Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 76


__ADS_3

Kediaman Devano.


Sesuai pembicaraan semalam, Devan ingin meminta maaf kepada putrinya dan juga memberikan support atas segala musibah yang menimpa Naina. Pria yang sudah tidak muda lagi itu tengah menunggu istrinya yang sedang bersiap-siap.


"Kania sudah belum dandannya? Lama sekali." Devan yang tadinya berada di luar kamar kembali masuk ke dalam untuk melihat keadaan istrinya.


"Tunggu sebentar lagi, Mas. Tinggal mengoleskan parfum saja." Terlihat Kania sudah rapi, wajahnya pun di poles sedikit dan tangannya sedang memegang parfum kesukaannya.


"Lama sekali, tau. Pasti mereka sudah pulang sekolah dan aku ingin segera bertemu Naina."


"Sabar dulu, Mas. Alina saja belum pulang, jadinya tunggu sebentar lagi. Kita akan bertamu ke tempat Naina tinggal, jadinya harus bareng sama Alina. Mama sudah ada di sana duluan, jadi kita tinggal nunggu Alina dulu," ucap Kania sambil menyemprotkan cairan wangi ke seluruh tubuhnya.


"Emangnya kamu sudah tahu alamat rumah kontrakan mereka?"


"Tahulah, kan dari mama." Lalu Kania menyimpan botol parfumnya ke atas meja, kemudian mengambil tas selempang. "Ayo aku sudah siap."


Keduanya pun beranjak pergi dan kembali menunggu Alina pulang dulu. Lebih tepatnya menjemput Alina ke sekolah.


*****


Teeettt... Teeeettt....


Bel pulang telah berbunyi, para murid sekolah telah berhamburan keluar kelas untuk pulang, tapi ada juga yang masih stay di sekolah karena mengikuti kegiatan sekolah.


"Ram, lo mau langsung balik?" tanya Deni.


"Sebenarnya sih pengen, tapi gue harus ke rumah Papa dulu buat mengambil sesuatu di sana. Ada yang ketinggalan." Rama mengambil tasnya lalu berdiri.


"Nanti kalau sudah kita berkumpul di tempat biasa kan?" kata Rian.


"Untuk saat ini gue masih ada urusan. Kata Nenek Erna akan ada tamu ke rumah, gak tahu siapa. Jadinya belum bisa ke tempat biasa, tapi kalau kalian mau membicarakan pekerjaan ke rumah sajalah. Gue lagi males ke kantor."


"Oke deh, kalau gitu kita ke rumah lo saja. Sekalian kumpul sambil kerja. Gue males ke kantor."


"Gue juga," kata Rian.


"Yeee, lo mah ikut-ikutan kita terus." Mereka bertiga terus berjalan tanpa memperdulikan sekitarnya.


Alina yang masih ada di sana mendengarkan semua pembicaraan ketiga sekawan itu. "Kantor? Pekerjaan? Maksudnya apa ya? Apa mereka memiliki kerjaan tanpa sepengetahuan gue?" Alina terus memikirkan setiap ucapan Rama, Deni, dan Rian. "Ah bodo amat, ngapain juga gue mikirin dia. Pokoknya gue harus bisa melupakan Rama si pria brengsek itu." Dan Alina juga beranjak keluar dari kelasnya.


*****

__ADS_1


Area luar kelas.


"Gue mau menemui Naina dulu, apa kalian ada yang mau ikut?"


"Kagak, lo saja sendiri. Gue mah mau langsung balik saja, nanti langsung ke rumah lo."


"Gue juga mau balik dulu."


"Ok, sampai jumpa di rumah gue." Dan ketiga sahabat itu berpencar setelah saling berpamitan. Rama menuju kantor guru, Deni dan Rian menuju area parkiran.


Sepanjang jalan menuju kantor guru, Rama terus mencari sosok yang akan ia temui. Kebetulan sekali Naina juga hendak pulang karena terlihat dari gesture tubuhnya begitu tergesa.


"Bu Naina tunggu!" Rama mempercepat langkahnya. Naina menoleh ke belakang, "Rama." Namun Naina segera menundukkan wajahnya.


"Ibu pasti mau pulang kan?"


"Iya."


Rama menggelengkan kepalanya melihat tingkah Naina. "Aku hanya ingin bilang kalau aku mau ke rumah Papa dulu. Aku tidak bisa nganterin kamu pulang, tidak apa-apa kan?" Rama bicara begitu pelan sambil menatap Naina.


