Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 78 - Masih Bersikap seperti Biasanya


__ADS_3

Sejak kedatangan keluarga Naina ke rumah, Alina tidak lagi terlihat mengganggu Rama ataupun Naina. Baik di sekolah, di luar sekolah, ataupun ketika kebetulan di jalan. Namun Alina selalu bersikap acuh pada Naina dan Rama.


"Kamu mau kemana, Ram? Ini itu hari libur sekolah, kamu malah mau pergi." Erna yang memang tinggal barengan Naina dan Rama sudah tahu sifat dan juga keseharian Rama. Dia merasa lebih nyaman tinggal di sana dan Rama pun memperlakukannya sangat baik dan sopan.


"Eh, Nek. Aku mau ke rumah Papa dulu, ada urusan yang harus ku kerjakan di luaran sana. Aku titip Naina ya. Kalau Naina bertanya jawab saja ke rumah papa dan habis itu ke pasar."


"Ok, kamu hati-hati. Nenek percaya kalau kegiatan yang kamu ikuti sangatlah baik."


"Terima kasih, Nek. Kalau gitu Rama pergi dulu." Rama pun berlalu pergi setelah dia berpamitan.


*****


Naina sudah bangun, Erna juga memberitahukan kalau keluar rumah. Naina tentu tidak banyak bertanya sebab ia percaya suaminya.


"Naina kamu ikut nenek ke pasar hari ini, sekalian mau belanja buat mingguan," kata Erna sudah siap-siap.


"Iya, Nek. Sebenarnya Naina males, tapi karena tidak ada siapapun di rumah, Naina ikut saja."


"Tentu kamu harus ikut dan harus belajar memilih aneka sayuran mana yang wajib dibeli dan harus tahu tempat-tempatnya di mana saja. Kita harus langganan beli supaya dapat THR." Namanya juga ibu-ibu pasti ingin dapat THR di hari raya.


Naina dan Nek Erna pun berangkat bersama menuju pasar menggunakan mobil pemberian Rama. Ya, tiga hari yang lalu Rama membelikan satu kendaraan untuk Naina dari hasil kerjanya. Awalnya Naianenilak, tapi Rama ingin istrinya tidak kepanasan ataupun naik angkutan umum ketika mau bepergian. Dan Naina tidak bisa menolak jika Rama sudah memaksanya Sepanjang perjalanan, Naina memperhatikan gedung pencakar langit dan dia menikmati keindahan kota J.


Sesampainya di pasar, Naina dan Nek Erna berkeliling pasar mencari barang belanjaannya.


"Na, kamu tunggu dulu disini, Nenek mau ke kios ayam dulu." Erna berhenti di salah satu kios warung kecil yang menyediakan minuman dan aneka cemilan. Erna tahu kalau Naina kelelahan sehingga ia memutuskan berhenti dulu.


"Iya, Nek. Nai juga capek. Aku tunggu di sini saja dulu." Naina duduk di bangku.

__ADS_1


"Mang, aku titip barang belanjaannya dan sekalian titip cucuku ya," kata Erna kepada pemilik warung.


"Siap, Bu. Kalau di sini mah pasti aman terkendali tidak akan ada yang hilang."


"Ah si amang bisa saja, itulah sebabnya saya selalu berbelanja di sini karena pasar di sini aman dari marabahaya. Kalau begitu saya masuk dulu ke dalam ya, mang. Na kamu jangan ke mana-mana!


Naina mengangguk.


"Neng Pasti orang baru ya?"


"Iya mang, baru ikut nenek belanja di pasar ."


"Pantas saja wajahnya berasa asing."


Hingga segerombolan preman berkumpul di suatu tempat membuat perhatian Naina teralihkan. "Mang, mang, itu ada apa kok banyak preman?" Naina mendadak takut kalau mereka melakukan keributan.


"Bos preman pasar soleh?"


"Iya, sekalipun mereka berpenampilan menyeramkan, tapi mereka itu Hatinya benar-benar baik dan sudah ada sejak tiga tahun yang lalu. Makanya pasar ini aman dari yang namanya copet kepala ataupun tindakan kriminal lainnya."


Naina tidak yakin ada preman pasar soleh. Dia terus memperhatikan gerombolan preman itu dan dia terbelalak melihat Deni dan Rian berada di antara mereka. "Loh, itu kan temannya Rama?" batin Naina.


