Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 72 - Suasana yang Berbeda


__ADS_3

Resmi sudah Rama dan Naina tercatat sebagai pasangan menikah secara agama dan negara. Keduanya sudah memiliki buku nikah dan juga bukan lagi pernikahan siri yang keduanya alami.


Helaan nafas lega setelah berhasil mengucapkan ijab qobul, menandatangani surat-surat nikah, dan kini ia memegang buku nikah.


"Akhirnya gue tidak tidak sendirian lagi. Ini bini gue, ya. Jadi kalian semua harus menjaga dia juga." Dengan senyum tengilnya, Rama merangkul pundak Naina seraya menatap silih berganti orang-orang yang ikut mengantarkannya.


"Sudah pasti, Ram. Bini lo adalah nyonya bos kita. Kita siap menjaganya dari orang-orang yang memiliki hati tidak baik. Dan kita akan pastikan tidak akan ada yang berani mendekati bini lo," kata pria yang berambut gondrong dengan tato naga melingkar di salah satu lengannya.


Glek!


Untuk sebagian orang menatap ngeri teman-temannya Rama. Tidak pernah terbayangkan kalau Rama memiliki teman yang aneh-aneh begitu.


"Oh iya, Pah. Sesuai perjanjian kita tadi siang, malam ini juga Rama akan keluar dari rumah Papa dan Papa tenang saja, Rama tidak akan bikin malu Papa lagi. Jadi, Papa bisa fokus pada Gilang saja dan juga bisa fokus pada kerjaan yang Papa miliki. Dan mulai malam ini, Rama tidak mau lagi di bandingkan oleh Papa. Mulai hari ini Rama memiliki tanggung jawab sendiri yang dimana Ramalah yang akan menjadi kepala keluarga, jadi Rama tidak akan lagi meminta bantuan apapun pada Papa."


"Ck, baru bisa nikah saja sudah keterlaluan. Kita lihat saja nanti, apa bisa kamu hidup tanpa uang dari Papa? Apa bisa kamu membiayai istri kamu? Paling hasil dari balapan sudah tidak ada."


"Tenang saja, Rama tidak akan minta sama Papa. Iya, nenekku sayang?" Rama menoleh pada Erna yang dimana beliau tahu tentang Rama.


"Iya, dan kamu salah sudah menilai Rama seperti itu. Tanpa kamu sadari kalau Rama anak yang berprestasi dan juga bisa dibanggakan," kata Erna begitu terlihat yakin.


"Iyalah, Rama kan ..."


Pletak!


Deni menjitak kepalanya Rian. "Diam, bodoh!"


"Eh, pea. Sakit tahu, main jitak saja tanpa aba-aba. Ini kepala bukan mainan." Rian protes mendengus kesal.

__ADS_1


"Gue tahu itu kepala, tapi ucapan lo yang harus diam. Jangan bicara yang tidak-tidak, ok!"


"Ck, apa salahnya kalau kita jujur Rama itu seorang pembalap ibu kota." Rian malah tidak mendengarkannya.


"Rian ..."


"Tunggu-tunggu, kau bilang pembalap ibu kota? Mana bisa? Bukannya Rama ini suka main balapan liar sama seperti kalian yang kerjanya nongkrong di jalan," kata Alina.


"Lo yang tidak tahu apapun tentang Rama, dasar anak manja dan egois."


"Apa lo bilang?"


"Ekheemm!" pria yang di sekitar Alina berdehem sampai gadis itu kembali menciut takut. "Sialan, mereka semua menyeramkan," batin Alina takut bercampur kesal.


"Ah gue tidak peduli kalian mau ngomong apa. Gue mau pulang saja," kata Gilang sudah bosan berlama-lama di sana.


"Enak saja bicara begitu! Rama itu akan jadi menantu keluarga ini dan saya yang akan berdiri paling depan kalau kalian semua menyuruh Rama meninggalkan Naina!" kata Erna langsung berdiri membela.


"Aduhh, aku pusing lihat kalian berantem. Mendingan kalian pulang saja," kata Kania melerai pertengkaran mereka yang ada di sana.


"Siapa juga yang mau berlama-lama di sini, ayo Gilang kita pulang. Sekarang Papa hanya punya anak pintar seperti kamu, dan Papa tidak akan lagi pusing dengan kelakuan adik bodoh mu itu." Restu berlalu pergi dari sana dan di ikuti oleh Gilang.


