
Tidak ada pembicaraan apapun selama Naina berada di atas motor Rama. Ia hanya menunduk terisak sambil memeluk Rama dari belakang. Naina seakan tidak peduli dengan tindakan dia yang terus memeluk erat tubuh pria muda di depannya. Rama sendiri tidak berkata apapun selain membiarkan Naina menangis meluapkan kesedihannya.
Sebelumnya...
Rama sudah menjalankan motornya melaju menjauhi kediamannya Devano. Namun, ketika melaju ia teringat kalau ponsel Naina tertinggal di dalam saku jaketnya. Naina sempat menitipkan ponselnya pada Rama saat sedang ke toilet umum. Jadinya Rama menyimpan dengan baik benda kesayangan istrinya.
"Aku baru ingat ponsel Naina ada di jaketku." Lalu Rama putar arah lagi.
Setibanya di depan rumah, ia hendak menekan bel. Namun ia malah mendengar pertengkaran antara Naina dan juga orangtuanya. Ia bisa mendengar semua cerita dari sudut pandang Naina dan juga bisa mencerna sikap dari sudut pandang Devan. Namun, hal yang membuat Rama terenyuh ketika Naina bilang tidak akan mengalah lagi meskipun Alina meminta dan bertindak bodoh. Dari sana ia berpikir bahwa Naina kerap mengalah dalam hal apapun demi Alina.
Semakin sakit ketika melihat Naina menangis sambil berlari ke luar rumah. Ia menjadi teringat kisah hidupnya yang seringkali dibandingkan dengan kakaknya sendiri.
Disinilah Rama dan Naina berada, di atas satu motor yang sama dengan laju yang cukup pelan. "Apa yang terjadi sama kamu Nai? Kehidupan seperti apa yang selalu kamu hadapi sampai tangisan mu begitu pilu?"
Rama membiarkan Naina puas menangis di balik punggungnya. Perlahan tangisan Naina mulai reda tanpa suara dan membuat Rama keheranan.
"Nai, kamu baik-baik saja?" Tapi tidak ada jawaban dari Naina. Sampai depan rumah pun Naina tidak bersuara.
"Dia malah tidur." Perlahan Rama turun dari motornya, ia memegangi tangan Naina supaya tidak jatuh. Bersusah payah dia membawa Naina masuk ke dalam rumah. Membaringkannya ke tempat tidur membiarkan Naina istirahat.
Di tatapnya wajah teduh Naina penuh intens, memperhatikan mata yang terlihat sembab dan juga hidung yang merah akibat kelamaan menangis.
"Kita hampir memiliki kisah yang sama, Nai. Tidak akan aku biarkan kamu menyerah salah hubungan kita. Sekalipun kamu belum menyukaiku, tapi aku lebih dulu menyukaimu tanpa melihat umurmu."
Drrrtt... drrrtt...
*****
__ADS_1
Mama Erna juga keluar rumah untuk mencari cucunya. Sebenarnya ia merasakan kekhawatiran namun ia mencoba tenang. Tapi tetap saja hatinya terus gelisah mengenai keberadaan Naina dimana.
"Pada siapa aku meminta bantuan?" Erna yang da di dalam taksi terus berpikir. Barulah ia teringat pada seseorang. "Rama, pasti dia bisa membantuku."
Lalu Erna menghubungi no Rama.
( "Halo Rama, tolong bantu nenek mencari Naina." )
( "Naina sedang bersamaku, Nek. Dia ada di rumah ku dan sedang tertidur. Mungkin karena lelah menangis jadinya tertidur." )
Erna merasa lega kalau cucunya berada di rumah Rama. ( "Syukurlah, nenek merasa lebih tenang kalau Naina ada bersama kamu." )
*****
Kediaman Devano
"Mas, bagaimana ini? Naina marah dan sekarang dia pergi. Kita harus mencarinya, Mas. Aku tidak mau tahu, kamu harus membawa Naina pulang lagi. Jangan sampai dia pergi dari rumah!" Sebagai seorang ibu, Kania tentu marah atas sikap Devan. Sudah seringkali dirinya memperbaiki Devan untuk tidak memihak salah satu, tapi Devan terus saja berpikir kalau Naina anak yang akan bisa mengerti. Justru kini, perlakuan Devan terhadap kedua putrinya membuat salah satu tersakiti.
