
Kediaman Devano.
"Kak Naina mau kemana sudah rapi begini?" tanya Alina melihat kakaknya terlihat rapi dan juga membawa koper berisi baju-baju. Dia yang hendak ke meja makan berpas-pasan dengan Naina di anak tangga.
"Kita kan mau ke kota B bersama Mama dan Papa. Emangnya kamu tidak mau ikut liburan di sana?" Naina heran melihat Alina masih mengenakan piyama tidurnya. Ia pikir kedua orangtuanya sudah memberitahukan perihal rencana liburan sekolah Alina.
"Oh ke kota B, sebenarnya aku malas ikut Kak. Aku di sini saja deh bareng nenek. Nenek kan tidak ikut." Alina melangkah menuju ruangan makan, lalu di susul oleh Naina setelah menyimpan dulu kopernya di dekat kursi.
"Kalian sudah bangun, ayo sarapan bersama." Kania terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk mereka. Devano dan Nenek Erna sudah lebih dulu berada di sana, lalu Naina dan Alina pun duduk.
"Loh, kamu belum siap-siap? Kita mau liburan ke puncak," kata Devano heran.
"Pah, Alina tidak mau ikut ke kota B. Alina malas saja ke sana, di sana juga pasti kalian hanya akan melihat-lihat perkebunan sayuran, atau mungkin bakalan kotor-kotoran. Aku malas, mendingan diam di sini bareng Nenek, pergi nyalon, jalan-jalan bareng teman aku, jalan-jalan bareng Rama juga."
"Terakhir kali kamu ikut liburan itu pada saat kamu kelas satu SMA pas kenaikan kelas, masa kamu gak ikut lagi sih Al? Kali ini ikut ya," ucap Kania.
"Males ah Mah, kalian saja deh. Toh nenek juga tidak akan ikut iya kan Nek?"
"Nenek gak akan ikut karena ingin mengerjakan pekerjaan di sini. Kamu sama yang lain pergi saja liburan." Meskipun Mama Erna di bujuk, ia tidak mau ikut. Bukan tidak ingin liburan bareng karena memang ada kerjaan di toko kue yang harus ia kunjungi. Malah ini saja ide darinya membuatkan anak cucunya liburan bareng.
"Makanya aku tinggal di sini saja sama Nenek, itung-itung jaga Nenek."
"Kalau ini keinginan kamu, Papa tidak akan memaksanya. Tapi jika kamu ingin liburan susul saja kami."
"Iya Pah." Alina pun mulai memakan makanannya.
Drrrtt drrrtt
ponsel Alina berdering, lalu dia melihatnya.
"Dari Rama, aku angkat dulu ya." Alina beranjak berdiri.
"Makanannya habiskan dulu Alina!" kata Kania.
"Iya Mah." Alina membawa piring berisi nasi goreng, ia berjalan menuju tempat yang sering ia tempati ketika sedang telponan dengan Rama, yaitu taman belakang rumah.
Alina duduk di bangku lalu menyimpan piring ke atas pangkuannya.
__ADS_1
( "Halo Rama." )
( "Assalamualaikum Alina." )
( "Waalaikumsalam. Aku sampai lupa ngucapin salam saking senangnya pagi-pagi begini di telpon kamu. Pasti kamu lagi kangen aku kan?" )
( "Hari ini kamu sibuk gak?" )
( "Enggak, emangnya kenapa?" )
( "Kalau tidak kita ketemu di cafe biasa pagi ini juga, ada hal penting yang ingin aku sampaikan sama kamu." )
( "Bisa, bisa banget. Kalau gitu aku siap-siap dulu." )
Saking girangnya di ajak ketemuan oleh Rama, Alina jadi semangat dan enggan melanjutkan makannya. Dia kembali ke dapur dan menyimpan makanan yang tidak habis.
"Loh Al, ada apa buru-buru banget?" tanya Kania sedang membereskan meja makan. Suami, anak dan mertuanya lebih dulu ke depan.
"Alina mau bertemu Rama Mah, dia ngajak aku ketemuan."
"Iya Kak, aku mau siap-siap dulu." Lalu Alina berlari menuju kamarnya.
Naina berpikir, "Rama ngajak Alina ketemuan, apa yang ingin dia bicarakan sama Alina ya? Apa mungkin ucapan Rama semalam yang akan memutuskan hubungan dengan Alina seriusan? Ah tidak mungkin, tidak mungkin Rama melakukan itu pada orang yang sudah menjadi pacarnya selama hampir setahun ini."
Tapi ada hal yang membuat Naina heran, mau ngapain pagi-pagi sudah mengajak Alina bertemu?
"Nai, kok malah bengong? Ada apa?"
"Hah!" Naina kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku cuman mau bantuin Mama membereskan ini." Lalu Naina membantu Kania.
Kania tersenyum, ia bersyukur memiliki anak sambung seperti Naina yang selalu perhatian padanya dan juga tidak pernah membantah ataupun kasar.
Drrrtt drrrtt
__ADS_1
Dan kali ini ponselnya Naina yang berdering.
"Mario."
"Angkat saja dulu, siapa tahu penting."
Naina mengangguk, lalu mengangkat panggilan dari Mario.
( "Halo Naina, aku cuman mau ngabarin kalau beberapa hari ini aku akan ke luar kota ke rumah saudara, kamu tidak apa-apa kan?" )
( "Ya ampun sayang, hanya pergi ke rumah saudara saja minta izin padaku? Tentu boleh dong, kan itu saudara kamu." )
( "Aku izin sama kamu karena nantinya bakalan susah sinyal. Jadinya kita sulit berkomunikasi." )
( "Oh gitu, ya sudah tidak apa-apa. Aku mengerti kok." )
( "Makasih sayang, kamu emang pengertian banget. Aku sayang kamu Naina." )
Naina tersenyum senang.
( "Aku juga sayang kamu." )
******
Tempat berbeda.
"Bagaimana? Apa Naina curiga?" tanya seorang wanita.
"Tidak, dia tidak curiga sama sekali. Sekarang kamu puas kan?"
"Tentu dong sayang, aku puas bisa menikmati kebersamaan ini bareng kamu," ucapnya sambil mengusap dada Mario dengan pinggul di hentak-hentakkan.
"Tapi kamu harus pegang janjimu untuk tidak memberitahukan hubungan kita pada Naina. Hubungan ini hanya sebatas saling memuaskan karena aku hanya mencintai Naina," ucap Mario memperingati wanita yang sedang duduk di atasnya sambil ia menikmati setiap pergerakan dari wanita itu.
"Tidak masalah, yang penting aku bisa bersama kamu ah ah ini nikmat sekali Mario sayang," racaunya semakin menambah kecepatan gerakan pinggulnya.
"Shiit, kalau bukan karena ancaman dia aku tidak mau melakukan ini. Maafkan aku Naina, tapi sungguh aku hanya mencintai mu."
__ADS_1