Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 28 - Kegiatan Naina


__ADS_3

Matahari sudah menampilkan sinarnya. Bahkan jam alarm terus berdering tak mampu membangunkan seorang gadis yang masih terlelap dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Suasananya yang dingin seakan enggan membangunkan gadis cantik itu, ialah Naina.


Sedangkan di ruang makan, seorang wanita disibukan dengan kegiatan menyusun setiap makanan buat sarapan pagi.


"Mas, hari ini kamu jadi ke kebun?" tanya Kania.


"Jadi, sekalian mau mengecek sayuran yang akan di panen. Mungkin sekitar jam delapan pagi Mas ke kebunnya," jawab Devan. Di daerah puncak, Devan memiliki beberapa hektar kebun aneka sayuran. Bukan hanya bisa liburan, tapi juga sekalian mengecek sayuran yang akan di panen.


"Kalau ke sana jangan lupa ambil daun pisang ya. Ada salah satu warga yang memesan kue." Baru kemarin siang mereka sampai sudah ada yang pesan kue pada mereka. Sudah banyak yang tahu kalau Devan seorang pembisnis kue, jadinya ada yang pesan padanya.


"Iya, nanti aku bawakan untukmu," balas Devan celingukan mencari keberadaan anak pertamanya. "Naina mana? Tumben sekali belum kelihatan? Mentang-mentang suasana di puncak dingin bangunnya telat banget."


Kania menepuk jidatnya. "Astaghfirullah! Aku lupa! Hari ini Naina harus mengantarkan pesanannya Bu yuyun! Bentar, Mas! Aku bangunin dulu Nainanya."


Devano menggelengkan kepalanya. "Sayang sekali Alina dan mama tidak mau ikut kesini. Andaikan mereka ikut, pasti villa ini sangat ramai." Devan tidak bisa memaksa Alina, dan entah kenapa putri keduanya jarang banget mau ikutan liburan bareng. Sifatnya pun sangat bertolak belakang dengan mereka.


Kania pun berdiri meninggalkan kegiatannya dan berjalan ke arah kamar Naina, dia menggelengkan kepala sampai lupa tentang pesanan Bu Yuyun yang harus di antarkan sekarang. Apalagi pesanan itu akan di gunakan buat acara Rajaban di salah satu majelis ta'lim. Dan acaranya habis Dzuhur.


Ketika sudah berada di depan pintu kamar Naina, Kania langsung masuk ke dalam, dia menggoyang-goyangkan tubuh Naina. "Bangun, na! Ini udah jam berapa? Tolong bantu Mama mengirimkan pesanan kue Bu Yuyun!" pinta Kania menyibak selimut yang di kenakan Naina.


"Bentar atuh, Mah! Lima menit lagi! Naina ngantuk banget," balas Naina sambil menaikan kembali selimutnya ke atas sampai menutupi kepalanya.


"Siapa suruh main game sampai larut malam. Dan sekarang sudah pagi. Ayo bangun!" tak menyerah, Kania terus menerus membangunkan Naina.


Melihat tidak ada pergerakan, Kania geram dan dia menyibak selimutnya lalu jurus jewer menjewer nya ia keluarkan. "Cepetan, Naina! Kalau tidak mau bangun juga Mama siram kamu pakai air! Udah besar masih di bangunin, malu atuh sama ayam. Ini udah siang, Naina!" pekik Kania geram sambil menjewer telinganya


"Aw aw, sakit atuh, Mah! Iya... iya, ini Naina udah mau bangun," balas Naina langsung duduk merasakan panas di telinga. Dan Kania pun melepaskan jewerannya.


"Buruan bangun!" ujar Kania sambil bertolak pinggang.

__ADS_1


"Iya, sama anak sendiri aja galaknya minta ampun, ini namanya kdrt, Mah." ucap Naina kesal, tangannya memegang kuping yang terasa panas.


"Buruan, Naina!"


"Iya, Mamah!"


Naina segera turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi, jika mamanya sudah teriak, habislah dia. Yang ada dia di mandikan di kasur dan dia sendiri yang disuruh menjemur kasurnya.


