
"Rama, Rama, Rama." Dan sorak pendukung begitu nyaring menyebut nama Rama.
Tim pun menoleh dan mereka merasa lega karena Rama datang tepat waktu.
"Bang, sorry gue telat." Ucap Rama merasa bersalah.
"Jangan dulu bahas itu, sekarang lo siap-siap karena waktu semakin mepet. Semua orang sudah standby di tempat masing-masing, tinggal lo. Buruan ganti baju!"
"Siap, Bang." Rama mengangguk, ia masuk ke dalam ruang ganti mengenakan segala macam alat keselamatan saat pertandingan sedang dimulai. Rama kembali tergesa menaiki motor yang akan menemaninya balapan.
Sorak riuh penonton masih terus terdengar.
"Rama, lo bisa!" pekik Deni mendukung sahabat nya.
"Jangan lupa berdoa dulu sebelum bertanding, Rama!" pekik Rian tak kalah keras memberikan peringatan agar Rama selalu ingat kepada Tuhannya.
Rama terlihat mengacungkan jempolnya sambil menaiki motor yang sedang melaju ke tempat para peserta. Namun, ada wajah seseorang yang membuatnya diam sejenak. "Kak Naina, kok ada di sini?" tapi karena waktu pertandingan semakin mepet, Rama fokus dulu pada pertandingannya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. Padahal, sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya, dan hanya kepada-Mu lah kami akan kembali."
"Ya Allah ya Tuhanku, mudahkanlah aku dalam menjalankan pertandingan ini, aamiin aamiin yarobbal'alamiin."
Dan semua peserta sudah standby di tempat bersiap menunggu instruksi.
Bruuuum ... bruuuum ... bruuuum ....
"Satu ... dua ... tiga ... go!!!"
Priiiiiitttt ....
Dengan segala kemampuannya, Rama melakukan yang terbaik. Dia terus melajukan motornya seraya terus berdoa agar Allah senantiasa memberikan dia keselamatan. Dengan gaya seperti pembalap profesional, Rama berbelok ke kanan ke kiri sesuai jalan yang ada.
Sekian lama waktu berjalan, kini mereka berada di lap terakhir. Rama yang berada di posisi ke dua mencoba mengejar satu pembalap yang ada di depannya. Semakin cepat ia menjalankan, semakin cepat jarak mereka berdekatan.
__ADS_1
Riuh penonton terus terdengar menyoraki para peserta yang saling ketat mempertahankan posisi pertama. Kadang Rama yang ada di depan, kadang rekannya yang ada di depan. Persaingan semakin sengit ketika hanya tinggal beberapa meter saja mereka sampai di garis Finish.
"Rama lo bisa!" pekik Deni dan Rian bersemangat menjadi pendukung sahabatnya.
Dan Naina yang melihatnya pun ikut deg-degan.
"Nai, itu jagoan gue. Hebat kan dia, masih muda sudah bisa membanggakan kita kita, ah gue Ter Rama Rama," ucap Risma temannya Naina.
Naina hanya tersenyum saja dengan mata terus terfokus ke arena balapan. "aku baru tahu kalau ternyata kamu suka balap motor."
Kembali lagi ke Rama yang sedang berusaha keras bertanding. Di saat ada celah, Rama menyelip motor yang ada di depannya ketika mereka berada di pengkolan tajam.
"Bismillah."
Bruuuum.
Motor Rama melesat jauh melewati lawannya. Ia semakin fokus ke depan dan jarak Finish pun makin dekat. Di saat itu pula ia menambah laju kendaraannya hingga motor yang ia kendarai melewati garis finish.
Prok ... prok ... prok ....
"Rama, Rama, Rama...."
Para teman-temannya, para pendukungnya dan para tim begitu bangga melihat ke berhasilan Rama dalam mencapai juara pertama dalam ajang balap motor se ibu kota.
Tak di sangka, Rama masuk ke tengah dan ia melakukan pertunjukan terakhir, yaitu melakukan Burnout hingga mengeluarkan asap pekat.
Burnout adalah teknik dimana seperti membakar ban belakang. Maksudnya, motor dalam keadaan berhenti namun ban belakang tetap berputar di tempat. Cara melakukannya, tarik tuas rem depan sekuat-kuatnya bersamaan dengan gas.
Dan aksi Rama mengundang riuh para penonton. Mereka begitu takjub melihat keahlian Rama dalam menggunakan kendaraan beroda dua.
