
Toko bahan bangunan
"Apa? Menikah? Kamu sudah gila! Kamu masih sekolah dan masih menyusahkan Papa, sekarang kamu minta menikah dadakan? Mau nikah pakai apa, Rama? Pakai daun? Wanita mana yang telah kamu hamili sampai orangtuanya mendesak mu menikahi seorang wanita?"
"Pakai baju lah, Pah. Masa pakai karung goni. Kan tidak etis banget menikah gak pakai apa-apa. Uang? Itu mah cuman pasilitas buat membayar. Masalah wanita mana yang Rama hamili? Pokoknya ada. Makanya Rama minta persetujuan Papa buat datang ke acara malam nanti. Tidak atau dengan restu Papa, Rama akan tetap menikah. Tidak peduli suka ataupun tidak, Rama akan terus melangkah sesuai yang Rama inginkan. Rama hanya ingin memberitahukan Papa saja kalau malam ini aku mau menikah." Padahal Devan hanya menyuruh Rama membawa orangtuanya untuk membicarakan tentang pernikahan anak-anak mereka. Namun Rama justru melangkah lebih cepat tanpa berdiskusi dulu dengan keluarga Naina.
Saat bilang bahwa dia yang akan menikahi Naina, semua orang tidak percaya mengingat semua kejadian yang menimpa Naina di luar dugaan Devan dan keluarga. Bahkan Rama sampai harus meyakinkan Devan dan Kania kalau dia siap menanggung semua konsekuensi di masa yang akan datang. Barulah Devan mulai menyetujui dan menyuruh Rama datang bersama keluarganya ke rumah.
Masalah Mario, Devan sudah membereskannya hingga mengambil jalur hukum demi kenyamanan Naina sendiri. Devan juga tidak akan membiarkan Naina menikah dengan pria seperti Mario yang menurut mereka memiliki ambisi.
"Dasar gila! Kamu jadi anak kurang ajar sekali, bikin malu papa. Bisa-bisanya berbuat hal tak senonoh ini sampai menghamili anak orang. Makin hari Papa makin malu punya anak seperti kamu."
"Kalau malu buang saja, apa susahnya. Jangan banyak bicara, Pah. Pokoknya nanti malam kita datang, kalau tidak ..."
"Apa? Kamu mau mengancam Papa?"
"Bisa di bilang gitu. Kalau tidak, aku dan teman-teman ku akan menghancurkan tempat usaha ini." Tanpa beban Rama bicara hal yang tidak terduga.
"Kurang ajar, dasar anak bodoh. Bisa-bisanya kamu bikin ulah lagi, bisa-bisanya kamu mengancam papamu sendiri. Papa muak lihat wajah berandalan kamu. Awas saja kalau kamu menghancurkan tempat usaha papa. Akan ku buang kamu ke laut." Restu semakin geram dan dibuat pusing oleh sikap Rama yang selalu membuatnya malu dan juga bikin kesal. Ia merasa Rama ini adalah benalu dalam hidupnya dan bisa membuat kekacauan dalam kehidupan serta usahanya.
"Aku tidak peduli. Toh Papa tidak menginginkan aku kan? Aku ini bodoh, tidak pintar, hanya bikin ulah saja, terus suka bikin kacau dalam hidup Papa. Kalau Papa datang bersama ku, maka aku janji tidak akan bikin Papa repot lagi denganku. Aku janji tidak akan tinggal di sini dan aku janji tidak akan membuat Papa malu dengan segala sikap ku. Papa bisa terus menjadikan Gilang penerus Papa dan kalau perlu aku akan akan keluar dari rumah ini tanpa gelar seorang Restu." Inilah janji seorang Rama. Ia ingin keluar dari rumah tanpa harus di kekang lagi. Baginya, kehidupan yang harus ia jalani harus sesuai keinginan dia. Dia sudah tidak peduli lagi atas keinginan papanya yang meminta dia harus begini dan begitu. Karena sampai kapanpun Rama sadar kalau dia tidak akan pernah bisa menjadi orang lain dan tidak akan pernah bisa menjadi orang sesuai yang Papanya inginkan.
