
Rasa gelisah menyelimuti diri Rama yang tidak bisa tidur karena memikirkan Naina. Wajah sedih Naina selalu terbayang di ingatannya sampai ia tidak bisa memejamkan mata.
Rama beranjak berdiri sambil mengacak rambutnya kesal. "Pikiran gue terus saja pada dia. Apa gue hubungi saja ya? Gue sudah keterlaluan memarahi dia. Ya, gue harus hubungi dia." Rama pun mencari ponselnya lalu ia mencari kontak Naina dan menghubunginya.
Namun, nomor Naina sedang sibuk. "Dia sedang telponan dengan siapa? Sibuk banget." Rama kembali menelponnya, tapi lagi-lagi sedang sibuk.
******
Di kamar Naina, gadis berusia dua puluh empat tahun itu sedang menghubungi Rama. Dia ingin meminta maaf atas tindakan yang ia lakukan tanpa sengaja menyakiti Rama. Naina sadar kalau dia salah, Naina sadar kalau dia gegabah, Naina sadar kalau dia tidak bisa memikirkan dulu apapun selain langsung bertindak.
"Nomor Rama tidak bisa dihubungi, dia sedang sibuk. Apa dia sedang telponan dengan Alina?" lirih Naina menghela nafas panjang. Naina membaringkan tubuhnya ke atas kasur dengan kaki menjuntai kelantai. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar.
"Hari ini hari yang tidak pernah aku bayangkan. Mario mengkhianati ku, Rama yang tadinya aku sangka beneran serius ternyata masih berhubungan dengan Alina. Kenapa nasib ku seperti ini? Apa aku memang di takdirkan seperti ini?" tidak terasa air matanya menetes. Sakit hati mengingat pengkhianatan calon tunangannya, sakit hati di marahi Rama, dan merasa sesak melihat kedua pria itu bersama wanita.
Entah apa yang Naina rasakan pada Rama, tapi ia kesal kalau pria itu masih berhubungan dengan Alina.
"Katanya lo sudah putus dengan Alina, tapi kenapa lo malah bermesraan di depan gue. Kalian sama saja, sama-sama nyebelin."
Naina menutup wajahnya menggunakan telapak tangan. Ia menangis terisak atas apa yang menimpanya. "Ya Allah, kenapa ini harus terjadi padaku? Apa salahku sampai engkau memberikan sebuah cobaan seperti ini? Engkau menunjukan kebenaran tentang Mario, tapi engkau juga memberikan takdir pernikahan padaku dan Rama. Lalu Alina? Tanpa sadar aku sudah menyakiti adikku sendiri Tuhan."
*****
"Susah sekali menghubungi dia. Apa dia sedang telponan dengan pacarnya? Awas saja kalau masih berhubungan dengan pria brengsek itu." Rama tidak terima jika Naina masih bersama Mario. Sudah jelas banget dia dan Naina melihat Mario selingkuh sampai tidur bareng di hotel.
Namun, Rama tidak menyerah, ia kembali menghubungi Naina dan kali ini berdering.
"Ayo angkat, gue mau bicara sama lo." Rama terus mondar-mandir bagaikan setrikaan dengan harapan panggilannya diangkat oleh Naina.
*****
Naina yang sedang menangis terganggu oleh dering ponselnya. Lalu ia mengambil ponsel yang ada di sampingnya. "Rama."
Buru-buru Naina menghapus air matanya, lalu menggeser tombol warna hijau. "Ha-halo."
( "Assalamualaikum, lo kemana saja sih kak dari tadi gue hubungi sibuk terus? Apa lo masih berhubungan dengan Mario setelah Lo tahu dia seperti apa? Lo itu gimana sih, bod ..." )
__ADS_1
( "Maaf," lirih Naina dengan suara serak habis menangis. )
Rama terdiam. ( "Kau menangis?" )
( "Tidak, hanya kelilipan saja." )
( "Jangan bohong! Gue bisa mendengar lo terisak sekalipun lo berusaha menutupinya dari gue." )
( "Gue bilang tidak, ngapain sih nelpon?" )
( "Gue tidak percaya. Tunggu gue di sana, sebentar lagi gue akan datang ke sana." )
Tut..
