Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 59 - Kamu tanggungjawabku.


__ADS_3

"Mita! Dia yang sudah bikin kamu begini."


"Itu karena dia merasa kalau aku ini pengganggu hubungan kalian."


Rama menatap dalam mata Naina, pun dengan Naina yang juga sedang menatap Rama.


"Ini tidak bisa di biarkan. Selama kamu menjadi istri ku, kamu adalah tanggung jawab ku. Baik di sekolah, di luar sekolah, dan dimanapun itu, kamu adalah tanggung jawab aku. Apa yang terjadi hari ini sama kamu, aku tidak akan tinggal diam." Namun matanya memperhatikan sekelilingnya supaya tidak di ketahui orang-orang kalau dia dan Naina ada di lorong dekat toilet.


Deg.


"Kamu mau ngapain? Jangan bikin onar, Rama!" Naina takut kalau Rama malah berbuat yang tidak-tidak dan malah mengakibatkan kekacauan di sekolah.


"Aku tidak akan ngapa-ngapain hanya saja ingin memberi mereka pelajaran."


"Udah jangan! Aku tidak mau kamu berurusan dengan guru BK gara-gara aku. Jangan ya?" pinta Naina memelas.


Rama mengerutkan keningnya, "Kenapa? Kamu khawatir sama aku? Kamu tidak mau aku kenapa-kenapa karena kamu udah mulai suka 'kan sama aku?" dengan rasa percaya dirinya yang tinggi, Rama tersenyum usil menggoda Naina.


Wajah Naina mendadak sinis, "dih, malah kegeeran. Aku bukan mengkhawatirkan diri mu, tapi aku tidak mau ada masalah lain hanya gara-gara masalah kecil. Ya, aku tahu kalau yang dilakukan Mita kekasih mu selain Alina itu keterlaluan dan termasuk pembulyan, tapi aku tidak ingin ada masalah besar nantinya. Aku tidak suka keributan," jelas Naina memberitahukan alasan karena memang Naina tidak mau ada keributan. Masalah ini menurutnya sebuah masalah kecil yang tidak harus di balas lagi.


Rama kagum pada pemikiran Naina yang begini. Ia merasa kalau Naina ini bukan wanita pendendam dan sepertinya Naina terlalu baik. Dijahati saja ia tidak mau membalasnya.


"Ok, aku tidak akan membalas kelakuan Mita. Tapi, kalau ada Mita dan yang lainnya memperlakukan kamu tidak baik, aku tidak akan tinggal diam. Dan kamu harus tahu, Mita bukan pacar aku dan aku tidak pernah punya pacar selain Alina, tapi sekarang kamu orang pertama yang dekat dengan gue sekaligus menjadi istri ku satu-satunya. Hanya kamu satu-satunya dan akan aku usahakan bahwa kamu juga yang terakhir, itu prinsip aku dan janji aku kepada mendiang mama dan Tuhanku."


Naina tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya diam seraya menatap dalam mata Rama. Dia melihat kesungguhan dan tidak ada keraguan dalam diri Rama.


"Entah kenapa gue begitu penasaran pada sosok Rama. Dia memang nyebelin, tapi ada sisi yang dimana Rama terlihat bertanggungjawab dan juga baik," batin Naina.


"Apa kamu ..."


"Sudah, jangan banyak tanya. Sekarang kita ke kelas. Aku ke kelas kamu ke ruang guru." Rama melenggang pergi sambil menggenggam tangannya dan Naina terus saja menatap Rama dari belakang, dia juga menunduk menatap tangannya yang di pegang Rama.


Lembut, hangat, nyaman, dan merasa berdebar di saat berada di dekat Rama. "Ya Allah, ada apa denganku? Aku merasa nyaman, aku merasa dilindungi, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada apa denganku?" batin Naina.


*****


Kelas


"Si Rama lama banget, ngapain aja dia di sekolah?" ujar Deni.

__ADS_1


"Paling juga pacaran dulu, dia 'kan baru punya gebetan baru," kata Rian.


Baru saja di bicarakan, Rama sudah datang.


"Itu Gala," ujar Deni menepuk pundak Rian.


