
Rama bersiap hendak olah raga pagi sekalian mau bertemu Naina.
"Aki, Emak, Rama olahraga dulu, ya." Rama menyapa kakeknya yang sedang menikmati hidangan secangkir kopi ditemani cemilan goreng ubi.
"Iya, siap. Kamu jangan lupa mampir ke villa nya Devano. Sekalian antarkan ini." Kakek Soleh memberikan bingkisan berupa gorengan kepada Rama.
"Tumben Aki baik mau memberikan makanan buat om Devano?"
"Ini hanya sekedar makanan biasa saja. Sebagai tetangga kan harus baik, apalagi dia itu langganan sama kita."
"Oh gitu, kalau gitu Rama pergi dulu, Ki. Mumpung udaranya masih segar
Rama mengambil plastik warna hitam itu dan ia pun keluar rumah. Sembari menghirup udara segar di pagi hari setelah subuh, Rama berlari santai layaknya lari pagi.
*****
Villa.
"Alina, setelah lulus kamu mau lanjut kuliah dimana?" tanya Erna yang sedang duduk di meja makan.
"Universitas negeri saja, Nek. Alina tidak mau jauh dari kalian semua."
"Itu juga bagus, jadinya kita tetap kumpul di kota yang sama. Oh iya, sebentar lagi Kakak kamu juga akan mengajar di sekolah mu. Kata Naina menjadi guru Fisika," kata Kania.
"Bagus dong, itu artinya cita-cita Kakak sebagai guru akan terwujudkan. Kalau ada kakak, Alina bisa minta jajan tambahan."
"Kamu ini, tapi Kakak kamu juga akan mengelola katering mama kamu. Nanti, kalau kamu sudah lulus kuliah, kamu juga papa kasih percayaan untuk mengelola toko kue kita yang ada di kota," ucap Devano.
"Aku mah belum siap Pah, mendingan kalian saja yang kelolanya."
"Kamu itu harus belajar dari sekarang, siapa lagi yang meneruskan usaha kita kalau bukan kalian berdua," balas Devan.
"Iya sayang, kamu pasti bisa kok." Kania menyimpan nasi goreng ke atas meja.
"Naina belum bangun?" tanya Erna.
"Belum, Mah. Katanya masih ngantuk, mungkin juga masih sedih atas kejadian kemarin," ucap Kania.
"Biarkan saja dulu, setiap orang pasti merasakan patah hati yang mendalam. Apalagi Naina dan Mario sudah mau tunangan, pastinya ini tidak mudah bagi Naina," kata Devan.
"Apa yang di katakan Devan ada benarnya juga."
"Kakak mah lebai," celetuk Alina.
__ADS_1
"Alina." Kania, Devano, dan Erna menegur Alina.
"Apaan sih, benar kok. Kakak emang lebai, putus cinta sedihnya sampai segitunya, aku aja yang di putusin Rama biasa saja tuh." Dengan santainya Alina menuangkan nasi goreng ke atas piringnya.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu sama kakak kamu, Al. Ini beda dengan yang kamu alami," ujar Kania.
"Sama saja."
"Assalamualaikum." Hingga ketika pintu mengalihkan pembicaraan mereka.
"Biar aku saja yang buka, kamu siapkan semuanya," ujar Devano pada Kania sambil beranjak berdiri. Dan Kania pun mengangguk.
*****
Saat melewati Villa Devano, Rama mampir dulu. "Assalamualaikum." Rama mengetuk pintunya serta mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan dari dalam rumah yang diyakini suara Devano.
Lalu pintunya terbuka. "Rama, ini masih pagi, baru juga setengah enam pagi. Tumben? Ada apa?" Devan yang hendak sarapan mendengar suara seseorang. Tadinya mau Kania yang membukanya, tapi karena Kania sedang sibuk di dapur jadinya Devan yang membuka pintu.
"Sekalian olah raga pagi, sekalian mampir, Om. Ini ada titipan dari Aki, katanya buat Om Devan dan keluarga." Rama memberikan plastik ke Devan.
