
Hampir setengah hari bersama Rama membuat kesedihan Naina terobati dan tidak lagi memikirkan Mario.
"Kamu mau pulang?" keduanya sedang berjalan secara beriringan sambil Rama menuntun tali Si Jalu.
"Sebenarnya malas, tapi mau bagaimana lagi. Pastinya aku harus pulang dong."
"Kalau begitu aku anterin kamu, ayo."
"Tapi si Jalu?"
"Ya di bawa atuh, kan tidak masalah juga. Itung-itung jadi penjaga kamu dari pacar kamu."
"Mantan, sekarang aku dan dia sudah jadi mantan."
"Ada bagusnya juga."
"Kenapa? Kamu senang aku putus dengannya?"
"Tentu saja aku mah senang, soalnya kamu sudah tidak memiliki pacar dan aku pun sudah tidak memiliki pacar. Tahu artinya apa?" tanya Rama menengok ke samping menatap Naina.
"Tidak, emang artinya apa?"
"Itu artinya kalau kita ditakdirkan berjodoh. Pernikahan dadakan, kamu harus mengetahui sifat Mario, dan aku juga putus dari Alina. Itu artinya kita memang ditakdirkan berjodoh."
"Aku tidak tahu."
"Kita jalani saja dulu semua ini tanpa paksaan. Ya meskipun harus bersembunyi dari mereka sampai Allah memberikan kita jalan untuk mempublikasikan hubungan kita di hadapan semua orang."
Rama memberhentikan langkahnya karena sudah sampai di dekat Villa. Hanya di jalan saja tanpa mendekati Villanya.
"Sudah sampai, kamu masuk gih. Jangan bersedih lagi, ada aku yang akan menghiburmu dan menemanimu. Aku tidak akan membiarkan kamu bersedih."
Naina mengangguk dengan pikirannya masing-masing. "Ya sudah, aku masuk dulu." Naina berjalan.
"Naina."
"Iya," ujar Naina menolehkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak mau salim dulu sama suaminya?" Rama mengulurkan tangannya ke hadapan Naina. Naina mengerutkan keningnya, ia melihat tangan Rama, lalu beralih menatap mata Rama.
"Ayo, aku su ..."
Grep.
"Tidak usah di sebutkan lagi. Aku sudah tahu." Naina menyalami tangan Rama dengan wajah cemberut.
Rama tersenyum, lalu ia mengusap kepala Naina. "Istri penurut. Aku pulang dulu." Lalu Rama pergi dari sana.
"Ayo Jalu, kita pulang."
Naina kembali melangkah masuk.
"Assalamualaikum."
"Itu dia yang di tunggu-tunggu," kata Devano langsung bergerak mendekat Naina.
"Kenapa, Pah?"
"Kamu habis darimana? Kamu tidak melakukan hal apapun kan? Kamu tidak macam-macam kan?" tanya Kania.
"Apa ku bilang, kak Naina itu udah besar dan akan baik-baik saja. Kalian semua terlalu mengkhawatirkan Kak Naina sampai tidak mengkhawatirkan aku," celetuk Alina yang sedang duduk di kursi.
Naina heran dengan sikap Alina yang terdengar sewot.
"Alina, kamu jangan seperti itu," ucap Devan menegur.
"Tapi Alina benar, Pah, Mah, aku tidak apa-apa. Aku mau ke atas dulu, mau mandi."
"Ya sudah sekarang kamu istirahat dan bersihkan tubuh kamu. Lihat tuh kotor begitu," kata Kania memperhatikan baju Naina yang terdapat lumpur sawah.
*****
Hari sudah berganti lagi, Rama yang bari bangun tidur kini sudah duduk terbangun merasakan lapar karena sejak kemarin siang belum makan. Pikirannya terus tertuju pada Naina dan ingin lebih mengenal sosok wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Rama pun membersihkan diri dan shalat subuh. Lalu setelahnya, Rama beranjak ke dapur mencari makanan yang ada di atas meja. Kebetulan ada goreng bakwan dan gehu.
