
Waktu bergulir cepat, jam pun sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Tidur yang hanya beberapa jam terasa nyenyak tanpa adanya gangguan. Rama yang sudah terbiasa bangun di sepertiga malam membuka mata.
Tangannya terasa kebas di kala lengan kanannya dihimpit oleh seseorang. "Naina," lirihnya seraya menatap wajah Naina yang tidur dalam pelukannya.
"Dia sangat lelap sekali." Perlahan Rama melepaskan tangannya, ia tidak ingin mengganggu tidur nanya. Setelah lepas, Rama belanja ke kamar mandi.
Terlebih dulu membersihkan diri kemudian melaksanakan ibadah malam setelah selesai mandi. Rama juga melantunkan ayat-ayat Alquran sambil menunggu waktu subuh tiba.
Samar-samar Naina mendengar lantunan merdu dari seseorang. Naina penasaran Siapa yang sedang mengaji malam-malam begini. Hingga matanya terbuka sempurna namun ia menatap heran tempat yang ia tempati.
"Ini bukan kamarku?" Naina segera mendudukkan badannya mengingat-ingat kembali apa yang terjadi kemarin. Hingga ia tersadar ketika melihat Rama duduk bersila membaca Alquran di ponselnya.
"Rama," gumamnya dalam hati. "Sekarang aku ingat, aku dan Rama tidur bersama." Naina memeriksa keadaan dirinya, seketika ia bernafas lega karena ternyata pakaian yang ia kenakan masih lengkap tidak kurang apapun. Ia pikir Rama akan bertindak yang aneh-aneh padanya di saat ia dalam keadaan tertidur. Namun rupanya tidak.
Naina duduk bersila ia menopang dagu memperhatikan pria yang ada di bawah sana. Naina menikmati setiap ayat-ayat yang ramah lantunkan begitu merdu. Aura berbeda terpancar jelas di wajah Rama. Tampan, bercahaya, mempesona, dan tidak bisa membuat Naina berpaling untuk tidak menatapnya.
Hingga adzan subuh berkumandang, memberhentikan kegiatan Rama. Pria yang sudah menyandang status suami Naina meski siri itu menyudahi kegiatannya. Beranda menoleh pada Naina.
"Syukurlah kalau lo sudah bangun. Sekarang lo ke kamar mandi kita shalat bersama." Namun, masih belum ada pergerakan dari Raina yang sedari tadi terus menatap Rama. Hal itu membuat Rama heran.
"Nai, lo tidak apa-apa? Apa lo ngigau sampai bengong begitu?" lagi-lagi tidak ada balasan dari Naina.
Rama berdiri, ia berjalan mendekati Naina dan berdiri di hadapannya.
"Masyallah, kok lo kelihatan tampan banget ya, Ram? Apa ini mimpi? Apa gue tidak salah nikah sama pria seperti lo. Suara lo bagus, wajah lo tampan berseri, tapi kenapa sikap Lo suka ngeselin sih?" ujar Naina melamun masih dengan tatapan mata pada Rama.
"Astaghfirullah, dia kesambet syaiton ngawur. Naina Al-Ghifari, lo masih waras kan?" Rama menjentikkan jarinya hingga berbunyi sampai Naina tersadar dari keterpesonaannya.
"Eh!"
"Lo melamun? Ini usah subuh, buruan mandi wudhu dan kita shalat berjamaah bareng. Cepetan, gue tunggu lo dalam waktu sepuluh menit!"
"Eh, lo kasih waktu gue 10 menit? Itu hanya untuk wudhu saja mandi lebih dari 10 menit."
__ADS_1
"Mendingan wudhu saja, buruan sebelum waktu subuh habis!"
"Iya, iya. Tapi mukenanya?"
"Itu ada di atas meja." Rama menunjuk satu stell mukena beserta sejarahnya.
"Dia menyiapkan ini semua untukku? Perasaan semalam tidak ada itu?"
"Naina, buruan! Malah diam di situ."
"Iya, tunggu sebentar." Naina turun Dari ranjang beranjak ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti dan menoleh kepada Rama. "Jangan panggil gue Naina, gue ini lebih tua daripada lo."
Rama mengerutkan keningnya. "Jangan panggil suami, lo. Meskipun gue lebih muda dari lo, tapi gue ini suami lo!"
