Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 8


__ADS_3

"Nai, kamu kemana saja? Aku khawatir sama kamu, aku terus menghubungi no ponsel kamu tapi tidak bisa di hubungi terus. Kamu tidak apa-apa kan Naina? Ada yang terluka? Ada yang menyakiti kamu? Terus kenapa kamu bisa tidak pulang semalaman? Dengan siapa kamu perginya?" Mario terus mencerca Naina tanpa cela sedikitpun. Pria itu langsung saja berjongkok di hadapan Naina tanpa memperdulikan keluarganya yang lain. Rasa ingin tahu kabar dari Naina membuat ia melupakan orangtuanya Naina yang sedang duduk di sana.


"Mario, aku tidak apa-apa. Kamu bisa lihat sendiri keadaan ku saat ini, aku baik-baik saja."


"Tapi aku tidak yakin kalau kamu baik-baik saja. Pasti ada sesuatu terjadi yang mungkin saja tidak kita ketahui. Jelaskan yang sejujurnya pada ku Naina, semalam kamu kemana? Pergi dengan siapa? Dan kamu ngapain aja?" Mario terus saja menanyakan kejadian semalam.


Naina terdiam, ia tidak bisa menjawabnya karena memang semua pertanyaan Mario akan ada jawabannya. Memang benar telah terjadi sesuatu, yaitu pernikahan. Semalam Naina kemana? Yang pastinya lari menjauh dari orang-orang jahat, pergi dengan Rama dan jika bertanya ngapain aja? Hanya lari menjauh dan nikah, itu kejadiannya. Namun Naina hanya bisa bicara dalam hati saja tanpa berani berkata yang sejujurnya.


"Kak Naina, kok kamu diam saja, jawab dong Kak?" Alina juga penasaran dengan kejadian yang sebenarnya. Ia ingin bertanya pada Rama tapi tidak bisa dikarenakan no ponsel Rama tidak aktif.


"Hah, tidak. Kakak dan Rama tidak melakukan apapun, tidak terjadi apapun hanya sebatas lari dari kejaran para begal."


"Rama? Kamu bersama Rama semalaman?" tanya Mario menatap intens Naina.


"Tidak seharian, Mario. Tidak melakukan apapun juga."


"Kamu seriusan?" Mario masih memastikannya pada Naina.


"Aku seriusan." Naina terlihat meyakinkan bahwa ia tidak kenapa-kenapa dan tidak terjadi sesuatu pada dia dan Rama. Barulah Mario mengangguk seakan mempercayai ucapan Naina. Namun tetap saja Mario masih kurang yakin, tapi karena melihat keseriusan Naina membuatnya lebih berusaha mempercayainya.


******


Di tempat berbeda, Rama tengah termenung seorang diri di makan seseorang yang sudah melahirkannya. Dia berdoa sekaligus curhat tentang kejadian yang menimpanya.


"Mah, Rama sedang di landa kegalauan. Rama menikahi seorang wanita berusia lebih dewasa dari Rama, dia kakaknya Alina. Sekarang Rama bingung harus berbuat apa, Mah. Rama ingin menikah sekali seumur hidup, Rama tidak ingin mempermainkan pernikahan, tapi Rama juga kasihan kepada Alina yang menyukai Rama. Apa Rama harus memilih antara mereka? Sedangkan Rama tahu kalau Kak Naina sudah memiliki calon tunangan. Mereka akan tunangan satu bulan lagi. Apa yang harus Rama lakukan, Mah?"


Sekalipun ingin mempertahankan pernikahannya, tapi Rama tidak yakin dengan Naina, apalagi ada Alina yang sudah menjadi pacarnya selama satu tahun.


"Jika Rama sudah menikah , Rama harus memutuskan hubungan dengan Alina, tapi Rama tidak tahu Kak Naina akan memilih mana? Kami menikah atas takdir Tuhan meskipun ini secara emergency, tapi bagi Rama ini pernikahan nyata dan suci."


Kebingungan melanda dirinya sendiri, entah keputusan apa yang harus ia ambil namun yang pasti dia tidak mungkin mempermainkan pernikahan suci ini. Dalam kesendiriannya di dekat makan mamanya, Rama termenung memikirkan langkah yang harus ia ambil kedepannya. Antara melanjutkan hubungannya dengan Alina atau memutuskan mengakhiri kisah cinta anak remaja.


Drrrtt ... drrrtt ...