Di saat Rama sedang senang atas keberhasilannya dalam meraih piala dan memboyong hadiah juara, orangtuanya Rama sedang marah-marah karena putranya begitu bandel keluar rumah alias kabur.
"Anak itu benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya dia kabur lewat atas. Semakin hari semakin meresahkan orang tua saja." Restu melihat sebuah tali tambang menggantung di dekat kamar putranya.
__ADS_1
"Rama emang bandel, Pah. Dia itu sungguh sangat tidak bisa di beritahu. Sifatnya begitu bertolak belakang dengan keluarga kita. Dia bodoh, bandel, dan kadang juga susah di atur. Gilang heran sama Rama," ucap Gilang ikut kesal karena kelakuan adiknya.
"Lihat saja nanti, Papa akan hukum dia jika sudah kembali ke rumah." Urat-urat di tangannya terlihat kala tangan itu mengepal menahan amarah.
*****
"Wuih, lo hebat, Ram. Aksi lo keren abis. Gue jadi teman lo aja bangga banget punya rekan keren seperti lo. Selamat ya, bro." Deni memberikan ucapan selamat atas keberhasilannya Rama dalam memenangkan turnamen balap motor satu kabupaten. Apalagi kegiatan Rama ini menjadi kebanggaan sekolahnya karena ada guru dan juga kepala sekolah yang ikut serta mendukung penuh kegiatan Rama.
"Gue juga tentunya bangga. Lo emang terbaik menurut versi kita, bro." Pun dengan Rian yang juga memberikan ucapan selamat.
Di ikuti oleh para orang-orang yang ada di sana, guru-gurunya, dan orangtuanya Deni pun memberikan selamat.
"Ini pencapaian gue yang pertama di dunia balapan. Ya, meski awalnya hanya iseng tapi ternyata gue mampu sampai di titik seperti sekarang ini. Dan gue juga berharap kalau bokap gue bisa melihat keberhasilan gue dan bisa sedikit membanggakan dia. Meski gue tahu jika bokap gue tidak akan pernah puas dengan hasil yang gue capai."
Ya, Rama menyadari hal itu. Hal dimana papanya tidak mungkin bangga atas keberhasilan dia dan juga pastinya tidak mungkin begitu saja mampu menyaingi Gilang dalam hal apapun. Karena bagi papanya, segala sesuatu harus sesuai kata papanya.
"Semoga saja bokap lo bangga melihat lo membawa piala ini. Sekarang lo mau pulang?" tanya Rian sekaligus juga memberikan doa terbaik buat rekannya.
"Iyalah, gue harus pulang. Besok bokap ngirim gue liburan di kota nenek dan kakek gue. Mau tidak mau ya gue harus ngikutin perintah bokap. Dan pastinya saat ini bokap sedang marah-marah karena gue kabur lewat jendela." Rama sudah membayangkan bagaimana papanya begitu marah jika mengetahui dia tidak ada di rumah. Rama juga ingin segera pulang sekaligus memberikan piala hasil kerja kerasnya sebagai wujud hadiah atas keberhasilan dia. Meskipun ia tahu tak akan mudah membuat papanya bangga.
"Wih ... Lo liburan? Enak dong, di sana 'kan tempatnya emang adem dan udaranya pun segar."
"Tapi kita gak bakalan saling bertemu dan juga gak bisa main game lagi. Apalagi kita harus sering kontrol perusahaan game kita. Masa CEO nya gak ada satu," sahut Rian.
"Kalian tenang saja, gue akan tetap mantau dan menciptakan game-game terbaru yang bisa membuat para anak-anak menyukainya. Target kali ini adalah, menciptakan sebuah permainan untuk menuntun anak belajar dalam agama maupun non agama." Rama sudah memiliki ide mengenai rencananya, tinggal dia mewujudkan ide itu dan mempublikasikan permainan yang ia ciptakan.
"Wah, kita setuju nih. Dengan adanya permainan itu para anak-anak bisa giat belajar. Kita tunggu kabar baiknya. Gimana, Ian?"
"Tentu saja gue mendukung."
Melihat Gala sudah berkumpul dengan teman-temannya, Naina mencoba mendekatinya.
"Rama," panggilnya ketika sudah dekat.
__ADS_1
Rama menoleh. "Kak Naina!"