Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 87 - Kemarahan Rama


__ADS_3

"Bu, tidak lihat itu Foster wajahnya mirip ibu banget. Tapi masih untung tubuh ibu yang tanpa busana itu tertutup oleh tubuh prianya. Gak malu ngajar di sini?" kata murid lain.


"Kamu kalau bicara jangan asal ngomong. Itu bukan saya dan saya tidak tahu siapa dia. Bisa jadi ini fitnah seseorang yang tidak senang terhadap saya." Naina membela dirinya karena merasa tidak melakukan apapun. Bahkan dari fosternya pun ia bisa membedakan kalau itu adalah editan.


"Bu, apa ibu lupa kalau ibu menikah karena terpaksa? Katanya sih sudah di tiduri duluan," ujar Alina.


"Alina kamu!" Naina tidak percaya adiknya berkata seperti itu. Masih saja Alina bersikap tidak baik padanya.


Tak lama kemudian rombongan Rama dan kawan-kawan memasuki area parkiran.


"Itu ada apa rame-rame?" tanya Deni turun dari motornya.


"Iya, sepertinya ada yang menarik di lapangan sampai harus berkumpul gitu?"


"Kita kesana!" Rama turun dari motornya dan segera melihat kejadian yang ada di sana. Dia memang tidak mengantarkan Naina karena Naina membawa mobil pemberiannya. Jadinya mereka berdua suka pulang dan berangkat terpisah.


Rama, Deni, dan Rian menghampiri.


"Ada apa sih rame-rame?" tanya Deni.


"Itu Bu Naina, ternyata dia wanita murahan. Sudah punya suami tapi tidur dengan laki-laki lain," kata seorang pria.


Rama yang mendengarnya terbelalak. "Apa lo kata? Kalau ngomong jangan asal bicara!" Rama tersulut emosi tidak terima istrinya di tuduh begitu.


"Foster itu menunjukan hal tak senonoh nya."


"Minggir!" Rama segera menerobos ke kerumunan anak-anak sekolah.


Deni dan Rian juga ikutan menerobos dan seketika dia melebarkan matanya.


"Kurang ajar!" Rama merampas fosternya dan menginjak-injak Foster itu. Dia menatap Naina yang terlihat sedih dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Tidak ada satu orangpun yang percaya sama Naina setelah mendengar hasutan dari Alina.


"Siapa yang berani memasang Foster sialan itu, hah? Siapa!" sentak Rama menatap tajam mereka yang ada di sana.


"Itu sudah ada saat kita masuk ke sini."


"Gue tidak bertanya itu, gue bertanya siapa yang sudah memasangnya!" sentak Rama.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Rama karena mereka tidak ada yang tahu. Namun berbeda dengan Alina yang terhenyak mendengar kemarahan Rama. Dia menunduk takut ketahuan kalau dialah yang memasangnya sebelum orang-orang datang. Ini salah satu rencana Mario yang ingin mempermalukan Naina dan membuat Naina merasa tidak pantas. Mario memang tahu Rama dan Naina sudah menikah, tapi dia meyakini kau keduanya belum berhubungan badan karena Mario yakin kalau tidak akan ada yang mau menyentuh wanita kotor.


Rama memperhatikan setiap raut wajah orang-orang di sekitarnya. "Kamu!" tunjuk Rama tepat di depan wajah Alina.


Deg.


"A-aku. Kenapa kamu menuduhku? Aku tidak tahu apa-apa."


"Gue tidak percaya karena di sini yang tahu tentang Naina adalah lo. Sekalipun lo berbuat tidak baik sama kakak lo sendiri, tidak akan gue biarkan itu terjadi. Gue tidak mudah di bohongi."


"Apa? Jadi Bu Naina kakaknya Alina? Terus kenapa tadi bilang kalau Bu Naina itu sudah di tiduri pria lain sebelum suaminya?" kata teman-teman yang ada di sana.


"Jadi ini ulah mu?" tanya Naina yang kini mulai beralih menatap lekat wajah Alina. Sekarang ia mulai menyadari sesuatu kalau ini semua tidak akan terjadi jika tidak ada yang berulah.


"Kok malah nyalahin aku sih?"


