Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 23


__ADS_3

Motor yang dikendarai Rama telah sampai di depan rumah Naina. Naina pun turun.


"Makasih kamu sudah mengantarkan aku pulang. Maaf membuatmu kerepotan."


"Sama-sama, gue tidak merasa di repotkan karena ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suami."


"Rama," tegur Naina merasa kurang nyaman dengan perkataan Rama yang selalu bilang suaminya.


"Apa?"


"Gue tidak bisa begini terus, gue cintanya sama Mario. Tolong ceraikan gue Rama!" Naina tidak bisa menjalani hubungan dalam keadaan seperti ini. Hatinya, cintanya hanya untuk Mario, ya ia akui itu kalau ia ingin menikah dengan Mario.


Rama menghela nafas, "tapi gue tidak bisa. Sorry, gue pergi dulu." Rama kembali menyalakan motornya dan pergi dari sana, pria itu enggan membahas masalah perceraian karena ia tidak mungkin menceraikan Naina.


"Kenapa sulit sekali membuatmu mengerti Rama? Aku tidak bisa menyakiti Alina, dia terlalu cinta sama kamu," lirih Naina lalu melangkah ke dekat pintu.


Ceklek.

__ADS_1


"Sayang, kamu udah pulang?" ucap Kania.


"Iya, Mah. Aku di antar Rama."


"Rama?" Kania mengerutkan keningnya.


"Eh, jangan salah paham dulu. Tadi kami bertemu di arena balap karena kebetulan sama juga nonton di sana. Berhubung teman-teman aku udah pulang, Rama tidak tega membiarkan aku pulang sendirian. Jadinya di antar kesini," jelas Naina.


"Oh gitu, dia baik banget ya sampai mau mengantarkan kamu pulang. Oh iya Ramanya kok tidak di ajak masuk dulu?" dan mereka berdua melangkah masuk beriringan.


"Katanya udah malam, papanya juga pasti bakalan marah, jadinya Rama pulang dulu." Naina tiba-tiba tertegun. "Kok aku malah bicara gini sih? Sampai mulut ini berbohong."


"Iya, Mah."


*****


Dengan helaan nafas panjang, Rama melangkah masuk pekarangan rumahnya. Dia sudah mempersiapkan diri menerima amukan dari papanya atas apa yang ia lakukan hari ini.

__ADS_1


Rama pun memegang pintu dan mendorongnya sambil mengucap, "Assalamu'alaikum." Lalu, Rama masuk ke dalam setelah menutup pintu rumahnya.


Di kursi sofa sudah ada papa Restu menunggu dengan kedua tangan di lipatkan dada. Sorot matanya pun begitu terlihat marah dan juga merah.


"Sepertinya Papa menunggu ku pulang, tapi kelihatannya Papa marah besar. Pantas saja sih, toh aku yang gak nurut."


"Bagus ya, kabur dari rumah tapi kamu tidak bilang papa. Lama-lama kelakuan kamu membuat papa darah tinggi, Rama. Mau jadi apa kamu? Keluruyan pulang malam, keluar rumah seperti pencuri, mau kamu itu apa hah?" sentak Restu mengeluarkan emosinya saking kesal karena Rama tidak pernah mau menurut kepada dia. Bukan tidak menuruti keinginan Papanya, hanya saja Rama tidak ingin di atur sedemikian rupa dan tidak mau memaksakan kehendak yang tidak pernah bisa ia wujudkan.


Rama ya Rama, Gilang ya Gilang, tidak bisa Rama menjadi Gilang karena meskipun mereka terlahir dari rahim yang sama memiliki otak, perilaku dan tingkah yang berbeda. Meskipun mereka sama-sama satu keluarga, tapi terkadang ada yang beda. Dan Rama beda dari yang lainnya.


"Rama terpaksa melakukan tindakan ini karena hari ini juga kalian harus tanding, Pah. Maaf jika Papa membuat pusing Papa. Ini untuk papa." Rama menunjukkan piala yang ia dapat kepada papanya. Piala yang ada di dalam tasnya ia ambil.


"Papa tidak butuh barang itu!" sentak Restu menepis pialanya. "Papa hanya ingin kamu belajar yang benar, memiliki nilai tinggi, mengikuti setiap perintah papa, dan juga kau harus seperti kakak kamu, sukses di usia muda dan bisa membantu perusaahan papa. Baru itu yang bisa membuat papa bangga. Papa hanya ingin kalian berdua memimpin perusahaan dan mengembangkan usaha kita. Dengan kelakuan kamu yang bandel seperti ini papa malu, Rama. Apalagi kau terkenal bandel dan juga nilai-nilai mu jelek semua, Papa malu memiliki anak bodoh seperti dirimu."


"Ya sudah, jika papa tidak mau menerima hadiah dariku." Gumam Rama merasa kecewa karena kerja kerasnya tidak di hargai ataupun tidak di dukung. Dia hendak melangkah masuk.


"Besok pagi-pagi kamu akan berangkat ke rumah kakek kamu. Tidak ada penolakan ataupun acara kabur-kaburan. Selama liburan, kamu akan tinggal di rumah kakek dan nenekku agar mereka yang mendidik mu dengan tegas. Papa capek terus-terusan memberitahumu tapi kamu malah tambah bandel."

__ADS_1


"Iya, Rama mengerti. Tapi sebelum pergi ijinkan Rama bertemu teman-teman Rama dulu." Dan Rama tahu jika ini pasti terjadi. Hanya satu pertanyaan yang ingin ia tanyakan, kenapa setiap anak selalu di bandingkan? Tak bisakah mereka melihat sisi baik dari masing-masing anak?


"Ok, hanya sebentar."


__ADS_2