Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 81 - Sebuah tuduhan


__ADS_3

Tempat Berbeda.


"Apa? Kenapa bisa? Gimana sih cara kerja kalian semuanya? Masa mengurus semua klien saja tidak becus. Kalau begini caranya kita rugi besar." Seorang pria berpakaian rapi menggunakan setelan jas terlihat marah-marah pada karyawannya. Entah apa masalahnya, tapi pria sepertinya sangat marah sekali.


"Maaf Pak, orang yang seharusnya bertanggungjawab dalam masalah ini adalah Gilang. Menurut laporan dari beberapa sumber suara, uang yang seharusnya di gunakan untuk modal dan gaji karyawan banyak yang tidak sampai ke tangan mereka. Seharusnya pihak manager keuangan mengelola pengeluaran dan juga mengatur seluruh pemasukan dan pengeluaran, tapi kali ini banyak yang mengeluhkan terutama para pekerja proyek, Pak. Banyak yang bilang sampai saat ini yang lembur, mereka belum di bayar padahal sudah jatuh tempo dari hari gajian."


"Kenapa bisa? Setahuku Gilang selalu bekerja dengan baik, tidak mungkin dia melakukan kesalahan dalam kerjaannya." Pemilik perusahaan, tempat dimana Gilang bekerja mendapatkan kabar kalau sebagian klien membatalkan kerja sama mereka karena ada penggelapan uang yang di lakukan oleh salah seorang pekerja. Bahkan beberapa proyek yang sedang berlangsung pun menjadi terbengkalai karena para pekerja mogok kerja sebelum gaji mereka di bayar full. Dan kabar ini baru di dengar oleh pemilik perusahannya. Maka dari itu, pria yang sering di sapa Bos itu marah-marah ketika datang ke kantornya.


"Kami juga belum pasti kalau Gilang yang melakukannya, tapi di perusahaan kita hanya dia manager keuangan yang mengatur semuanya, Pak. Alangkah baiknya kita periksa dulu kebenarannya, kalau memang dia sudah korupsi dana perusahaan itu sangat di sayangkan. Baru saja naik pangkat jadi manager sudah berbuat ulah." Saran dari salah satu karyawan itu terdengar masuk akal.


"Kamu benar juga, sekarang kita harus cari tahu semuanya. Biar nanti saya yang akan bicara langsung sama Gilang. Kalau begitu, kamu suruh dia masuk ke ruangan saya!"


"Tapi, Pak. Pak Gilang tidak ada di kantor, hari ini dia tidak masuk."


"Apa? Dia tidak masuk lagi? Sudah berapa kali Gilang libur kerja? Bisa-bisanya di saat situasi kantor sedang dalam masalah dia malah tidak ada di kantor. Kalau begitu, kau hubungi dia terus sampai di angkat!"


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Lalu pria itu pun undur diri dari hadapan bosnya. Dia akan menghubungi Gilang sesuai permintaan bosnya.


"Dan kalian semuanya kembali bekerja ke tempat masing-masing!"


"Baik, Pak." Lalu beberapa orang lainnya kembali menjalankan tugas mereka sebagai karyawan teladan dan juga baik.

__ADS_1


*****


Sedangkan orang yang sedang di cari tengah sibuk dengan dunianya sendiri.


"Lo tidak kerja, Lang? Ini masih jam kantor bukan?"


"Malas, tiap hari otak gue terus saja di pake mikir. Ngitung ini, ngitung itu, ngitung pengeluaran, ngitung pemasukan, semuanya harus gue kerjakan. Pusing juga dan gue butuh hiburan di saat rasa penat menghampiri." Gilang malah asik bermain kartu Remi di salah satu tempat teman-temannya. Tempat yang seringkali menjadi pelarian ketika Gilang tidak mau bekerja.


"Emangnya lo tidak takut bokap lo marah dan tahu kalau sebenarnya lo itu jarang banget kerja. Dari rumah bilang mau kerja, tapi pas datang ke kantor cuman hadir doang, eh pergi lagi."