Restu berpikir keras tentang ucapan Rama. Dia yang sudah sangat malu harus menghadapi sikap Rama yang di luar dugaannya perlahan terpengaruh oleh ucapan Rama.
__ADS_1
"Baiklah, Papa akan datang mendampingi mu, tapi dengan satu syarat. Kamu tidak boleh tinggal di sini setelah menikah, papa tidak mau reputasi papa sebagai pengusaha bahan bangunan tercoreng oleh kelakuan kamu."
Ra yang tadinya duduk langsung berdiri. "Ok, Rama siap melakukan itu. Jangan lupa nanti malam!" Dan Rama menyunggingkan senyum kalau rencana dia sesuai yang di inginkan.
"Gue akan tinggal di rumah sendiri tanpa kekangan dan tanpa harus di banding-bandingkan lagi. Dan sekarang hubungan gue dan Naina bakalan resmi. Masalah perkataan Mario, gue tidak peduli."
*****
Kediaman Devano.
Naina masih sedih atas peristiwa yang menimpanya. Di tambah pengakuan Rama membuat ia syok karena ia merasa malu dan berdosa tidak bisa menjaga dirinya, tapi Rama justru datang menawarkan diri untuk tetap menikahinya secara resmi.
"Apa kamu yakin akan menikahkan Naina dengan Rama setelah tahu kalau anak kita ..." Kania tidak bisa melanjutkan ucapannya. Bibirnya terasa Kelu bila bicara tentang suatu kehormatan wanita.
"Lalu kita harus apa selain cepat menaikkan Naina? Jika ucapan Mario benar dan nanti Naina mengandung bagaimana? Itu jauh lebih memalukan lagi untuk kita. Lebih baik Naina menikah saja."
"Foto tadi menjelaskan bahwa Naina sudah tidak suci lagi, Kania. Aku tidak mau kalau putrimu menanggung malu selamanya. Apa kata semua orang nanti? Naina akan mendapat olokan dari orang-orang."
Naina menunduk terisak pilu. Hatinya sakit kala sebuah kata terucap begitu saja Tidak suci, kata-kata yang membuatnya hancur.
Erna terus mengusap lembut pundak Naina dan membawanya keperluannya. "Kamu yang sabar ya, semuanya pasti akan baik-baik saja."
"Ini semua musibah, Mas. Kecelakaan, lalu kenapa Naina yang harus mendapatkan sebuah olokan orang? Masih ada cara lain yang bisa membuat Naina baik-baik saja, misalnya tinggal di kota B."
__ADS_1
"Tidak perlu kalian mengusir Naina dari sini! Setelah Naina menikah, Rama pasti akan membawanya dan kalian tidak akan menanggung malu. Jadi biarkan Rama menikahi Naina," ujar Erna lebih percaya pada Rama. Hati kecilnya mengatakan kalau Naina tidaklah kenapa-kenapa karena ia seorang perempuan, jadinya bisa tahu lebih jelas. Namun karena sebuah harapan, jadinya Erna diam saja.
"Apa! Rama akan menikahi Kak Naina?" pekik Alina yang baru saja pulang sekolah. Ia mendengar perkataan neneknya dibagikan terakhir bahwa biarkan Rama menikahi Naina.
"Alina, kamu sudah pulang?" Devan dan Kania berjalan menghampiri Alina.
"Jelaskan maksud dari ucapan Nenek? Kenapa Rama harus menikahi Kakak?"
Devan menatap Kania dan juga mamanya. Mereka bingung harus berkata apa.
"Pah, Mah, Nek, jelaskan! Kalian bercanda kan mau menikahkan Kakak dengan pria yang aku cintai?" Alina menatap mereka secara silih berganti. Ia meminta sebuah penjelasan mengenai ucapan yang barusan ia dengan.
"Al, kami terpaksa."
"Terpaksa kenapa? Jawab yang benar!"
"Rama harus bertanggungjawab atas perbuatannya," ujar Erna membuat Devan dan juga Kania bingung. Namun Kania diam dengan tatapan kosongnya.
"Apa? Maksudnya?"
"Ini ..."
"Rama sudah menyentuh Naina."
__ADS_1
"Apa!"
"Maaf Rama, Nenek menjadikanmu kambing hitam," batin Erna.