"Papa dan Mama jemput, katanya mau mampir ke rumah," jawab Naina yang juga bicara pelan.


"Mereka mau ke rumah?" Naina mengangguk.


"Loh." Naina mendongakkan kepalanya.


"Aku ke parkiran dulu." Rama berlari menuju parkiran.


"Katanya mau ke rumah Papanya, malah tidak jadi. Ah sudahlah, pasti papa dan mama sudah menunggu di luar." Naina juga tergesa.


*****


Devan sudah berada di depan gerbang sekolah, ia dan juga Kania menunggu kedatangan Alina serta Naina. Kania sudah memberitahukan Naina kalau mereka datang menjemput ke sekolah ingin mampir ke rumah. Jadinya sekalian bareng saja.


"Pah, Mah, tumben kalian berdua menjemput Alina? Biasanya hanya papa saja." Alina berkata ketika sudah membuka pintu mobil, lalu duduk.


"Kita memang sengaja karena mau mampir dulu ke rumah kakak kamu," kata Devan.


"Rumah apa? Kontrakan? Aku sih yakin kalau Rama membawa Kak Naina ke kontrakan biasa. Kan sekarang Rama sudah tidak lagi tinggal dengan orang tuanya. Aku jadi ingin tahu seberapa besar kontrakan mereka?"


"Meskipun hanya kontrakan yang penting Kakak kamu nyaman," ujar Kania.

__ADS_1


"Hmmm."


Terlihat Naina melambaikan tangan ke arah Devan. "Pah, Mah."


"Ayo masuk, Papa dan Mama ingin sekali mampir ke tempat tinggal kamu, tidak apa-apa kan?" kata Kania.


"Tidak apa-apa, justru aku senang kalau kalian mau mampir." Naina pun masuk. Ada kecanggungan terjadi di sana yaitu sikap Devan yang terlihat dingin. Naina sempat melirik Papanya, ia menghela nafas panjang.


*****


"Kontrakan kamu dimana sih, Kak? Ini mah jalan menuju perumahan elit." Alina terus memperhatikan jalan yang mereka lalui.


"Iya, Nai. Ini sebenarnya mau kemana?" tanya Kania.


"Loh, kan Mama dan Papa mau ke rumahku, ya ini jalannya. Masa nenek tidak mengirimkan lokasinya? Pasti sudah tahu dong kalau jalannya kesini?" jawab Naina santai.


"Justru itu, kami meragukan alamat yang di kirim Nenek kamu. Jadinya kami bertanya kepada kamu jalan mana yang akan kita lewati," kata Devan.


"Ini sudah benar kok, Pah. Sebentar lagi juga sampai." Naina duduk dengan santai sambil menyandarkan punggungnya ke jok. Ia ingin tahu reaksi keluarganya seperti apa kalau mereka mampir ke rumah Rama.


"Kita belok kiri, Pah. Rumahnya cat warna abu." Devan mengikuti arahan Naina, tidak lama kemudian mereka menemukan rumah dengan cat yang di sebutkan Naina.


"Yang mana?" tanya mereka bertiga.


"Berhenti di sini!"


Alina, Kania, dan Devan memperhatikan bangunan rumah modern. "Ini?"


"Iya."


"Yang benar saja? Ini mah perumahan elit." Lagi-lagi mereka bertiga tidak percaya.


"Aku serius, Pah, Mah. Itu Rama berhenti di depan gerbang." Naina menunjuk ke arah depan mobil. Mereka kembali beralih menatap depan dan di sana ada motor merah berhenti tepat di depan gerbang.


Gerbangnya pun terbuka sendiri, lalu motor itu masuk sambil menggerakkan tangannya memberikan kode untuk masuk.


"Itu Rama nyuruh kita masuk, Pah." Naina bersuara.


"Kamu serius tinggal di sini? Ini rumah siapa?" Devan masih tidak percaya kalau putrinya tinggal di rumah yang cukup besar dan juga mewah. Sambil berpikir, sambil menjalankan mobilnya masuk ke area parkiran. Nampak Rama sudah turun dari motornya dan membuka helmnya.


"Aku serius, ini itu rumah Rama sendiri. Hasil dari kerja kerasnya sendiri. Nenek juga tahu, kok. Malah Nenek pun tahu pekerjaan Rama," jelas Naina.

__ADS_1


"Gue tidak percaya kalau ini punya Rama. Semasa pacaran dengan gue dia tidak pernah bicara apapun tentangnya. Ini pasti rumah sewaan," kata Alina.


"Ya sudah kalau tidak percaya mah."


__ADS_2