Devan menerimanya. "Padahal tidak usah repot-repot, kalau tidak repot ya jangan kirim apapun." Devan terkekeh. "Ayo masuk, kebetulan sekali kami mau sarapan, karena ada kamu ayo kita sarapan bersama." Ajaknya sambil mempersilahkan Rama masuk.
"Udah, jangan sungkan. Ini ajakan Om sebagai rasa terima kasih karena kamu sudah membantu Mama Om dan Alina. Ayo masuk."
"Tapi ..."
Karena Rama enggan masuk, Devan merangkul pundak Rama dan membawanya masuk kedalam. "Jangan banyak tapi-tapian."
Rama mengangguk, tapi matanya terus melihat ke depan dan mencari sosok wanita yang sudah menjadi istrinya.
"Mana Naina? Belum kelihatan," batin Rama.
"Ayo."
Alina, Kania, dan Erna menoleh.
"Rama."
"Ngapain Rama kesini? Apa jangan-jangan dia mau ketemu aku? Sudah ku duga kalau Rama tidak akan bisa melupakan aku begitu saja." Batin Alina senyum-senyum sendiri meyakini kalau Rama memang datang untuknya.
"Rama mau ikutan sarapan bareng kita. Kalian tidak keberatan kan?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak, Pah. Rama duduk di samping aku saja." Alina sudah percaya diri sekali.
"Tidak apa-apa, Mas. Ayo Rama duduk. Kebetulan Tante masak banyak."
"Terima kasih, Tante, Om." Namun mata Rama memperhatikan tempat duduknya. Ada enam kursi di sana. Sisi kiri di tempati Devano, sisi kanan di tempati Erna. Kania duduk berhadapan dengan Alina.
Dan Rama sudah ingin duduk di dekat Kania, tapi Devan menyuruhnya duduk di dekat Alina.
"Kamu duduk di dekat Alina saja, Rama."
"Ayo Rama, duduklah." Alina menarik tangan Rama memaksa pria itu duduk di sampingnya.
"Itu artinya kursi yang kosong itu akan di duduki oleh Naina. Aduh, bagaimana ini? Apa Naina akan salah paham padaku?" Hati Rama gelisah tidak menentu, ia tidak enak jika menolak, tapi tidak enak saat Naina ada.
"Selamat pagi semuanya," pekik Naina terdengar riang sambil sedikit berlari menuju meja makan.
"Selamat pagi juga, sayang," ujar Kania dan Devano bersamaan. Rama yang belum duduk menoleh ke belangnya.
Deg.
Naina yang tadinya berlari mendekati meja makan memelankan langkahnya kala menyadari adanya Rama. "Rama! Aduh, bagaimana ini? Gue malah pakai baju pendek gini lagi? Malunya." ucapnya dalam hati Naina menunduk malu.
Berbeda dengan Rama yang kaget karena Naina berpakaian berbeda. Memakai celana pendek sepaha dan juga memakai tangtop sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Naina, pakaian kamu tidak sopan sekali, ganti!" seru Devano tegas.
"I-iya, Pah." Naina menatap Rama, lalu kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.
"Gila, apa tanggapannya tentang gue ya? Mata Rama berbeda sekali tanpa berkedip melihat gue? Ahh malu sekali." Batin Naina menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah, dosa tidak sih menatap kagum tubuh Naina? Astaghfirullah." batin Rama.
"Ayo Rama duduk?" kata Devan.
Rama pun duduk.
"Kak Naina mah gitu, mentang-mentang di rumah jadinya asal pakai baju. Terlihat seperti murahan."
"Bukan murahan, tapi karena kalian mahramnya Naina berpakaian seperti itu. Jika keluar apa pernah berpakaian seperti tadi? Setahu ku tidak, beda dengan kamu yang selalu memakai baju selutut jika keluar, tidak dengan Naina yang selalu berpakaian panjang," kata Rama kurang menyukai penilaian Alina terhadap Naina.
"Kok kamu malah belain kak Naina sih? Aku itu pacar ka ..."
"Ralat, mantan. Kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi."
__ADS_1
"Selain hanya akan menjadi adik ipar." sambung Rama dalam hati.