"Takut? Hahaha tidak mungkin gue takut sama bokap gue. Dia itu percaya sekali sama gue dan bokap lebih menyayangi gue daripada Rama. Meskipun gue malas harus menuruti semua keinginan bokap, gue malas harus melakukan semua pekerjaan yang sebenarnya tidak Gue senangi, gue malas terus menjadi anak yang harus mengikuti perintah bokap. Sesekali gue ingin menjadi diri sendiri tanpa harus melakukan ini dan itu. Sesekali gue ingin seperti Rama yang bebas pergi ke mana saja tanpa harus ada kekangan dari orang tua. Kalau gue bilang, bokap tidak mungkin mengizinkan gue ada di sini bersama kalian semua. Jadi gue tidak bilang bokap supaya gue tidak diceramahi panjang lebar," kata Gilang mengeluarkan semua unek-unek yang ia rasakan. Gilang juga ingin seperti Rama yang bebas bertingkah tanpa harus di atur segalanya. Namun ia tidak bisa karena selalu saja ada ancaman di balik itu semua, dimana papanya tidak akan memberikan harta warisan kalau Gilang tidak mau mengikuti setiap keinginannya. Karena tidak ingin di coret dari kartu keluarga dan tidak dapat apa-apa, jadinya Gilang berusaha menjadi sosok yang papanya inginkan meski harus bertolak belakang dengan keinginannya sendiri.


"Terus sekarang lo mau gimana? Tidak mungkin juga kan kehidupan lo di atur terus sama bokap lo? Lo juga harus menentukan pilihan hidup lo sendiri sesuai yang diinginkan oleh lo." Teman Gilang merasa prihatin atas apa yang menimpa temannya. Namun dia tidak bisa melakukan apapun selain mendukung setiap langkah Gilang.


"Sulit juga jika bokap lo meminta yang terbaik, Mah. Biasanya orangtua selalu mendukung apa yang diinginkan anaknya, tapi ini malah memaksa anaknya untuk melakukan apa yang dia inginkan. Lo yang sabar ya, mudah-mudahan bokap lo bisa berubah."


"Nunggu karma baru bisa berubah." Lalu ponsel Gilang berdering. "Ada yang nelpon." Gilang melihat ponselnya. "Ini dari kantor, ada apa ya?"


Lalu dia mengangkatnya. ( "Halo, Pak." )


( "Sekarang juga kamu harus ke kantor! Bos yang memintamu ke sini!" )

__ADS_1


( "Bos?" ) Gilang mengerutkan keningnya.


*****


Kantor


Gilang datang sesuai perintah atasannya. Dia sedang berdiri di hadapan bosnya. "Ada apa ya Bos? Saya kan sudah izin dulu untuk masuk setengah hari."


Bruk!


Atasan Gilang melemparkan map ke atas meja. "Apa itu? Kenapa laporan keuangan begitu membengkak sedangkan di luaran sana banyak yang mengeluh belum dapat mendapatkan bayaran mereka?"


Gilang mengerutkan keningnya, ia mengambil map berisi laporan yang selama ini ia kerjakan. "Ini memang sesuai pengeluaran, Pak. Saya mengerjakannya dengan teliti. Soal gaji mereka, kan itu bukan pekerjaan saya. Saya hanya di tugaskan oleh Anda menghitung pengeluaran serta pemasukan semuanya saja." Ia merasa tidak ada yang salah dalam menghitung semuanya.


Pria itu menoleh, "tapi semuanya tidak sesuai yang kamu tuliskan. Kemana sebagian uangnya jika di luaran sana masih banyak yang mengeluh? Bahkan beberapa pekerja mogok tidak mau kerja karena uangnya belum kamu turunkan."


"Tunggu, Pak. Ini ada yang salah. Saya bekerja sesuai laporan dan saya juga sudah memberikan semua jumlah pembayaran pada Pak Broto selaku Staff payroll."


Staff payroll adalah orang-orang yang bertanggung jawab mengurus gaji seluruh karyawan. Dalam sebuah perusahaan, staff payroll adalah pihak yang bertanggung jawab dalam pengurusan gaji karyawan.


"Bohong, Pak. Saya belum menerima uang darinya."

__ADS_1


"Pak, apa yang kau katakan?" kata Gilang terkejut atas pengakuan pak Broto.


__ADS_2