ketiduran di gubuk saung milik warga sebab pada malam itu hujan deras. Namun keesokan harinya, aku dan Naina di temukan warga, tapi sumpah demi Allah kami tidak melakukan apapun. Para warga terus mendesak kami, dan aku tidak bisa melawan mereka semua. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menikahi Naina pada hari itu juga." Rama menjelaskan semuanya dari awal hingga mereka terlibat pernikahan rahasia.
"Dan soal kita menyembunyikan ini semua, Naina belum siap di ketahui oleh kalian. Naina takut kalian marah, dan pada hari itu Naina punya calon tunangan. Pun demikian dengan aku yang juga punya pacar. Hingga aku memutuskan untuk mempertahankan pernikahan ini, jadinya aku mutusin Alina karena aku tahu pernikahan bukanlah sebuah permainan," sambung Rama.
"Nek, jangan salahkan Rama dalam hal ini. Aku juga salah tidak bilang pada siapapun. Aku takut, Nek. Akan ada hari yang terluka jika aku memberitahukan masalah ini secara cepat. Hati Alina, pastinya akan akan sakit jika tahu Rama dan aku menikah. Ini salah satu alasan aku menyembunyikan pernikahan ini."
Erna menghela nafas panjang. Ia pun duduk dengan pikiran yang kacau memikirkan masalah cucu pertamanya. "Nenek bingung harus apa. Nenek bingung harus melakukan apa karena semua yang terjadi di luar kendali kalian. Terus sekarang apa yang akan kalian lakukan."
"Aku ingin melanjutkan pernikahan ini," kata Rama begitu tegas dengan ucapannya.
"Rama ..." Naina menoleh menatap Rama dengan tatapan tidak percaya. Rama pun menoleh padanya dan tersenyum seraya mengusap kepala Naina.
Nek Erna juga menatap Rama begitu intens. Ia tidak percaya anak mudi seusia Rama mau menjalani pernikahan di usia muda dengan ucapan yang terdengar serius.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Rama?" tanya Erna.
"Aku meminta restu sama Nenek untuk menyetujui pernikahan aku dan Naina. Aku serius ingin melanjutkan pernikahan ini, dan aku serius menjalankan rumah tangga di usia muda. Aku bukan pria pengecut yang akan lari dari tindakan yang aku lakukan. Jika ini adalah jalan dari Allah, maka aku akan menjalankannya dengan ikhlas."
Nek Erna diam dengan segala pikirannya, ia menatap Naina. Dan setelah beberapa saat berpikir, barulah berkata, "kalau kamu bagaimana, Nai? Apa kamu mau menerima Rama sebagai suami kamu? Apa kamu ikhlas menjalankan pernikahan ini? Apa hatimu menolak atau menerima?"
"Naina tidak tahu, Nek. Naina ingin mundur, tapi Rama selalu menunjukan keseriusan dalam mempertahankan pernikahan ini sehingga Naina malah makin luluh. Meskipun Naina belum menyukai Rama, tapi Naina kagum dengan tanggungjawab yang Rama tunjukan pada Nai."
"Jadi kamu tidak keberatan?"
"Tapi Naina tidak enak hati sama Alina, Nek. Nenek tahu kan seberapa cintanya Alina sama Rama. Dan aku juga tahu kalau Rama pasti sangat mencintai Alina."
"Saipa bilang? Aku tidak pernah bilang kalau aku sangat mencintai Alina. Bagi aku, cinta sebelum menikah itu tidak perlu terlalu dalam. Dulu aku memang mencintai Alina, tapi cintaku padanya tidak terlalu dalam karena ada hal yang jauh lebih penting daripada cintaku pada manusia, cinta kepada Allah. Dan jangan pernah bilang kalau aku tega sama Alina karena aku melakukan ini demi kebaikan semuanya. Kenapa? Jika aku melanjutkan hubungan ku dengan Alina itu artinya menodai ikatan suci pernikahan, dan aku telah mendzolimi istri ku sendiri. Dengan putusnya hubunganku dengan Alina bisa membuat dia mengerti kalau qodo dan qodar dari Allah bukan hal yang bisa di ubah."
"Kamu dengar sendiri kan apa kata Rama? Dia tidak terlalu mencintai Alina dan bukan berarti tidak mencintai Alina. Hanya saja Rama tidak ingin terlalu mencintai manusia. Dan soal Alina, kamu tidak usah khawatir. Alina harus menerima takdir yang terjadi tinggal kamu sendiri, bagaimana?"
"Bagaimana apanya, Nek?"
"Kamu mau menjalaninya?"
"Tapi Papa dan Mama?"
"Biar itu menjadi urusan Nenek. Nenek setuju kalau kalian menikah. Nenek yakin kalau Rama akan mampu menjadi suami terbaik untukmu."
__ADS_1
"Jadi Nenek setuju kalau Naina sama Rama?" Naina tidak percaya ini. Ia pikir Neneknya akan menolak dan menyuruhnya berpisah, tapi ternyata jauh dari pikirannya.
"Nenek tidak bisa melawan takdir. Ini sudah menjadi takdir dari kehidupan kalian dan Nenek hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."
"Jika Nenek memberi kami restu, apa itu artinya nenek memperbolehkan aku membawa Naina ke rumahku?" tanya Rama.
"Rumah orangtuamu?" tanya Erna dan Naina bersamaan.
"Bukan, rumah Rama sendiri."
"Apa?" lagi-lagi Erna dan Naina berkata barengan.
"Maksud kamu ini apa? Nenek belum mengerti."
"Maksud Rama itu adalah, Rama ingin membawa Naina ke rumah Rama sendiri bukan rumah papa. Rumah yang Rama beli dari hasil kerja keras Rama."
"Kamu sudah punya rumah? Kok aku tidak tahu," kata Naina.
"Kamu kan tidak pernah nanya. Bukan hanya kamu, tapi Alina, dan orangtuaku juga tidak tahu apapun tentang aku."
"Ini luar biasa, kamu sulit di tebak. Kalau begitu Nenek ingin melihat rumah kamu, besok," kata Erna ingin tahu benar atau tidaknya.
"Besok!" pekik Naina terkejut.
__ADS_1
"Ok, Rama siap bawa kalian ke rumah," jawab Rama yakin.