
Sepanjang perjalanan menuju Villa keluarga Devano, Naina terdiam tidak banyak bicara apapun lagi. Pikiran tengah diliputi kekecewaan yang mendalam terhadap Mario yang sudah mengkhianatinya. Dengan mata kepalanya sendiri, Naina melihat Mario masuk ke kamar hotel bersama seorang wanita dalam keadaan berpangutan.
Dia dan Rama terus membuntuti Mario sampai ke dalam hotel. Alangkah terkejutnya kala melihat kenyataan yang menyakitkan di depan mata.
"Kamu tidak apa-apa?" Rama mencekal tangan Naina yang sedari tadi diam tanpa berucap sepatah katapun. Kesampaian mereka di Villa membuat Naina ingin segera masuk.
"Tidak, hanya saja aku masih tidak percaya dengan kejadian tadi. Aku mau masuk dulu ke dalam." Rama tidak mungkin memaksa Naina, tangannya ia lepaskan dan membiarkan Naina masuk.
Namun baru saja satu langkah Devano dan Kania sampai. Keduanya turun dari mobil menghampiri Rama.
"Rama, kamu di sini?" sapa Devan.
"Om." Rama menyelami dulu kedua orang tuanya Naina. "Aku kesini mengirimkan mentimun sebagai ganti mentimun yang tadi. Maaf Rama tidak sengaja menjatuhkannya." Rama berpikir jika kedua orang tuanya Naina tidak tahu kalau dia dan Naina habis pergi. Semua itu terlihat dari mentimun yang ia bawa tadi masih ada di depan Villa.
Naina memperhatikan Rama dan mendengar pembicaraan mereka. "Cari perhatian sekali lo ini. Sok baik, sok ganti rugi, mau lo itu apa? Jangan-jangan lo ada maunya ya?" sahut Naina tiba-tiba berubah lagi.
Rama menoleh ke belakang dan mencebik kesal. Ia kesal Naina memiliki kebiasaan aneh. Tadi biasa saja, sekarang marah-marah, tapi jika Naina sudah ngomel gak jelas itu artinya Dia sedang baik-baik saja. "Kalau jadi orang itu jangan soudzon dulu. Gue datang baik-baik tanpa ingin meminta imbalan apa pun. Pikirkan lo yang terlalu dangkal, markonah."
"Hei nama gue Naina ya, bukan markonah! Enak saja main ganti nama orang," sergah Naina mendengus kesal sambil mendekati Rama.
"Lo itu aneh ya, tadi sedih, baik, eh sekarang gak jelas banget."
"Lo yang gak jelas, gue baru sadar kalau lo cari perhatian kan demi mendapatkan restu orangtua gue? Hayo ngaku!" Naina memicingkan mata, ia teringat perkataan Rama yang ingin mempertahankan pernikahannya dan itu artinya Rama akan mencoba mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Astaga! Ya Tuhan ku, pikiran lo makin kacau. Gara-gara si dia lo jadi aneh, dasar sinting lo."
"Hei!"
"Sudah, kalian ini selalu saja berantem. Tidak dimana-mana, setiap ketemu berantem terus. Kalau jodoh baru tahu rasa," lerai Kania menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran dua anak muda ini.
"Jodoh sama orang ngeselin kayak dia, Mah? Idiihhh, ogah!" sahut Naina bergidik ngeri.
"Gue juga ogah kali. Sekalipun di dunia ini hanya ada satu cewek lo doang, gue tidak mau! Tapi mau bagaimana lagi jika Tuhan sudah bertindak? Kita malah berjodoh," balas Rama menyadarkan Naina sampai Gadis itu terdiam seribu bahasa.
"Mulai lagi berantem. Nak Rama makasih ya sudah repot-repot mengganti mentimunnya. Padahal mah tidak usah di ganti juga tidak apa-apa. Sebagai rasa terima kasih, bagaimana kalau kamu mampir dulu ke rumah. Kita ngopi-ngopi goreng singkong rebus."
