
Malam hari telah berganti siang, Naina menggeliat berguling-guling di dalam selimut sambil menguap. Hingga suara ketukan pintu terdengar nyaring di telinga Naina sampai membuatnya diam tertegun.
"Nenek!" Naina belum menyadari keadaannya yang masih tanpa busana.
Tok.. tok.. tok...
"Naina bangun! Ini sudah siang. Malu atuh sama ayam yang sudah berkokok. Kamu itu perempuan seharusnya bangun pagi menyiapkan keperluan suami kamu. Masa Rama yang nyiapin sarapan buat kamu, malu atuh. Naina, bangun!" ujar seorang wanita terus mengetuk kamar yang di tempati Naina.
"Rama nyiapin gue sarapan? Iya, Nek. Naina udah bangun kok." Naina segera menyibak selimutnya, tapi ia terbelalak kala menyadari keadaan dirinya.
"Astaghfirullah!" Cepat-cepat Naina kembali menarik selimutnya untuk menutupi anggota tubuhnya. "Aku lupa." Dia menutup wajahnya teramat malu mengingat kejadian semalam. Malam pembuktian kalau dirinya sudah tidak lagi perawan. "Ahhh, bagaimana ini? Nanti Nenek banyak tanya."
"Naina, bangun!"
"Iya, Nek." Naina turun dari ranjang, tapi ia merasakan perih di area sensitifnya. "Sumpah sakit bangey," ujarnya sambil berjalan secara perlahan membuka pintu kamarnya. "Apaan sih Nek, ganggu orang tidur saja. Jangan bawa-bawa suami, Naina tahu kok." Bukannya ke kamar mandi, malah membuka pintu dalam keadaan terbalut selimut hampir menutupi seluruh tubuhnya. Hanya wajah yang tidak tertutup.
Erna memperhatikan penampilan cucunya. "Ngapain kamu pakai selimut?"
"Nenek," ujar Naina merengek.
"Eh, ada apa ini?"
Naina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum senang bercampur malu. Erna memicingkan mata curiga.
"Kamu kenapa? Aneh gini?"
"Nek, aku senang karena ternyata aku masih perawan dan Ramalah yang sudah mengambil keperawanan ku."
"Oh masalah itu, nenek kira apa. Ya baguslah, jadi kamu bisa merasakan mana yang sudah dibobol dan belum. Hmm gimana, rasanya sakit?" Erna menaik nurunkan alisnya menggoda sang cucu. Sekarang ia baru paham kalau penampilan Naina masih dalam keadaan tidak berpakaian.
"Sakit banget, Nek. Jalan aku saja sampai kayak pinguin. Kalau kemarin aku masih bisa berlari, tapi sekarang mau melangkah pun rasanya perih banget." Naina baru menyadarinya setelah semuanya terjadi. Sekarang dia sudah tidak perawan lagi.
"Kalau begitu buruan mandi! Kamu kan harus ke sekolah, kan kamu guru. Masa baru masuk sekolah sudah libur saja, malu atuh."
"Terus Rama kemana? Dia tidak membangunkan aku dan kenapa juga nenek ada di sini?"
"Rama sudah pergi duluan pas nenek datang kesini. Katanya kamu lagi tidur, jadinya tidak berani membangunkan kamu yang sedang kecapean. Nenek pikir kamu tidurnya kayak orang mati, kan susah di bangunkan. Eh tak tahunya habis di gempur sampai pagi. Di meja makan juga sudah ada makanan tersedia, ada minuman buat pereda nyeri, katanya buat kamu. Awalnya nenek tidak tahu maksud pereda nyeri itu apa, setelah lihat kamu yang kayak gini baru paham."
"Dia sampai segitunya memperhatikan aku."
"Makanya jangan lepaskan! Rama itu luar biasa, mantu idaman. Udah, buruan mandi!"
"Iya, iya." Dalam keadaan terbalut selimut, Naina perlahan berjalan ke kamar mandi guna membersihkan dirinya lagi.
__ADS_1
*****
Sekolah
Hari yang Rama jalani terasa menyenangkan. Sepanjang jalan menuju kelas wajahnya tidak berhenti tersenyum menyapa orang-orang yang menyapanya juga. Ada sebagian yang heran atas kelakuan Rama saat ini. Biasanya sering banget cuek, tengil, tapi kali ini terlihat ramah.
"Wo!" Tiba-tiba Deni merangkul pundak Rama.
"Tumben lo senyam-senyum menyapa orang? Pasti ada hal yang membuat lo senang, ya?" kata Deni.
