
Kediaman Devano
"Mah, Pah, pokoknya kalian harus menegur kakak untuk tidak dekat-dekat dengan Rama. Aku tidak mau tahu, kak Naina harus menjauh dari Rama." Alina menghempas bokongnya secara kasar ke kursi.
"Menegur gimana, Al. Kakak kamu tidak pernah berbuat aneh-aneh." Kania heran putrinya baru saja pulang, tapi langsung marah-marah tidak jelas.
"Papa juga tidak tahu maksud sikap Alina ini. Pas di jemput juga, Alina sudah terlihat kesal seperti ini." Devan juga ikutan duduk. Habis dari toko kue langsung menjemput Alina.
"Mah, Pah, tadi, Kak Naina sok kecentilan sama Rama. Dia itu tebar pesona sama Rama. Papa dan Mama tahu kan kalau Rama itu pria yang Alina cinta. Sampai saat ini pun Alina masih cinta sama Rama. Namun apa yang terjadi, kak Naina malah menggoda Rama. Mentang-mentang baru putus dengan Kak Mario, sekarang malah mendekati pria incaran ku."
"Masa sih kakak kamu mendekati Rama? Mama kok tidak percaya ya. Tidak mungkin juga Kakak kamu bersikap seperti yang kamu katakan?" Kania tidak mempercayainya. Dia sudah tahu sifat Naina dari kecil hingga dewasa tidak pernah berbuat apa-apa di belakangnya. Namun apa yang di bicarakan Alina seakan tidak percaya dan juga cukup kaget.
"Mama tidak tahu saja karena Mama tidak melihat dengan mata kepala Mama sendiri. Rasanya aku ingin sekali bilang sama kak Naina kalau Rama itu milik aku. Suaranya ingin ku tampar wajah malu-malu kakak yang terlihat seakan senang dekat dengan Rama." Alina menggebu marah di hadapan kedua orangtuanya.
"Sudah cukup bicaranya? Itu kakak kamu, Al. Tidak sepantasnya kamu bicara begitu. Hormatilah dia sebagai kakak! Papa tidak pernah mengajarkan kamu berbicara tidak sopan sama kakak kamu!" Devan menegur putrinya yang terbilang kasar.
"Ini kenyataan, Pah. Aku bicara fakta sesuai yang aku lihat. Kalau kalian tidak percaya, bisa tanya langsung sama Kak Naina. Aku kesal dengan sikap murahannya."
"Alina!" sentak Nek Erna baru pulang sudah mendengar perkataan buruk tentang Naina. "Begini sifat kamu, hah? Bisa-bisanya kamu menjelekkan kakak kamu sendiri. Apa pernah dia berbuat ulah dan bikin malu keluarga?"
"Tapi Nek, kakak itu sudah keganjenan pada Rama."
"Lalu kamu di sebut apa saat dengan Rama? Bukannya kamu juga sering keganjenan meminta Rama mengantarkan kamu pulang, selalu menempel pada Rama dan kadang merangkul Rama di hadapan kita? Apa pernah kita menegur kamu? Tidak 'kan? Lalu sekarang, kamu menuduh kakak kamu yang tidak-tidak tanpa kamu tahu kebenarannya seperti apa." Erna tidak habis pikir oleh pikiran Alina yang begitu jelek terhadap kakaknya sendiri.
"Mah, jangan memarahi Alina. Dia itu ..."
"Kamu juga, sebagai seorang ayah seharusnya bisa mendidik anakmu dengan baik. Kamu itu pria malah tidak menegur anak kamu sendiri. Jangan mentang-mentang Alina lahir secara prematur dan hampir tiada, kamu malah memanjakan dia. Lihat sekarang, sifatnya begini, terlalu manha dan memiliki pikiran buruk pada orang. Pantas saja Rama memutuskan hubungannya, ternyata Alina ini egois."
__ADS_1
Devan diam tidak berkutik sedikitpun. Apa yang di katakan mamanya ada benarnya juga jika ia sering memanjakan Alina. Kadang Naina lebih banyak mengalah daripada Alina yang seringkali mendominasi ingin menang sendiri.
