
Pasar
Naina sedang menunggu Rama selesai ibadahnya, dia tidak masuk ke dalam karena memang tengah datang bulan sejak tadi pagi. Matanya pun tidak hentinya memperhatikan setiap pergerakan orang-orang di sekitar pasar.
"Neng sendirian saja?" tanya seseorang yang tidak di kenal oleh Naina.
"Tidak sendiri, tuh buktinya banyak orang di sekitar sini." Naina tidak suka basa basi, ia juga tidak suka pada bapak-bapak itu yang terlihat sedang oleng. Ketahuan dari cara jalannya yang tidak tegap, seperti habis minum.
"Ah itu mah bukan orang, tapi syetan. Saya temani ya?" Bapak itu mulai mendekati Naina.
"Eh, mau ngapain?" Naina segera berdiri menghindarinya. Ia tidak suka di dekati oleh bapak-bapak yang bentukannya lembek gitu.
"Ekheemm..." Deheman seorang pria terdengar nyaring sekali. "Mau ngapain, Pak?" tanya pria itu yang tak lain adalah Rama sendiri.
Bapak-bapak itu mendongak. "Eh, Rama." Tiba-tiba saja tubuhnya menjadi berdiri tegap tidak lembek lagi seakan menunjukan kalau dia tidak sedang mabuk.
"Bapak minum?" tanya Rama berdiri di hadapan Naina untuk melindungi istrinya.
"Ti-tidak, saya tidak mabuk."
"Rama bisa melihat mana yang mabuk dan tidak, kalau Bapak tidak ingin kena masalah jangan buat ulah. Dan asal Bapak tahu, dia itu istri saja, jangan ganggu dia!" tatapan Rama begitu menusuk bak belati yang ingin menghunjam jantungnya.
"I-istri! Eh, sa-saya tidak mengganggunya, Rama. Sungguh. Saya hanya bertanya saja, ia kan neng?"
Rama menoleh pada Naina dan Naina mengangguk sambil tangannya merangkul lengan Rama. "Dia tidak melakukan apapun, kok."
"Ok, kalau gitu Bapak bisa pergi dari sini. Dan kalau sudah tenang bisa mampir ke rumah Allah karena minuman bukanlah barang yang bisa menenangkan diri Bapak."
"Ba-baik, Rama."
Rama pun menggandeng tangan Naina, ia Naina pergi dari sana dan di ikuti oleh orang-orang yang tadi ikut shalat bareng dengannya.
"Kamu mau ikut denganku?"
__ADS_1
"Kemana?" tanya Naina penasaran.
"Ke rumah susun yang di khususkan untuk mereka yang tidak punya tempat tinggal. Kalau mau aku akan ngajak kamu."
"Terus kalau aku tidak mau kamu mau, kamu mau ngajak siapa? Cewek lain gitu?" Naina terdengar sewot, ia tidak suka Rama dekat dengan wanita lain. Hatinya mulai menolak itu.
Rama terkekeh, pun dengan Deni dan juga Rian.
"Ketahuan cemburunya, Ram. Cewek kalau sudah jeles begitu artinya dia cemburu," kata Deni.
"Betul," sahut Rian.
"Aku tidak cemburu, ya. Hanya tidak suka saja. Sudah punya istri juga masih lirik cewek lain." Naina mendengus kesal melepaskan tangan Rama yang menggenggam tangannya.
"Dih, siapa juga yang mau lirik cewek lain kalau ada cewek halal yang lebih cantik dalam hidupku." Rama menarik pinggang Naina dan tiba-tiba mengecup kening istrinya.
"Oh my God! Mata gue ternoda, oy. Dasar si Rama otak mesum! Ini tempat umum!" tegur Deni memekik kaget akan tingkah Rama yang main sosor di tempat umum.
"Biar semua orang tahu kalau wanita cantik ini istriku. Dan juga tidak akan ku biarkan siapapun mendekatinya. Maka dari itu akan ku bawa dia kemana pun aku pergi," kata Rama mengerlingkan matanya.
"Uwooo, gue geli dengar rayuan maut Lo, Ram. Ini bukan lo," kata Rian.
"Cinta bisa mengubah segalanya," kata Rama.
"Emangnya kamu udah cinta sama aku?" tanya Naina di buat penasaran.
"Sejak aku mengucapkan ijab qobul. Dari situlah aku sudah menyimpan rasa cinta di hatiku untuk wanita halalku." Dan mata mereka saling bertatapan tanpa ada yang ingin menyudahi tatapannya.
