
"Lo serius sudah punya istri? Gue tidak percaya," seru Deni tidak mempercayai ucapan Rama. Mana mungkin Rama memiliki istri saat Rama sendiri tidak memiliki gebetan lagi setelah putus dengan Alina.
Rama memang salah satu pria yang di gemari oleh para anak perempuan di sekolahnya, tapi Rama bukan pria yang mudah menyukai wanita dan juga sulit ditaklukkan selain dengan Alina. Namun, kali ini ucapan Rama membuat mereka yang ada di sana terkejut sekaligus tidak percaya.
"Gue seriusan, lah. Gue udah punya istri. Lagian kalau gue tidak dekat dengan wanita bukan berarti gue tidak suka dan tidak memiliki istri bukan? Gue cuman tidak mau istri gue di ganggu kalian semua." Rama bicara begitu enteng. Lalu, dia menumpang kan kakinya keatas meja dan kedua tangannya di taruh di bagian belakang kepala.
"Lo jangan ngada-ngada, Ram? Mana ada yang mau jadi istri lo," timpal Rian.
"Ya sudah kalau tidak percaya, mah. Gue udah bilang kalau gue udah punya istri. Jadi untuk Lo," Rama menata Mita.
"Jangan berharap lagi sama Gue. Mending lo sama Deni saja."
"Enak saja! Gue tidak suka cewek judes bin galak seperti Mita. Mau di cantik pun gue ogah sekali." Deni menolak.
"Hei! Lo pikir gue mau sama lo? Ogah kali. Gue hanya suka sama Rama dan sampai kapanpun Rama akan jadi pacar gue, camkan itu!" seru Mita galak dan selalu bilang pada semua orang kalau dia dan Gala adalah pasangan kekasih.
"Rama itu pacar gue!" seru Alina panas mendengar wanita memperebutkan Rama.
"Alina, kita tidak pacaran, udah putus." kata Rama tegas.
"Wah udah putus? Itu artinya gue ada harapan bisa jadi pacar lo," seru Mita girang.
"Sayangnya gue kagak minat!" balas Rama tegas.
Tettt... teettt...
"Bel masuk udah bunyi, mending lo balik saja ke kelas lo, sana!" Rian menyuruh Mita ke kelasnya.
Mita berdiri. "Rama, ini buat lo. Nanti istirahat gue mau lo makan di kantin bareng gue!" Mita bicara penuh penekanan. "Dan kalian semuanya, dengarkan gue! Gue tidaka akan membiarkan siapapun mendekati Rama, dia pacar gue!"
"Lo sinting ya? Gue bilang gak suka sama lo, gue udah punya pacar. Dasar kepala batu," seru Rama menggebrak meja saking kesal pada wanita batu yang selalu saja mengejarnya. Rama tidak suka dipaksa dan juga tidak suka pada wanita tukang buli seperti Mita.
"Mita, lebih baik kita pergi dulu. Sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai, ayo!" ajak Chika temannya Mita.
"Tapi gue tetap suka. Gue akan buktikan jika lo pasti akan suka sama gue. Gue yakin itu!" Lalu, Mita pergi dari kelasnya Rama dengan keyakinan yang tinggi bisa menaklukkan pria dingin seperti Rama yang tidak bisa di dekati banyak wanita.
"Dia kayaknya tidak main-main. Lo tahu sendiri 'kan bagaimana ambisinya Mita buat mendapatkan sesuatu? Dia akan terus berusaha menaklukkan Lo," ujar Rian.
"Betul, Mita cewek paling berani di sini dan juga paling di takuti orang-orang," timpal Deni.
"Tapi gue tidak peduli. Sekalipun dia mendekati dan mencoba menyakiti istri gue, gue tidak akan biarkan itu terjadi." Lalu Rama duduk lagi menunggu guru datang.
__ADS_1
"Rama, kamu seriusan sudah nikah?" tanya Alina dengan wajah murung.
Rama menatapnya dan menunjukan cincin nikah. "Ini buktinya. Maaf, tapi ini kenyataannya." Sebenarnya Rama tidak enak hati, tapi ia tidak ingin Alina terus berharap padanya. Hatinya mulai berubah.
"Kamu jahat!" Alina duduk secara kasar dengan wajah murung.