"Wajah lo kenapa di tekuk gitu?" tanya Rian.


"Tadi Bu Naina di dikerjai cewek yang ngaku pacar gue," balas Rama.


"Maksudnya Mita?" ujar Deni dan Rian bersamaan. Rama mengangguk, "siapa lagi kalau bukan dia yang sering ngaku pacar gue," kata Rama.


"Wah parah ini mah, sudah masuk pembulyan."


"Udah jangan di perpanjang! Kita fokus saja belajar," kata Rama atas keinginan Naina.


"Tapi ..."


Selamat siang anak-anak." Tiba-tiba guru datang membuat Deni yang ingin bicara menjadi terhenti dan mereka duduk ke bangkunya masing-masing.


*****


Semua murid beranjak pulang, mendengar Alina yang juga sudah membereskan buku-bukunya, Rian bertanya.


"Lo pulang dengan siapa?" tanya Rian


"Ngapain lo tanya gue? Jelas gue mau di jemput bokap lah." Alina begitu sewot.


"Dih sewot banget. Lagian sekarang Rama tidak akan nganterin lo lagi." Deni mendelik tidak suka.


"Udah biarkan saja, kita balik yuk." Rama merangkul pundak Deni dan juga Rian. Ia sudah tidak lagi menghiraukan Alina.


"Sialan, Rama sekarang cuekin gue. Awas saja kalau sampai lo ketahuan selingkuh dengan kakak gue. Akan gue kasih pelajaran," ucap Alina menggeram kesal.


Di saat yang lain sudah pulang, pun dengan Alina yang juga sudah pulang di jemput Papanya, tinggal Naina yang belum pulang. Dia sedang membereskan setumpuk buku yang harus ia bereskan.


"Jam segini belum ada yang jemput?" tanya Rama yang sudah ada di dekat Naina yang kebetulan sudah berjalan pulang.


"Rama! Bisa tidak untuk tidak mengagetkan aku." Naina terus melangkah keluar dari sekolah.

__ADS_1


"Sayangnya tidak bisa. Kamu mau di jemput?"


"Tidak karena aku tahu bakalan telat pulang. Terus kamu?"


"Dia sengaja nungguin kak Naina," celetuk Rian yang ternyata masih ada di sana lengkap dengan Deni.


"Biar aku saja antar kamu pulang, mau ya?" kata Rama.


"Rama bener, mending diantar saja."


"Tapi ..." Naina merasa tidak enak kepada teman-temannya Rama.


"Tenang saja, gue sama Rian tidak keberatan bos kita nganterin Bu guru. Apalagi ibu baru di sini adalah bos kita," kata Rian.


"Bener banget," sahut Deni yang membuat Naina bingung Rama sering di bilang bos mereka.


Rama menaiki motornya. Dia menggunakan helm dan menatap Naina. "Ayo naik!"


Naina mengangguk setelah dipaksa. Berhubung sekolah udah sepi, jadinya tidak ada yang tahu.


"Baju kamu udah kering 'kan?" tanya Rama sebelum Naina menaiki motornya. Kebetulan Naina memakai baju guru model celana, jadinya memudahkan dia menaiki motor tinggi.


"Sudah, kenapa emangnya?"


"Jaketnya buka dan gunakan buat nutupin paha kamu. Soalnya pas duduk paha celana kamu ketat banget."


"Cie yang perhatian sama pacarnya," ucai Deni menggoda Rama.


"Bukan pacar lagi, tapi juga istri." Rian tidak kalah ikutan menjahili Rama.


Naina langsung menunduk malu mendengar kata fulgar dari Rama. Naina pun mengikuti perintah Rama, dia membuka jaket yang di kenakannya. Lalu, Naina menaiki motor Rama dan jaketnya Rama ia gunakan untuk menutupi bagian yang terlihat.


"Ck, kalian berdua bisa diam tidak? Berisik banget sih," seru Rama mencebik kesal. Namun Deni dan Rian malah tertawa.


Rama pun melakukan motornya secara perlahan. "Deni, Rian kita ke kantor dulu."


"Siap Bos."


"Kantor?" lirih Naina.

__ADS_1


__ADS_2