"Ini ada apa sih? Kok Mama dan Papa kelihatan kacau begini?" Alina baru bangun tidur, pas keluar kamar langsung di suguhkan oleh raut wajah yang tidak enak di pandang.
"Kakak kamu pergi dari rumah dan belum kembali. Semua karena kamu yang selalu saja meminta Naina mengalah dan menyuruhnya menjauh dari Rama. Kamu sudah tidak ada hubungan apapun dengan Rama jadi Rama bebas mendekati siapa saja. Kali ini Mama tidak akan membiarkan kamu berbuat sesuka hatimu."
"Kakak pergi bukan karena aku, tapi karena dia sendiri. Dan aku tidak mau Kakak mengambil Rama dariku!" balas Alina beranjak pergi.
"Kamu dengar, Mas? Itu Alina anak yang seringkali kamu bela kini memiliki sifat keras kepala. Jika sudah begini siapa yang akan kamu bela? Masih Alina? Lalu bagaimana dengan Naina? Kamu membuat salah satu dari mereka terluka atas sikap kamu. Dan kamu membuat salah satunya memiliki sifat manja sekaligus keras kepala. Aku sering bilang jangan terlalu memanjakan Alina dan jangan terlalu menuruti semua kemauannya, inilah yang terjadi."
"Cukup, Nia. Aku lagi bingung kamu malah makin membuatku bingung." Devan semakin merasa bersalah karena tidak bisa berbuat adil pada anak-anaknya. Kini ia menuai hasil dari apa yang sering ia tanamkan pada Alina dan ia baru menyadari satu hal kalau ternyata selama ini sikapnya menyakiti putri pertamanya.
__ADS_1
*****
Waktu beranjak malam, Naina baru bangun dari tidurnya. Ia bingung dengan keadaannya saat ini.
"Dimana ini?" Naina terkejut pakaiannya sudah berganti. Ia mendekap erat bajunya. "Siapa yang sudah menggantinya? Aku dimana?" Naina tidak mengenali kamar yang ia tempati. Dengan jantung Nyang berdetak kencang, pikiran kalut dan takut, Naina turun dari ranjang berlari ke luar kamar.
Samar-samar ia mendengar suara dari dapur. Seperti orang yang sedang masak, begitu pikir Naina. Hingga ia menyadari kalau rumah itu adalah rumahnya Rama. Ia sedikit bernapas lega.
Terlihat Rama menyiapkan makanan ke atas meja. "Kamu sudah bangun? Ayo makan dulu."
Naina terus menatap Rama dengan langkah pelan. "Kamu yang menggantikan pakaian ku?"
Rama menoleh. "Bukan, tadi nenek kesini dan mengganti baju kamu."
"Aku pikir ..."
"Aku tidak seberani itu tanpa seizin mu. Aku ini lelaki normal loh, bisa-bisa aku tidak bisa mengontrol diri untuk tidak menyentuhmu."
Mata Naina terbelalak. "Mesum banget sih. Bicaranya itu ngawur."
"Makanya aku tidak berani. Sekarang kamu duduk dan nikmati makan malamnya." Rama menarik pelan tangan Naina dan membawanya duduk disalah satu meja.
"Ini kamu yang masak?" Naina memperhatikan beberapa hidangan makanan Nyang ada di atas meja sambil duduk di samping Rama.
"Aku tidak bisa masak, jadinya beli di warteg terdekat." Rama menuangkan makanan ke atas piring, lalu memberikannya pada Naina. "Makan yang banyak, pasti tenaga kamu habis di kuras oleh tangis cengengmu itu."
"Ish, enggak segitunya juga kali." Bibir Naina cemberut manyun. Rama terkekeh.
__ADS_1
"Malam ini kamu nginap di sini, aku sudah minta izin sama nenek."
"Nginap? Seriusan?"