__ADS_1
"Mak, Rama minta gorengannya, ya." Rama pun mengambil bakwan yang ada di sana dan mengunyahnya.
"Makannya pelan-pelan! Seperti tidak makan seharian saja."
"Rama memang belum makan, Mak. Rama itu lapar," balas Rama dengan mulut penuh bakwan.
"Pantas saja kamu terlihat rakus." Neneknya Rama menyimpan gorengan lagi ke atas piring.
"Aki mana? Belum pulang?" Mata Rama celingukan mencari sosok kakeknya.
"Iya, masih di mesjid. Aki kamu mah suka lama kalau sudah bertemu rekan-rekannya." Rama mengangguk mengerti.
"Mak, Boleh Rama tanyakan sesuatu?"
"Boleh atuh, asal jangan yang aneh-aneh saja," balasnya sambil beranjak duduk.
"Tugas suami itu apa saja sih, Mak? Rama ingin tahu lebih dalam lagi." Meskipun ia sudah tahu, tapi Rama ingin lebih tahu tentang tugas seorang suami agar Rama tidak salah mengambil langkah.
"Tumben menanyakan ini?"
"Ya, Rama hanya ingin memperluas wawasan saja, Mak."
"Kewajiban Suami itu terbagi menjadi dua, berupa materi dan non materi. Berupa materi seperti, mahar atau mas kawin. Dalam Islam, pemberian mahar merupakan hal wajib, yang mana sebagai simbol pemberian penghargaan kepada istri yang telah bersedia menjadi pendampingnya. Mahar merupakan hak mutlak istri. Tak ada siapa pun yang boleh menggunakan mahar tersebut untuk suatu keperluan, kecuali dengan izinnya. Dengan diberikannya mahar saat akad, berarti sang suami memiliki tanggung jawab penuh terhadap istri, anak-anak, dan keluarganya."
Rama mengerti, "berarti mas kawin yang aku berikan itu memang mahar," batin Rama.
"Kedua, kewajiban suami selanjutnya yakni memberi nafkah untuk istrinya. Nafkah di sini dimaksudkan untuk memenuhi keperluan, seperti makanan, pakaian, rumah dan perabotnya. Di jelaskan oleh firman Allah Hendaklah orang yang diberikan kelapangan rezekinya memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa harta yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan sesuai dengan apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah kelak akan menganugerahkan kelapangan setelah kesempitan," sambung neneknya Rama.
Rama diam, "nafkah? Berarti aku sudah memberikan Naina nafkah. Sekarang dia sudah menjadi tanggung jawab ku sebagai seorang suami," batin Rama.
"Dan kedua kewajiban suami non materi yaitu tidak menyusahkan istri. Seorang suami harus memuliakan istrinya, begitu pun sebaliknya. Suami juga dianjurkan untuk menyenangkan hati istrinya, berperilaku, dan melakukan pergaulan yang baik. Ia juga perlu sabar dalam menghadapi permasalahan yang bisa saja timbul di antara keduanya. Seperti penjelasan berikut, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa. Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, bersabarlah karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya."
"Kedua, menjaga kehormatan istri. Suami diwajibkan untuk menjaga kehormatan istrinya dari perbuatan yang dapat mencemarkan nama baik, serta yang dapat menimbulkan fitnah. Ketiga, mengatur hubungan bersanggama di antara keduanya. Untuk menyalurkan nafsu seksual, pernikahan merupakan jalur yang tepat. Sehingga pasangan suami-istri memiliki hak dan kewajiban satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah menyebutkan bahwa hubungan seksual yang dilakukan suami-istri dapat memperoleh pahala."
"Itu semua kewajiban sebagai suami. Kelak kalau kamu memiliki istri, gunakanlah semua kewajiban itu," nasehat nenek.
"Hmmm, Rama mengerti, Mak."
__ADS_1
"Tinggal nafkah batin yang belum gue penuhi, tapi kapan?"