__ADS_1


Ponsel Rama berbunyi, ia melihatnya. "Alina." Lalu Rama menggeser tombol warna hijau.


( "Hallo." )


( "Rama kamu sedang dimana? Apa bisa hari ini kita ketemuan? Ada hal yang ingin aku perjelas lagi." )


( "Aku sedang ziarah ke makam mama. Kita ketemu di tempat biasa saja, Al. Nanti kamu tunggu di sana, aku berangkat sekarang juga." )


( "Aku tunggu kedatangan mu, awas jangan sampai tidak jadi. Ini penting sekali." )


( "Iya, aku janji akan datang." ) Jika bersama Alina, Rama suka mengubah panggilannya menjadi aku dan kamu.


*****


Kediaman Devano


"Aku harus bertanya lagi sama Rama, aku masih merasa ada hal yang mengganjal dan merasa ada yang di sembunyikan dari kejadian semalaman." Lalu Alina mengambil tas selempangnya kemudian keluar kamar.


"Mah, Pah, aku pergi ke luar dulu ya." Alina berpamitan pada kedua orangtuanya.


"Mau ketemuan sama Rama, aku khawatir sama Rama Mah, aku ingin tahu keadaan dia. Pasti saat ini tidak ada yang memperdulikan Rama karena orangtuanya pasti tidak peduli. Makanya Alina ingin bertemu Rama."


Baik Kania maupun Devano sudah tahu perihal cerita Rama dari Alina. Bagaimana kehidupan pria itu yang seringkali di marahi papanya dan sering dibandingkan dengan kakaknya. Tapi mereka hanya tahu sepintas saja dari cerita Alina, tidak tahu lebih jelas lagi kejadian yang sering menimpa Rama.


Naina yang kebetulan baru keluar kamar diam mendengarkan. "Apa Rama tidak ada yang mengurusi? Segitu tahunya Alina tentang kehidupan Rama?" Ada rasa sedih yang Naina rasakan ketika mendengar Rama tidak di pedulikan. Ia yang sudah menjadi istri Rama merasa tidak berguna, ia yang seharusnya mengobati Rama malah diam di rumah dan ingin pergi dengan Mario. Ya, Mario masih ada di sana mengajak Naina keluar.


Perlahan Naina melangkah mendekati semua keluarganya.


"Ya sudah, kamu hati-hati ya. Kalau bisa nanti kamu ajak Rama ke sini sekalian makan malam bersama sebagai tanda terima kasih kita pada dia atas kebaikan Rama yang sudah menolong kakak kamu," balas Devano.


"Iya sayang, kamu ajak Rama ke sini ya."


"Iya Mah, Pah, Alina akan mengajaknya. Kalau begitu Alina pergi dulu." Alina pun menyalami tangan kedua orangtuanya. "Kak aku pergi dulu." Naina mengangguk.

__ADS_1


"Hmm kalau gitu kita juga pamit dulu Om, Tante." Mario juga berpamitan mengajak Naina jalan.


"Kalian hati-hati juga."


"Siap Om." Hanya Mario yang bersemangat tidak dengan Naina yang selalu diam tidak terlihat bahagia.


*****


Cafe


Alina sudah sampai di tempat yang sering dia dan Rama kunjungi. Tak lama kemudian Rama juga sampai ke sana dan menghampiri Alina.


"Maaf membuatmu menunggu." Rama pun duduk di hadapan Alina.


"Tidak apa-apa, aku aja baru sampai kok. Kamu mau pesan makanan apa?"


"Tidak usah, aku sudah kenyang makan di rumah."


Alina mengerutkan keningnya, "makan di rumah? Siapa yang masak? Setahuku kamu tidak bisa masak."


Rama diam dulu. "Aku beli ketoprak yang suka lewat depan rumah."


"Oh. Hmm luka kamu bagaimana? Sudah di obati?" Alina memperhatikan wajahnya Rama.


"Sudah, tinggal menunggu sembuh saja."


"Kamu kenapa?"


"Aku?" Rama menunjuk dirinya sendiri. "Tidak kenapa-kenapa kok."


"Tapi kamu terlihat berbeda, bicara mu pun terkesan simpel. Apa yang sebenarnya terjadi pada kemarin malam? Tolong jujur padaku Rama, aku tidak yakin jika diantara kalian tidak terjadi sesuatu."


Deg.

__ADS_1


"Alina ..."


__ADS_2