"Aduh alah ieung, meleleh hati adek," celetuk semua orang yang ada di sana.
"Eh!" keduanya gelagapan saling lirik satu sama lain, ada rasa canggung dan juga malu jadi pusat perhatian orang. Rama pun melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Naina.
"Udah ah, kita ke rumah susun saja."
__ADS_1
"Cihuy yang salting, hahaha."
"Berisik!"
*****
Lain halnya dengan Gilang yang sedang dilanda kesal pada papanya sendiri. Setelah bertengkar dengan Papanya, Gilang memutuskan untuk menentukan pilihannya sendiri meskipun harus ditentang oleh Papanya. Ia ingin seperti adiknya yang bisa mandiri tanpa bantuan Papanya.
"Akan aku buktikan kalau aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuan papa. Aku ingin bekerja dengan usahaku sendiri tanpa harus menjadi seperti yang papa inginkan. Tujuanku saat ini adalah mencari bantuan untuk membuka usahaku sendiri, tapi pada siapa aku harus meminjam uang? Kalau pada papa, Aku yakin dia tidak akan bisa memberikannya."
Di saat Tengah dilanda oleh kebingungannya sendiri, Gilang meminta bantuan teman-temannya dan mendatangi mereka untuk meminjam modal usaha. Dan saat ini Gilang sudah berada di rumah temannya.
"Aduh, Lang. gue tidak punya uang sebanyak itu, lo kan tahu kalau orang tua gue pas-pasan," kata teman Gilang.
"Pada siapa lagi gue meminta tolong? Semua Sudah gue minta tolong dan tak ada yang bisa bantu gue." Gilang kebingungan.
"Emangnya Lo mau buka usaha apa sampai pinjam ke sana kemari? Itu uangnya cukup gede loh, 20 juta untuk apa?"
"Sebenarnya Gue ingin buka usaha martabak manis. Makanan yang nyokap gue suka dan resepnya pun gue dapatkan dari nyokap. Butuh modal buat buka usahanya, beli gerobak, nyewa tempat, modal buat beli bahan martabaknya, buat beli alat-alatnya, dan yang pasti Gue juga butuh pegangan untuk cadangan ketika Nanti usaha jualan gue tidak laku." Inilah keinginan Gilang dari dulu, buka usaha sendiri meskipun hanya sebagai tukang martabak saja. Namun, keinginannya itu tidak bisa ia wujudkan ketika Papanya terus meminta dia untuk menjadi sesuai yang Papanya inginkan.
Bukan hanya sebatas ingin saja, tapi juga ingin mengenang masa-masa bersama mamanya yang pernah jualan martabak sebelum papanya menjadi pengusaha bahan bangunan. Bukan pengusaha sih, tapi lebih ke penjual bahan bangunan namun cukup besar di kotanya dan juga memiliki tiga tempat di beberapa tempat yang berbeda.
"Oh makanan kesukaan nyokap lo. Gue sih dukung keinginan lo itu, tapi ya Maaf gue tidak bisa bantu lo karena gue tidak punya uang sebanyak itu. Kalau hanya satu atau dua jutaan saja gue bisa bantu."
"Segitu mah mana cukup sedangkan modalnya banyak. Uang hasil kerja saja selalu bokap ambil dan sekarang gue tidak punya pegangan sepeserpun. Sekarang gue bingung mau cari uang ke mana lagi? Padahal Gue ingin membuktikan pada bokap kalau gue mampu dan akan berhasil tanpa harus menjadi pekerja kantoran." Gilang sedang kebingungan mencari dana buat membuka usahanya sendiri. Kalau tidak ada yang bisa membantunya bagaimana dia bisa membuktikan kalau dia mampu berdiri di atas kakinya sendiri? Begitu pikir Gilang.
"Kenapa tidak lo coba pinjam sama Rama? Kata lo dia pernah menang balapan dan hadiahnya lumayan, nah lo bisa pinjam sama dia. Siapa tahu adik lo bisa bantu."
"Masa harus sama Rama sih? Gue malu pinjam sama dia gue juga tidak tahu sekarang dia tinggal di mana? Apalagi sikap gue yang tidak pernah akur dengannya membuat gue enggan meminta bantuan."
"Coba saja dulu, lo tidak akan tahu hasilnya kalau tidak mau mencobanya. Gue yakin Rama akan membantu lo selama dia punya."
Gilang pun diam memikirkan saran dari temannya itu. "Apa harus sama Rama?" batin Gilang di lema. Namun ia butuh bantuannya juga.
__ADS_1