"Nenek tega bicara begitu sama aku?" Alina memberenggut manyun dengan mata berkaca-kaca karena baru kali ini neneknya terlihat marah sekali.
"Tega kamu bilang? Kamu yang tega menuduh kakak kamu sembarangan. Kalau kamu tidak tahu apa-apa jangan bicara asal, kalau kamu tidak mengenal orang jangan menuduhnya. Kamu juga sering banget menuduh orang lain tanpa tahu siapa mereka. Itu yang bikin nenek tidak suka dari kamu. Kamu sudah besar, sudah delapan belas tahun, seharusnya kamu belajar mandiri dan harus memiliki pikiran yang yang dewasa, bukan seperti anak kecil yang apa-apa mengadu dan berbuat ulah."
"Mah, sudah." Kania mengusap lembut pundak mertuanya.
"Tolong kasih paham anak kamu, Kania. Suruh jaga mulutnya jangan sampai mulut dia bikin orang sakit hati dan jangan sampai ucapannya membuat orang lain marah besar!" Erna mengatur nafasnya, ia pergi dari sana menuju kamarnya untuk menyimpan barang belanjaannya.
"Pah, Mah, kalian akan diam saja melihat aku di marahin nenek? Apa salah kalau aku bicara sesuai fakta? Aku hanya bilang apa yang aku pikirkan." Alina merasa sikap neneknya keterlaluan.
"Al, terkadang pikiran kita itu salah. Jadi jangan memiliki pikiran yang tidak-tidak sebelum kamu tahu apa yang terjadi. Nanti kita tanya sama kakak kamu, kita pastikan apa yang terjadi."
"Pokoknya aku ingin Mama dan Papa menegur kakak. Kalau perlu pindahkan saja kerja kakak dari sana!" Alina beranjak dari sana dengan rasa kesal yang mendalam. Bisa-bisanya dia di marahi oleh neneknya gara-gara kesalahan sang kakak.
"Kita harus lebih tegas padanya. Jangan sampai kita memihak salah satu anak kita dan tanpa sadar menyakiti anak yang lain. Kita harus pastikan dulu ucapan Alina itu benar atau tidaknya," kata Kania.
"Kamu benar, kita harus tanyakan dulu sama Naina."
*****
Berbeda dengan Naina. Dia tengah bengong berdiri di depan gedung bertuliskan game corporindo. Bangunan bertingkat tiga dengan desain yang unik dan juga modern.
"Kamu ngapain bawa aku kesini?"
"Aku dan yang lainnya mau kerja dulu. Nanti aku antar kamu pulang setelah aku selesai kerja. Ayo masuk." Rama menggandeng tangan Naina mengajaknya masuk.
__ADS_1
Rama dan kedua sahabatnya melangkah masuk. Ada beberapa orang yang menyambut kedatangannya.
"Siang bos."
"Sudah gue bilang jangan panggil gue bos!" kata Rama mendengus kesal. Pria yang terlihat dewasa begitu ramah menyapa.
"Lo kan bosnya, Ram. Kita mah anak buah lo."
Naina memperhatikan penampilan pria itu. Terlihat berandalan, bertato, dan juga terlihat menakutkan. Ia mengeratkan genggaman tangannya takut melihat wajah pria itu.
"Menyeramkan," bisik Naina menunduk bersembunyi di balik punggung Rama.
Rama menengok kebelakang. "Kamu tenang saja, dia itu baik. Dia tidak akan berbuat jahat sama kamu. Justru dia akan melindungi kamu."
"Wih ada tamu spesial nih, siapa?"
"Dia itu istrinya Rama, Bang." Deni bersuara.
"Apa? Ah yang benar? Tidak mungkin Rama udah nikah?"
"Gue juga awalnya tidak yakin, Bang. Tapi setelah Rama menunjukan video pernikahannya kita jadi yakin, iya kan Rian?"
"Betul itu. Jadinya wanita yang bersama Rama itu bos kita juga," kata Rian.
"Kalian ini. Kita kumpul di ruang meeting sekarang juga." Rama pun melanjutkan langkahnya sambil menggandeng tangan Naina.
"Deni, gue mau lihat dong video nikahnya?"
__ADS_1
"Nanti gue kasih lihat. Soalnya ada di handphonenya Rama."