"Pagi, Pah, Mah," sapa Naina ketika sudah berada di ruang keluarga.


"Pagi, pagi, ini udah cukup siang, Naina. Buruan sarapan dan jangan lupa antarkan pesanan Bu Yuyun," Kania galak.


"Lagian kamu bangunannya siang banget, Na. Pasti habis main game, ya?" tebak Devano sembari membuka bungkusan cemilan kue lapis.


"Hehehe, iya, Pah. Habisnya seru banget sampai lupa tidur. Eh pas udah selesai sudah jam satu dini hari." Jawab Naina cengengesan sambil menggaruk tengkuknya. Lalu Naina mengambil kue buras dan memakannya. Buras itu terbuat dari beras dan isinya ada oncom atau juga mie.


"Iya, Pah. Naina akan ingat itu, lagian subuh bangun, kok. Tapi setelah selesai subuhan tidur lagi." Naina tidak berbohong, dia berkata yang sejujurnya dan itulah kenyataannya. Dia tahu kewajibannya sebagai seorang muslim harus apa.


"Ya sudah, sekarang habiskan sarapannya dan antarkan kotak ini!" kata Kania kepada Naina.


"Tunggu sebentar, Mah. Baru juga makan satu suapan," kata Naina sambil mengunyah kuenya.


"Kalau begitu Papa ke kebun dulu," ucap Devan sambil berdiri.


"Habis dari rumah Bu yuyun, Naina mau ke kebun boleh?"


"Boleh, sekalian kamu ambil daun pisangnya."


"Asiap Pah." Naina memberi hormat, ia paling senang jika sudah menikmati suasana di kebun.

__ADS_1


Rumah bu Yuyun berada di kampung sebelah sehingga harus mengantarkan pakai motor. Dan berhubung Naina bisa berkendara, jadi Naina yang diminta mengantarkannya.


*****


Sepanjang jalan menuju rumah Bu Yuyun, Naina menikmati keindahan alam yang di suguhkan sang pencipta. Tak lama kemudian, Naina sampai di rumah pelanggan setia orangtuanya ketika berada di daerah puncak.


Naina turun dari motor lalu mengambil kotaknya dan berjalan mendekati rumah bercat hijau oranye. "Assalamualaikum, permisi Bu Yuyun." Naina terus memanggil pemilik rumah.


Dan pintunya pun di buka, "waalaikumsalam," jawab seorang wanita pas melihat Naina.


"Eh, Nak Naina." Bu Yuyun sudah sangat mengenali Naina. Setiap ada waktu Naina suka ikut ke puncak tanpa ada kata malas.


Naina tersenyum ramah, "ini Bu, Naina mau mengantarkan pesanannya." Naina menyodorkan kotak isi kue-kue.


"Oh iya, makasih, ya. Maaf merepotkan." Bu Yuyun mengambil kotaknya. Lalu dia merogoh saku celananya dan memberikan yang berwarna merah kepada Naina. "Ini sisa bayarannya, tolong bilangin sama orangtuamu makasih ya."


"Siap, Bu. Jangan lupa pesan lagi sama kita. Kue buatan kita emang paling the best."


Bu Yuyun tersenyum, "insyaallah, kue buatan orangtua kamu sudah menjadi langganan bagi saya."


"Kalau gitu Naina pamit dulu, Bu. Makasih juga uangnya. Jangan kapok beli lagi!" Naina masih saja mempromosikan kue buatan papa dan mamanya agar Bu Yuyun terus membeli dan berlangganan pada nenek.


"Iya, ok."


Dan Naina melangkah mendekati motornya. Ia naik kemudian menyalakan motornya dan beranjak pergi sembari membunyikan klakson dan tersenyum ramah sama Bu Yuyun.


Inilah kegiatan Naina di puncak, menikmati liburan kuliah sembari menikmati suasana pedesaan di daerah puncak. Namun ada rasa sedih ketika adiknya tidak ingin ikut liburan bareng. Ia merasa Alina selalu menghindari acara keluarga begini.


"Alina, Nenek, coba kalian ada di sini. Pasti villa akan ramai dengan adanya kalian."

__ADS_1


__ADS_2