
Ditengah keindahan menyelimuti dua sejoli, kegelisahan menyelimuti keluarga ini. Siapa lagi kalau bukan keluarga Devano yang tengah kebingungan mencari putri sulungnya.
"Ini sudah malam banget, Mas. Naina belum juga pulang, dia belum kembali juga dan hingga saat ini ponselnya tidak aktif. Seluruh teman-temannya tidak tahu keberadaan Naina." Kania terus mondar-mandir begitu khawatir pada putrinya yang tak kunjung pulang meski sudah sangat larut malam.
"Aku juga sedang bingung, ini tidak biasanya. Naina sangat marah sekali padaku, aku juga tidak bisa menemukannya." Devan juga sama, sama-sama mengkhawatirkan Naina.
"Sekarang lihat, putrimu marah besar karena sikap kamu yang pilih kasih. Seharusnya kamu sadar kalau sikap kamu menyakiti salah seorang dari mereka. Mama harap kamu bisa memikirkan lagi cara berpikir kamu dan mama harap kamu jangan terlalu membela Alina. Kalau Naina dan Rama dekat itu memang sudah jalannya, jadi jangan di permasalahkan apalagi menyuruh Naina mengalah lagi pada adiknya karena sebuah perasaan bukan untuk di permainkan." Erna terkesan memojokkan putranya supaya Devan mikir. Dia terlihat panik juga, padahal dalam hatinya tenang karena Naina berada di ruang suaminya. Suami rahasianya.
"Nenek dari tadi terus saja membela kakak. Selalu saja menyuruh papah untuk tidak berpihak padaku. Mau nenek apa sih?" seru Alina semakin di buat kesal atas sikap neneknya yang mulai berubah.
"Mau nenek kamu sadar dan tidak lagi mementingkan diri kamu sendiri. Rama sudah tidak cinta sama gadis egois seperti kamu dan Rama sudah bukan pacar kamu lagi, jadi berhak saja siapapun dekat dengan Rama termasuk kakak kamu," jawab Nek Erna sambil beranjak pergi dari sana.
"Nenek kok gitu? Nenek pilih kasih."
"Cukup Alina! Kali ini papa tidak akan lagi mengabulkan keinginan kamu untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Sekarang kakak kamu pergi karena kita, karena sikap kamu yang selalu mau menang sendiri." Devan prustasi sendiri putrinya pergi dari rumah dan tidak pulang. Semakin kacau saja ketika mamanya ikut marah.
Alina menundukkan kepalanya. "Karena kakak semua orang memarahiku, aku benci ini semua."
Kania mulai terisak memikirkan keadaan Naina. "Kita harus bagaimana, Mas? Aku takut Naina kenapa-kenapa, aku takut Naina terluka."
"Kamu yang tenang, besok kita cari lagi. Aku harap besok Naina ke sekolah." Hanya itu harapan Devan, jika putrinya mengajar, itu akan mempermudahkan dia menemukannya dan meminta maaf pada putri pertamanya.
*****
Keesokan harinya.
"Spada ... gue datang, bos. Lo dimana?" pekik seseorang siapa lagi kalau bukan Deni dan Rian yang datang pagi-pagi sekali.
Rama merasa terganggu oleh suara cempreng mereka. "Berisik banget woi! Gue lagi tidur." Balas Rama menutup telinganya pakai bantal.
"Wah rupanya kau dimari, bos. Tidur di luar tanpa adanya bini, di usir lo dari kamar?" seru Deni menarik selimut yang menutupi tubuh Rama.
"Apaan sih, berisik tahu." Rama melemparkan bantal ke wajahnya Deni. Ia mendengus kesal karena waktu tidur nyenyaknya di ganggu.
"Wow, lo tidur tanpa pakai kao, bos? Perasaan kalau tidur selalu pakai kaos, tumben?" ujar Rian heran melihat tingkah Rama.
"Eh tunggu, ini apaan?" Deni melihat sesuatu mencurigakan, sebuah tanda merah di bagian leher Rama, kecil namun itu membuat Deni memicingkan mata curiga.
__ADS_1
"Apaan sih? Kalian kepo deh." Rama bangun dari tidurnya. Namun ia baru sadar.
"Kalian lihat Naina?" Rama tidak melihat keberadaan Naina di sana.
"Naina?" Deni dan Rian saling pandang. Dan seketika mereka tahu kalau bosnya itu tidur bareng Naina.
"Lo tidur bareng Naina di sini? Dan tanda itu tanda cinta kalian?" tanya Rian diangguki oleh Deni.