"Isshh, lo juga sama. Jangan panggil gue lo."
"Nanti di bahas setelah shalat, cepetan wudhu!" Dan Naina kembali melanjutkan tujuannya masuk ke kamar mandi.
Hingga beberapa saat telah berlalu mereka selesai beribadah. Rama menengok kebelakang, ia mengulurkan tangannya kepada Naina.
"Apa ini?" tanya Naina di buat heran.
"Sun tangan,.aku kan suamimu." Dan anehnya Naina menurut begitu saja. Tanpa di duga, Rama mengecup pucuk kepala Naina ketika wanita itu tengah mengecup punggung tangan Rama.
Deg.
Naina tertegun atas apa yang Rama lakukan. Ia tidak menyangka Rama melakukan ini padanya. Lalu Naina melepaskan tangan dan Rama kembali menatap ke depan. Kelihatan sekali jika Rama sedang berdoa khusu yang entah apa isi doanya.
"Ya Allah, apa boleh aku mengagumi pria yang ada di hadapanku ini? Sejak dulu aku ingin sekali mendapatkan sosok imam keluarga yang bisa menuntunku ke jalan. Aku menginginkan pria seumuran denganku ataupun lebih dewasa dariku, tapi engkau malah memberikan pria muda yang masih sekolah. Apa ini garis takdir yang engkau tentukan untukku?"
Rama sudah menyelesaikan ibadahnya, dia berdiri pun dengan Naina yang juga membereskan mukenanya.
"Mumpung pagi, kamu harus segera pulang ke Villa sebelum keluargamu menyadari kalau kamu tidak ada di sana," ucap Rama sambil melipat sajadah dan juga sarung yang ia kenakan. Kemudian menyimpannya ke atas meja.
__ADS_1
"Siapa suruh menculikku malam-malam, jadinya begini kan?" Naina juga menyimpan mukenanya di atas tumpukan sarung yang Rama kenakan. Kemudian Naina duduk di tepi ranjang.
"Gue hanya memastikan keadaan lo saja." Rama juga mengambil kemeja yang entah kapan ada di sana. Soalnya semalam Rama hanya mengenakan kaos dan celana Chino selutut.
"Oh iya, mulai saat ini biasakan panggilan kita jangan lo gue lagi." Rama memasang jam tangannya yang ada di atas meja, kemudian mengambil dompetnya.
"Iya."
"Hmm Rama, maksud lo ..., eh kamu. Maksud kamu apa mengecup kepalaku saat tadi."
Rama menatap Naina. "Karena kamu istriku dan sudah sewajibnya aku mulai menerima kamu dalam segala hal. Dan itu salah satu cara kita mendekatkan diri satu sama lainnya. Aku tidak main-main dalam ikatan suci, Nai. Sekalipun kita nikah karena tragedi, tapi pernikahan itu sah dan aku bukan orang yang suka bermain dalam sebuah hubungan."
Naina mendongak. "Seserius ini kamu menjalani Secret Marriage ini?" Rama menganggukkan kepalanya.
Kemudian Rama nampak mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kartu berwarna hitam di sodorkan ke hadapan Naina.
Naina mengernyit heran, "apa ini?"
"Kartu atm."
"Iya, aku tahu ini kartu, tapi untuk apa?"
"Nafkah buat mu. Dengan kartu ini kamu bisa berbelanja sesukamu dan bisa membeli apapun yang kamu mau. Jangan bertanya dari mana aku mendapatkan uangnya, tapi yang pasti uang yang aku berikan kepadamu bukan pemberian orang tuaku, tapi ini murni hasil kerja kerasku. Mungkin isinya tidak sebanyak orang lain, tapi aku memberikannya sebagai nafkah pertamaku padamu. Passwordnya tanggal pernikahan kita."
Naina tercengang, sebegitu seriusnya Rama dalam pernikahan rahasia ini sampai harus memberikan nafkah juga? "Rama, ini ..."
"Ambillah, Nai!"
"Ok jika kamu memaksa." Naina mengambil kartunya. "Jadinya kalau aku mau belanja tanpa perlu meminta kepada Papa lagi. Aku bisa bebas makan tanpa harus mengirit uang lagi." Ia tersenyum girang meski heran.
Rama tersenyum. "Terserah kamu," ucapnya sambil mengacak rambut Naina.
"Rama ...."
__ADS_1