"Halo, Rama. Halo, halo." Naina melihat ponselnya lagi, "dimatikan. Dia bilang tunggu, dia mau kesini."
Naina segera berdiri. "Gawat, dia mau ngapain? Apa jangan-jangan dia mau menemui ku? Ini tidak boleh terjadi, nanti mereka curiga padaku dan Rama. Aku harus ke luar menemuinya."
Naina tergesa ke luar kamar memperhatikan sekeliling Villa yang mulai terlihat sepi. Dia tidak mau Rama kesana dan berbuat ulah atau aku pernikahan mereka. Yang ada dirinya dalam masalah besar.
Naina yakin Rama akan lewat sana. Dan benar saja setelah sekian lama menunggu Rama datang memakai mobil pickup Akinya. Rama keluar.
"Lo ngapain di sini, Kak? Ini malam dan lo masih keluyuran di luar?"
"Lo yang mau ngapain datang ke sini? Gue tidak mau orang tua gue tahu tentang kita terutama Alina, gue belum siap."
"Gue datang karena merasa bersalah sama lo dan khawatir mendengar lo menangis. Tuh, mata lo aja masih sembab dan gue yakin jikalau lo menangis kejer." Rama memperhatikan wajah Naina.
Naina gelagapan dan menghindari tatapan Rama. "Ini bukan urusan lo, mendingan sekarang lo pulang dari sini! Buruan!" Naina mendorong dada Rama, tapi tangan Rama mencekal kedua tangannya.
"Gue minta maaf atas perkataan tadi sore. Apa lo nangis karena gue atau karena Mario sialan itu?" tanya Rama terdengar lembut.
"Dua duanya, udah cepat pergi!" Naina menarik tangannya dari cengkraman Rama karena tidak ingin ada yang melihat mereka. Lalu Naina kembali mendorong tubuh Rama untuk masuk mobil lagi.
"Cepat masuk lalu pergi!"
__ADS_1
"Aww," rintis Rama ketika pundaknya kena dorongan dari Naina.
"Eh!" Naina menjauhkan tangannya. "Ka-kau masih sakit?"
Rama mengangguk. "Masihlah, lo kan mukulnya pakai kayu keras. Ini juga belum di obati."
Dan seketika Naina menjadi murung. "Maafin gue, Rama. Gue salah." Naina menunduk kembali sedih.
"Gue udah maafin, tapi lo harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab apa? Jangan bawa gue ke kantor polisi, gue tidak mau di penjara." Naina mendongak memohon kepada Rama untuk tidak melaporkan dia.
"Seharusnya sih ini gue laporin ya, ini sudah termasuk pencemaran nama baik dan kekerasan."
"Rama." Naina merengek.
"Lo harus diikuti perintah gue sebagai pertanggungjawaban perbuatan lo. Sekarang ikut gue!" Rama menarik tangan Naina membawanya masuk ke dalam mobil.
"Lo mau bawa gue kemana?"
"Ikut saja atau gue bawa ke kantor polisi!" Rama mengancam.
"Jangan!"
"Makanya diam!" suara Rama begitu tegas seakan tidak mau dibantah. Dia pun menjalankan mobilnya.
*****
Dan sampailah mereka berdua di depan penginapan yang ada di daerah puncak.
"Rama, lo-lo mau ngapain ngajak gue ke penginapan? Jangan aneh-aneh!" Naina ketakutan, ia takut Rama macam-macam padanya.
Rama menoleh. "Lo takut?" dengan polosnya Naina mengganggu. Rama menyunggingkan senyumnya. Senyuman yang terlihat menyeramkan dimata Naina.
"Gue akan minta hak gue di sini?" ucap Rama menyeringai. Mata Naina melotot sempurna.
__ADS_1
"Apa?"