"Iya, puas lo. Tapi Nainanya mana?" Rama beranjak bangun ingin mencari istrinya.
"Mana kita tahu, pas masuk sini tidak ada siapapun di rumah ini. Pintu juga sudah tidak di kunci lagi," kata Deni.
"Betul," sahut Rian.
"Perasaan semalam Naina nginap di sini. Gue ingat banget, malah dia tidur dalam pelukan gue. Masa tiba-tiba dia pergi gitu saja?" Rama berlari masuk ke dalam rumah mencari keberadaan istrinya.
"Wah, lo sudah tidak perjaka lagi dong."
"Tidak penting, gue mau cari Naina." Sudah ke seluruh sudut ruangan Rama mencari, tapi ia tak kunjung menemukannya. Akan tetapi ia menemukan sebuah masakan tersedia di atas meja dan ada secarik kertas bertuliskan, Selamat pagi suami brondong ku, maaf aku pulang tanpa pamit dulu. Habisnya kamu tidur sangat lelap sekali, jadinya aku tidak bisa membangunkan mu. Sebagai tanda permintaan maaf aku, aku sengaja masak buat kamu. Semoga kamu suka, ya. Dan satu lagi, terima kasih atas malam indahnya. Aku siap menunggu kamu datang melamar kepada ke dua orangtuaku. Dari Naina, istri tuamu.
"Woi! Lo kesambet setan ya? Malah senyam-senyum sendiri macam orang gila," ujar Rian menepuk pundak Rama.
"Surat dari siapa sih? Dari bini ya?"
"Kepo." sahut Rama sewot sambil duduk memperhatikan makanan di atas meja.
"Yaelah, gitu aja sewot. Kita tahu kok itu dari bini lo. Buktinya lo senyam-senyum sendiri." Deni juga ikut duduk, pun dengan Rian.
"Daripada bawel mendingan kita nikmati makanan buatan Naina." Rama mengambil piring kemudian menuangkan nasi goreng buatan istrinya.
"Sepertinya enak, nih. Tapi lo jorok banget, Ram. Masa makan sebelum cuci muka." tegur Deni.
"Gue tidak peduli." Rama memasukan satu sendok makanan kedalam mulutnya, tapi ia tertegun ketika merasakan rasanya. "Seperti masakan Alina."
"Ini sangat enak, Ram." Rian terus mengunyah, tapi berbeda dengan Rama yang diam menikmati makanannya.
"Rasanya seperti masakan Alina."
__ADS_1
"Gue juga merasa begitu. Gue kan pernah nyoba makanan yang dibawakan Alina buat lo, dan ini sama," kata Deni.
"Tapi waktu gue mutusin Alina, masakannya berbeda. Alina bilang masakan itu dia yang buat dengan hati, tapi rasanya tidak sama dengan ini."
"Mungkin yang masak Naina, tapi Alina hanya yang mengakuinya. Buktinya masakan ini ada di sini dan siapa lagi yang masak kalau bukan Naina. Lo kan tidak punya pembantu, Ram. Mau makan pun lo buat sendiri," ujar Rian terus menikmati makanannya.
"Apa jangan-jangan?" sahut Deni saling lirik dengan Rian dan Rama.
"Buatan Naina."
"Sebuah kenyataan, ternyata aku menyukai orang yang memasak masakan ini," batin Rama.
*****
Sekolah.
Seperti biasa, semua murid menjalankan tugasnya untuk belajar. Sampai siang pun pelajaran terus berlangsung. Namun berbeda dengan Rama yang tengah merasa gelisah karena ia tidak melihat Naina di sekitar sekolah.
"Ini tidak bisa di biarkan, gue tidak tenang." Rama beranjak dari kelasnya.
"Pak saya minta izin ke toilet."
"Silahkan."
Rian dan Deni saling sikut. Mereka heran dan juga penasaran atas sikap Rama yang terlihat gelisah.
Rama keluar kelas, tapi tangannya merogoh saku celana mengambil ponselnya. Kebetulan sekali neneknya Naina menelpon.
( "Halo Rama, apa kamu masih bersama Naina?" )
Deg.
( "Tidak, katanya dia mau pulang. Aku ada di sekolah dan aku mau bertanya sama nenek tentang dia." ) Rasa gelisah yang Rama rasakan semakin bertambah pula.
( "Naina belum pulang ke sini, Rama. Kalau dia tidak bersama mu kemana dia pergi?" )
"Kemana Naina? Ya Allah, lindungi dia. Jangan sampai kenapa-kenapa. Gue harus cari dia."
__ADS_1