"Nah itu tuh neng bos nya datang," kata mamang pemilik warung menunjuk seorang pria yang datang mengenakan motor.


Naina terus memperhatikannya dan dia semakin dibuat terkejut ketika pria itu membuka helmnya. "Rama!"


*****

__ADS_1


Sebelumnya


Rama mampir dulu ke rumah orangtuanya untuk mengambil kenangan bersama mamanya di kamar. Pakaiannya kali ini terlihat sekali urakan dan berpenampilan seperti preman.


Papanya Rama yang baru menuruni tangga menatap tidak suka pada anaknya. "Papa kira kamu tidak akan pulang ke sini. Mau kemana lagi kamu? Baju sudah kayak preman pasar. Rambut acak-acakan, mau jadi apa kamu? "


"Hanya mengambil barang peninggalan mama saja. Dan Rama hanya ingin jadi diri sendiri yang tidak suka diatur-atur dan hanya ingin menjadi diri sendiri saja," balas Rama menyebutkan keinginannya yang memang ingin menjadi diri sendiri tanpa harus mengikuti setiap keinginan orang tua atau orang-orang di sekitarnya.


Ini Rama, ini kehidupannya, ini keinginannya, dan ini lah dia yang apa adanya. Rama ya Rama, Gilang ya Gilang, Rama bukan Gilang yang harus di atur ini itu dan Rama bukan Gilang yang pintar dalam segala hal.


"Menjadi diri sendiri kamu bilang? Menjadi preman, pria paling bodoh dan tidak nurut sama orang tua, begitu maksud kamu? Kamu lihat kakak kamu ..." Masih saja Restu menginginkan sosok Rama yang ingin nurut sama perkataannya meskipun Rama sudah tidak lagi tinggal bareng dia.


"Rama sudah melihatnya dan Rama tahu apa yang dilakukan Gilang. Dia pintar, dia rajin, dia rapi, dia selalu nurut apa kata Papa, dan dia anak kebanggaan Papa, Rama tahu itu. Tapi Rama mohon untuk tidak mengatur Rama karena ini diri Rama sendiri. Rama tahu kalau aku itu terlahir bodoh dan tidak bisa mengikuti keinginan papa, tapi bukan berarti setiap hari Papa harus membandingkan aku dengan Gilang anak kesayangan dan kebanggaan papa. Stop untuk membandingkan seorang anak dengan anak yang lainnya karena sampai kapanpun mereka tidak akan sama, Pah. Biarkan aku menjadi diriku sendiri dengan kebanggaan Yang kumiliki dan kesuksesan yang bisa kuraih sendiri, dan silahkan Papa atur Gilang sesuka hati papa jadikan dia seperti yang Papa inginkan. Jangan paksa aku karena aku tidak bisa menjadi seperti Gilang." Rama mengungkapkan keinginannya yang tidak ingin di bandingkan dan tidak mau dipaksa.


"Tapi kamu itu anak papa, papa tahu apa yang terbaik untuk diri kamu sendiri."


"Tapi sayangnya Rama tahu apa yang terbaik buat Rama. Papa tidak tahu Rama dan Papa hanya bisa mengatur saja. Rama tidak bisa mengikuti keinginan Papa karena Rama ini bodoh. Dan satu lagi, Rama sudah tidak tinggal di sini lagi, jadi jangan paksa Rama, ok!" Lalu Rama segera pergi dari sana dan tidak ingin lagi berdebat mengenai semuanya.


"Rama, Papa belum selesai bicara sama kamu. Rama!" teriak restu kesal atas sikap anaknya yang sulit sekali di atur. "Dasar bandel, anak tidak bisa di atur, sudah untuk papa mau menjadikanmu anak yang sukses masih saja tidak mau."


Gilang yang baru keluar kamar pun menghela nafas berat. "Selalu saja begini. Apa perlu Gilang bawa Rama kembali keruang ini, Pah?"


"Maksud kamu apa? Sudah enak tidak ada Rama di rumah."


"Tapi sikap Papa seakan menunjukan kalau Papa ingin membuat Rama mengikuti semua keinginan Papa. Kan Papa tahu sendiri Rama sudah tidak amu tinggal di sini?"


"Karena bagaimanapun Papa menyayangi Rama, Papa masih belum percaya Rama mau pergi dari rumah ini."

__ADS_1


"Ck, sayang tapi bersikap tidak adil."


__ADS_2