Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 71 - Pernikahan


__ADS_3

Kania menatap ngeri orang-orang yang mengantar Rama karena mereka terlihat menakutkan. Pun dengan Alina yang juga sama menatap jijik para orang-orang yang memakai tato, terlihat berandal meski mengenakan baju rapi.


"Ini tidak salah yang akan menyaksikan pernikahan ini para preman semua?" kata Kania.


"Mana aku tahu, mungkin itu teman-teman Rama," kata Devan mengikuti para tamu dari belakang sambil menggandeng tangan istrinya.


"Kayaknya mereka semua orang-orang jahat, buktinya berpenampilan seperti itu, menakutkan sekali. Preman pula," kata Alina.


"Makanya jangan coba-coba mengganggu Rama dan Naina kalau lo tidak ingin di habisi oleh tim kita," kata Deni menoleh ke belakang menatap Rama.


"Dan jika macam-macam maka lo akan habis," sahut Rian ikutan menakuti Alina.


Rama sudah duduk di samping Naina yang sudah duduk di hadapan meja yang memang telah di sediakan.


"Hai, pasti kamu bertanya-tanya kenapa aku tetap mau menikahi mu?" bisik Rama ke telinga Naina.


Naina masih menundukkan wajahnya menahan gugup sekaligus malu menatap Rama karena sudah tidak bisa menjaga dirinya sendiri.


"Kan kita sudah menikah, maka kali ini aku akan menikah secara resmi dan atas restu kedua orangtuamu. Aku akan terima segala kekurangan mu dan aku janji tidak akan meninggalkan kamu dalam keadaan apapun." Itulah janji seorang pria yang diyakini mampu membuat wanita terharu.

__ADS_1


Naina perlahan mengangkat wajahnya menatap Rama.


Rama tersenyum tulus dan terlihat sekali kalau tatapannya lembut. "Kamu tidak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja, percayakan semuanya kepada Tuhan."


"Ekheemm."


"Ekheemm juga, Om." Rama menjawab deheman Devan yang ternyata sudah duduk di depan Rama, tepatnya di samping penghulu.


Rama dan Devan saling pandang. "Sebelumnya aku ingin bertanya, apa alasanmu ingin menikahi putriku?" tanya Devan ikut serius.


"Pertama karena aku mencintainya, kedua aku tidak mau berpisah dengannya, dan ketiga dia jodoh yang Tuhan kiramkan untukku," jawab Rama simpel.


"Bagiku tidak ada alasan dalam mencintai seseorang. Cinta sesungguhnya tidak memerlukan alasan. Cinta itu perasaan dalam hati yang tidak bisa dilukiskan lewat kata-kata yang diciptakan manusia. Aku tak punya alasan kenapa aku mencintainya, aku tidak punya alasan kenapa aku ingin menikahinya. Hanya satu yang aku tahu, aku bahagia saat bersamanya. Aku mencintainya tanpa tahu kenapa atau di mana atau dari mana itu berasal. Aku hanya mencintainya tanpa masalah atau kebanggaan. Aku mencintainya seperti ini karena aku hanya merasa sangat nyaman saat bersamanya. Dan aku siap menerima dia baik buruknya, Naina." Rama berucap sambil menatap bola mata gadis pujaannya dan menggenggam erat tangan sang calon istri.


Sebenarnya ada yang kaget kenapa Rama bisa bicara seperti itu, dia adalah Alina dan juga tentunya setiap orang yang ada di sana.


Naina sudah tak mampu membendung air mata haru atas perlakuan Rama dan juga rasa tanggungjawab yang seharusnya tidak dilakukan Rama setelah ia ternoda. Dan kimia, ia sudah yakin menerima Rama menjadi pendamping untuknya dan berharap bisa membuat Naina lupa kalau dia pernah ternoda.


Devan sendiri terdiam tak bisa berkata saat melihat sorot mata ketulusan penuh cinta di mata anak sahabatnya. Padahal Rama sudah tahu Naina yang sebenarnya. Tapi Rama menerima Naina dengan segenap hati dan jiwanya.

__ADS_1


"Om akan menikahkan mu sekarang juga." Devan memutuskan untuk menikahkan putrinya dengan Rama.


Keringat dingin mulai bercucuran, dia mengelap peluh di keningnya menggunakan tangan. Tiba-tiba saja kegugupan mendera tubuh Rama saat dirinya menatap keseriusan dalam wajah Devan. Tadi dia sudah yakin dan siap, sekarang ia mendadak gelisah takut terjadi kesalahan. Rama mengatur nafasnya supaya lebih tenang.


Mendadak Nikah serta pernikahan sederhana ini hanya di hadiri oleh beberapa orang saja. Tentunya pak penghulu dong. Kalau tidak ada penghulu mana bisa menikah. Semua syarat sah nikah sudah ada tinggal melakukan ijab qobul.


"Untuk pengantin pria, apa Anda sudah siap? tanya penghulu.


"Siap, Pak." Rama menjawab tegas.


"Silahkan pak Devan." Penghulu mempersilahkan Devan. Dikapun mulai menjabat tangan Rama.


Keduanya mulai serius. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Rama Restu Al-kahfi dengan putri saya Naina Al-Ghifari binti Devano Al-Ghifari dengan maskawinnya berupa uang senilai satu miliar, Tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Naina Al-Ghifari dengan maskawinnya yang tersebut, tunai."


"Saaaaahhhhhh...."


Orang lain serempak mengucap kata sah, yang lain malah tertegun menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Maskawinnya satu miliar," celetuk Kania. Kalau Alina, jangan di tanya, dia tengah di halangi oleh para-para pria bertato supaya tidak berbuat ulah.


__ADS_2