"Diam kau Alina! Disini yang tidak suka hanya lo saja, di sini yang tahu Naina sudah menikah hanya lo dan hanya lo yang tidak suka pernikahan kita. Gue tidak yakin kalau ini ulah teman-teman gue karena gue tahu seberapa solidnya mereka. Namun tindakan lo ini sudah membuat orang lain beropini kalau Naina wanita tidak baik. Gue tidak menyangka pikiran lo sepicik ini."


Dan bisik-bisik terdengar.


"Kenapa Rama marah banget? Siapa Rama dan Bu Naina? Apa mereka ada hubungan?"


"Rama kan di ketahui suka sama Bu Naina, jadi ia bisa saja tidak terima orang yang di sukainya di permalukan. Tapi kenapa harus Alina yang di tuduh?" dan masih banyak lagi opini-opini yang menggiring pada Naina dan Rama.

__ADS_1


"Lo kenapa sih malah belain guru itu? Apa lo sudah buta membedakan mana yang benar dan tidak? Dia itu sudah tidak perawan lagi."


"Ya Naina tidak perawan lagi karena gue yang memperawani dia, puas Lo!" sentak Rama mengakui tindakannya. Ia tidak mau istrinya di jelekkan di depan umum.


"Apa?" pekik semua orang termasuk Alina juga kaget.


Naina terkejut atas pengakuan Rama. Ia semakin di buat terkejut oleh kejadian yang ia alami hari ini. Sekarang dirinya harus bagaimana? Pasti dia akan di pecat. Lalu Rama? Ia takut Rama juga di keluarkan dari sekolah.


"Kenapa? Kalian kaget kalau gue bicara seperti ini? Dan asal lo tahu, Alina .. Gue orang pertama yang sudah menyentuh kakak lo dan gue meyakini kalau Foster yang kalian lihat adalah hasil editan. Kalau gue menemukan bukti kejahatan Lo yang sudah menyebarkan fitnah, gue tidak akan segan-segan menyeret lo ke penjara." Rama menunjuk wajah Alina dengan tatapan tidak suka.


Semakin bungkam dan takut saja Alina. Ia tidak menyangka respon Rama begitu luar biasa sampai mengakui dirinya orang yang sudah mengambil keperawanan Naina.


"Dan gue akui kalau gue suaminya Naina!" sambung Rama semakin membuat riuh suasana di sana.


"Siapa yang suaminya Bu Naina?" kata seseorang dan itu adalah guru.


"Saya, kenapa?" Rama tidak takut, dia mengakuinya.


"Kamu masih sekolah, jangan halu kamu. Bu Naina itu sudah menjadi inceran pak Jaya."


"Apa perlu saya buktikan kepada kalian semua silau Bu Naina adalah istri saya? Apa perlu saya beberkan bukti bercak darah kalau saya yang pertama? Apa perlu saya mengambil jalur hukum untuk mengusut kasus ini? Saya tidak main-main, seorang Rama tidak pernah bermain-main dalam hal apapun. Kalau saya marah, itu artinya keterlaluan dan saya tidak akan memberikan toleransi sopan pada mereka yang sudah menyebarkan fitnah pada Naina." Rama berdiri di samping Naina, lalu dia menggenggam tangan Naina.


"Apa kamu sadar dengan tindakan kamu, hah? Kalian bisa di keluarkan."


"Saya tidak peduli dengan itu semua karena yang saya pedulikan harga diri istri saya yang telah orang lain injak-injak. Kalau bapak mau mengeluarkan saya dari sekolah ini silahkan, saya tidak peduli tidak lulus sekolah pun."


"Ya iyalah si Rama tidak peduli, toh dia udah punya segalanya," kata Deni.


"Hooh, dan gue juga mendukung apa yang Rama lakukan. Dia membela istrinya, pastinya akan berdiri paling depan untuk menjadi perisai sang istri," kata Rian.


"Rama," lirih Naina menatap tidak percaya pada sosok suaminya yang mau membela dia.

__ADS_1


"Kalau berdua ikut saja!" kata guru yang tidak lain adalah kepala sekolah.


Dan Rama menatap Alina. "Gue akan cari siapa dalang di balik ini semua, dan lo salahsatunya." Tunjuknya pada Alina dengan sorot mata marah.


__ADS_2