"Ada guru baru datang," ucap salah satu murid yang masuk memberitahukan mereka semuanya.
Para murid pun mendadak diam saat seorang guru wanita datang bersama murid baru di belakangnya. Namun, mata Rama seketika diam mematung menatap tidak percaya kalau dia akan mengajar di kelasnya.
"Naina," gumam Rama. Deni yang duduk di samping Rama menoleh.
"Dia kan kakaknya Alina?" tanya Deni kepada Rama sambil berbisik.
"Dia istri gue," balas Rama membuat Deni terbelalak.
"Ah yang benar? Lo seriusan? Jangan bercanda?" Deni masih tidak percaya, pun dengan Rian yang juga sama-sama menatap Rama penuh pertanyaan.
"Gue seriusan, kalian ingat kemarin? Gue ngajak dia nginap di rumah karena kita udah nikah."
"Gila, gua masih tidak percaya."
*****
"Assalamualaikum anak-anak."
"Waalaikumsalam."
"Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, ibu mau mengenalkan diri dulu." Ia memperhatikan anak-anak yang ada di kelas itu. Ada sekitar 30 orang, tapi mata Naina seketika terpaku pada sosok yang selama ini selalu mengganggu pikirannya. Mata Naina dan mata Rama saling beradu pandang.
Deg.
"Nama ibu ..." belum juga selesai bicara, ucapan Naina sudah di potong oleh Rama.
"Naina Al-Ghifari, itu nama kamu."
"What?! Jangan sok tahu lo."
"Emangnya lo udah kenal?" dan masih banyak lagi lontaran kata dari mereka.
"Sudah-sudah, jangan pada berisik. Perkenalkan nama saya Naina Al-Ghifari."
__ADS_1
"Aku sudah tahu," celetuk Gala.
"Rama, jangan begitu sama guru!" temannya menegur Rama.
Naina kembali menatap mereka semuanya, tapi matanya terus melirik ke arah Rama. "Kalian bisa memanggil saya Bu Naina dan saya ..."
Rama bersuara lagi. "Kalau aku panggil kamu sayang boleh tidak?" ujar Rama tersenyum manis seraya matanya mengerlingkan mata membuat Naina menunduk bersemu merah.
"Rama bisa sopan tidak sih? Bu Naina itu guru, bukan anak seusimu, dasar gatal!" seru Alina cemburu.
Deg.
Naina baru sadar ada Alina di sana.
Namun berbeda dengan temannya. "Dih, lo kesambet setan apaan, Ram? Aneh bin nyata, modus lo," ucap Rian terheran-heran melihat kelakuan Rama yang tidak biasanya. Bersama Alina saja tidak sampai ngegombal seperti itu.
"Sungguh sulit di percaya," timpal Deni menggelengkan kepalanya.
"Huuuu," sorakan dari yang lainnya menggema di ruangan kelas.
"Nanti ada yang marah, pacarnya mungkin," balas Naina membalas candaan Rama.
"Kagak atuh, kan udah tidak punya pacar lagi. Tapi kalau istri punya." Rama seakan mengingatkan jika Alina bukan pacarnya lagi dan Naina adalah istrinya. Makin ruwet saja keadaan di dalam kelas.
"Huuuu, modus." Seru mereka semua.
"Jangan mau sama Rama! Dia dingin seperti es batu, playboy pula. Baru putus sama Alina udah bilang punya istri, eh sekarang gombalin Bu Naina."
"Ya kali gue ini kulkas dua pintu, dan si pria gila," celetuk Rama.
"Kamu, bisa diam tidak? Saya akan memulai pelajarannya," kata Naina tegas.
"Tidak bisa, Bu. Kalau saya diam jadi patung dong," jawab Rama makin menunjukan kelakuannya saat di sekolah.
"Hahaha jadi patung Pancoran saja, Ram. Lebih bagus tuh."
"Enggak, gue lebih suka jadi patung Monas biar ada emasnya, kan lebih berharga tuh emasnya. Bisa di jual."
"Ramadhan Restu Al-kahfi!" tegur Naina.
"Cie yang tahu nama lengkap ku," ledek Rama berbuat usil.
__ADS_1
"Akhhh ingin rasanya aku sembunyi di lubang semut. Rama ngeselin banget sih, malu-maluin," batin Naina menggeram kesal bercampur malu.