"Ngapain kakek nawarin dia mampir? Mending di suruh pulang saja." Naina takut Rama bicara tentang pernikahan mereka dan membongkar rahasia Mario. Saat ini Naina belum siap memberitahukan segalanya pada kedua orang tuanya. Naina masih butuh waktu.
"Naina, gak boleh begitu! Rama capek-capek datang kesini buat ganti barang, jadi kamu harus sopan kepada tamu," seru Devan sedikit bernada tinggi. Naina pun terdiam sambil manyun.
"Boleh deh, Om. Sekalian numpang istirahat," kata Rama tersenyum ramah menambah kesan tampan dan begitu mempesona. Devan tersenyum dan mengangguk.
"Kalau begitu aku siapkan dulu singkong gorengnya." Kania menunjukkan singkong yang mereka beli di jalan untuk di jadikan makanan.
"Ck, lo sedang modus sama bokap gue kan?" bisik Naina ketika Devan melangkah duluan.
Rama melirik, "menurutmu? Gue harus dapatkan hati mereka supaya nanti gue jujur tentang pernikahan kita, mereka tidak akan marah." Rama melangkahkan kakinya mengikuti Devan.
__ADS_1
"Jangan macam-macam!" seru Naina.
"Naina siapa yang macam-macam?" Devan menoleh.
"Eh, tidak ada Pah." Naina tidak mungkin bilang apapun pada papanya. Dia melangkah masuk duluan.
Rama pun mengikuti Devan, dia duduk di kursi kayu yang ada di bawah pohon mangga karena Devan yang menyuruhnya duduk di sana. Lalu Devan masuk ke dalam dan mengambil makanan yang di maksud, singkong rebus beserta gula merahnya. Terlihat masih mengeluarkan asap sebab baru saja di angkat dari rebusan, sebenarnya mereka beli supaya praktis, tai juga beli mentahnya untuk cemilan.
"Mumpung masih anget ayo makan." Devan menyimpan piringnya di meja yang terbuat dari kayu.
"Makasih, Om. Di sini tempatnya enak ya? Adem, teduh, sejuk dan juga bisa melihat hilir mudik kendaraan antar kampung dari atas," ucap Rama memperhatikan sekitar rumah Devan. Villa yang di tempati Devan berada di atas bukit, jadinya kegiatan orang-orang bisa terlihat di atas sana.
"Iya, makanya Om betah tinggal di sini. Tempat ini juga banyak sejarahnya dari kecil hingga dewasa," balas Devan sambil mengambil satu singkong. "Ayo di cicipi singkongnya." Villa ini dulu sering menjadi tempat dia dan orang tuanya liburan. Villa yang sudah ada sejak dirinya masih kecil dan kini masih berdiri tegak dan juga masih rapi serta masih utuh.
"Iya, Om." Balas Rama, tapi ia malah mengeluarkan laptop dan membuka sesuatu. "Rama numpang mengerjakan projek di sini ya, Om."
"Projek apa? Kamu emangnya sudah bekerja?"
"Alhamdulillah sudah."
"Wah, hebat. Kamu sudah kerja dimana? Tapi Alina tidak bercerita tentang pekerjaan kamu pada Om." Devan kagum anak seusianya Rama sudah bekerja, tapi ia juga kaget karena Alina tidak pernah cerita masalah kehidupan Rama selain sering dikekang oleh keluarganya.
"Alhamdulillah sudah, Om. Hanya kerjaan kecil-kecilan saja. Soal Alina yang tidak tahu karena memang Alina tidak pernah aku kasih tahu, tapi Om janji ya jangan bilang pada siapapun termasuk Alina dan Naina?" Balas Rama tersenyum ramah sambil tangannya begitu lihai memainkan keyboard.
__ADS_1
"Hmm baiklah, Om tidak akan bilang apapun pada mereka." Meski heran, tapi Devan tidak mungkin bilang apapun pada anak-anaknya. Ia memperhatikan cara kerja Rama yang terlihat mendesain sesuatu. Meski tidak mengerti kerjaan Rama apa, tapi ia tetap memperhatikannya.
"Anak ini kerja apa? kok malah menggambar," batin Devan bertanya-tanya.