"Pulang saja sana, saya tidak butuh tamu aneh seperti mu!" ujar Erna tidak ingin kalah dari Restu.


"Pusing, pernikahan macam apa ini? Semuanya tidak seperti pernikahan." Devan tidak pernah menyangka kalau dia akan menikahkan putri pertamanya dalam keadaan begini. Tadinya ingin ada pesta, tapi nyatanya di luar dugaan.


"Lihat, Pah. Kakak sungguh bikin malu kita. Dan Rama juga sama saja, bikin ulah saja. Aku tidak percaya kalau berdua berbuat hal tidak senonoh. Aku kira Rama pria sejati, tapi ternyata sama seperti Mario, penjajah wanita. Berapa wanita yang sudah kamu layani, Rama? Dan untuk mu Kak, berapa pria yang sudah berhasil menyentuh tubuhmu? Ck, sama-sama murahan," celetuk Alina saking kesal dan juga marah melihat pernikahan keduanya sampai ia berkata yang membuat semua orang tercengang.

__ADS_1


"Alina!" ujar Erna, Devan, dan Kania.


"Gue tidak peduli omongan lo mau menjurus kemana, tapi yang pasti gue berani bersumpah atas nama Tuhan dan nama mendiang ibu gue kalau wanita yang sudah gue cicipi cuman kakak Lo saja. Jadi gue tidak usah menjelaskan apapun. Tentang siapa gue pada orang yang jelas tidak kan terima suatu kenyataan. Dan untuk Kakak Lo, gue yakin hanya gue saja yang juga sudah ia layani. Sorry, gue tidak suka cara lo menghina Naina. Dan maaf Om, Tante, bulan tidak mengurangi rasa hormatku pada kalian, tapi aku tidak mau kalau Naina tidak nyaman dengan adanya Alina di sini karena aku yakin kalau mulut Alina tidak akan pernah diam. Jadi, izinkan Rama membawa Alina malam ini juga. Om dan Tante tenang saja, Rama sudah menyiapkan rumah untuk tinggal kami."


"Paling juga kontrakan butut," celetuk Alina.


"Ini mulut sampah bicara mulu, ya. Apa perlu gue lakban?" kata Rian.


"Diam kau pentul korek! Gue tidak bicara sama lo!" Alina mendelik tajam.


"Mas, gimana ini?" tanya Kania.


"Terserah kalian saja, saya bingung." Devan berlalu pergi dari sana dengan segala rasa yang sulit di jabarkan.


Naina menatap kecewa saat Papanya tidak memandang dia. Naina meyakini kalau Papanya marah padanya, tapi di saat seperti ini apa tidak ada doa yang akan mengiringi langkahnya saat keluar dari rumah?


"Kamu harus yakin kalau semuanya akan baik-baik saja. Hanya butuh waktu untuk mengembalikan semuanya, percayalah kalau Rama akan membahagiakan kamu." Erna mengusap lembut punggung cucu pertamanya.


Naina memandang wajah keriput yang selalu menemaninya, ia menghambur ke pelukan Erna. "Naina minta maaf, Nek. Nai tidak bisa menjadi anak yang baik. Nai tidak bisa membahagiakan kalian semua. Naina sudah bikin malu keluarga ini, aku minta maaf." Isak tangis kembali terdengar. Rasanya begitu menyesakkan mengetahui papanya marah padanya.


"Memalukan." Alina juga berlalu dari sana sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak ingin menangis di hadapan semua orang. Bohong kalau dia tidak sakit hati melihat Kakak dan pria yang ia cinta menikah di hadapannya. Bohong kalau ia tidak kecewa atas sikap Rama yang begitu berubah padanya. Nyatanya hatinya masih merasakan yang namanya sakit hati.


"Nai, Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kalian berdua. Semoga kamu dan Rama bisa bahagia dan semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, dan warahmah." Sebagai seorang ibu, Kania merasa sedih putrinya akan di bawa oleh suaminya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan yang terbaik untuk pasangan keduanya.


Meski hati berat mekepaskan, tapi ia tidak bisa menahan karena memang seharusnya seorang istri ikut dengan suami kemanapun ia pergi.


__ADS_1


__ADS_2