"Eh, wajah lo juga berseri-seri, ada apa?" Rian juga ikut memperhatikan wajahnya Rama.
"Kalian tidak usah kepo, ini urusan gue. Yang jomblo dilarang kepo!"
"Wah singkong," kata Rian.
"Songong, pea. Bukan singkong," ujar Deni membenarkan ucapan Rian.
"Ah itu, beda sedikit."
"Gue tebak, ini pasti ada sangkut pautnya dengan kejadian semalam? Pasti lo sudah?" Deni mulai menebak-nebak apa yang telah terjadi diantara Rama dan Naina.
"Ya gitulah. Namanya dua pengantin baru pasti ya gitu." Rama sengaja tidak menjelaskan secara detail supaya mereka berdua berpikir lebih keras lagi.
"Wiih, udah ..." Rian dan Deni menatap curiga pada Rama.
"Keren, habis berapa ronde? Dia masih perawan kan?" Bisik Deni supaya tidak di dengar murid sekitarnya.
"Tentu dong, gue yang pertama." Dengan bangga Rama menepuk dadanya sendiri.
"Ck, gitu saja bangga. Tapi selamat ya." Rian mengacak rambutnya Rama ikut senang sahabat sekaligus bosnya menemukan orang yang pas menurut dia.
*****
"Sampai juga di sekolah," gumam Naina mencoba berjalan normal. Meskipun masih sedikit merasakan perih dan kurang nyaman, tapi ini jauh lebih baik setelah meminum minuman pereda nyeri khusus wanita yang habis malam pertama.
Anehnya, Naina merasakan debaran yang berbeda ketika langkahnya menuju kelas Rama karena hari ini dia juga mengajar di kelasnya.
"Aduh, jantungku deg degan," lirih Naina ketika sudah dekat kelas Rama.
Bruk!
Tiba-tiba seseorang menyenggol bahu Naina. "Dasar murahan!" dan yang bilang itu adalah Alina, adiknya sendiri.
__ADS_1
Naina tertegun menatap tubuh Alina yang sedang berjalan masuk ke kelas. Dia menghela nafas berat. "Pasti Alina sakit hati sekali."
Suasana di dalam kelas.
"Apa guru barunya akan masuk? Ini sudah jam pelajaran di mulai tapi belum juga datang," kata salah satu murid di kelas itu.
"Mungkin juga sedang sibuk, namanya juga guru."
Rama, Deni, dan Rian mendengarkan.
"Apa Bu Naina lo izinin ngajar?" tanya Rian.
"Gue sih boleh-boleh saja, tapi gue tidak yakin kalau dia datang di saat jalannya saja ..."
"Ada Bu Naina," celetuk murid lain.
"Dia masuk?" Rama bertanya-tanya. Dan benar saja, Naina masuk ke kelas. Rama memperhatikan penampilan Naina serta jalannya.
Ia justru mengulum senyum tipis saat menyadari langkah Naina terlihat kaku.
"Selamat pagi Bu guru cantik," celetuk Rama membuat Naina terhenyak kaget dengan jantung yang berdebar.
"Pa-pagi." Jawabnya gugup.
"Loh kok gugup gitu, Bu? Ada apakah gerangan? Pasti harinya menyenangkan ya, Bu?" Lagi-lagi Rama lah yang menggodanya.
"Aduh Bu, wajahnya terlihat berseri-seri sih? Makin cantik deh, Bu." Giliran Deni yang ikut menggoda.
"Iya nih, apalagi rambut Ibu yang di gerai malah menambah kecantikannya, Bu." Rian pun ikutan.
"Kalian ini apaan sih? Ikut-ikutan gombal segala." Rama menegurnya tidak ingin ada yang menggoda Naina. Wajah Naina sudah menunduk malu sesekali melirik ke arah Rama.
"Ck, ini sekolah bukan tempat merayu. Kita mau belajar bukan cari pasangan," celetuk Alina terbakar api cemburu melihat Rama yang begitu semangat menggoda kakaknya.
"Cie ada yang cemburu," kata Rian.
"Diam kau pentul korek!" Alina melotot tajam mendengus kesal.
"Sudah-sudah, kita mulai saja pelajaran hari ini." Meski malu harus menghadapi Rama, Naina berusaha untuk tetap profesional mengajar anak didiknya.
"Bu guru," ujar Rama memanggil.
"Apaan sih Rama?" Naina kesal, tapi juga menoleh ke arah Rama.
__ADS_1
"Abdi Bogoh Ka Anjeun."
Blush!