
Di saat pikiran gelisah, hati kacau, hanya ketenangan yang ingin Naina dapatkan. Di rumah Rama, ia merasa sedikit lebih tenang dan juga tidak lagi dirundung pilu. Ya, Naina menginap di rumah Rama tanpa memberitahukan kedua orangtuanya. Ia hanya ingin menyendiri dulu tanpa gangguan dari pihak keluarga yang terus menerus menyuruhnya mengalah.
Dua orang manusia tengah menikmati indahnya suasana malam di taman belakang. Malam bertabur bintang di temani cahaya bulan, menambah kesan romantis.
Rama yang terbaring beralaskan karpet di atas rumput hijau sambil menatap langit menikmati suasa malam ini. Naina yang duduk sambil memeluk kedua lututnya juga mendongak ke atas langit.
"Aku tidak pernah melihat bintang dalam keadaan seperti ini. Biasanya suka melihat dari atas balkon saja, tapi kali ini di halaman luas dan terbuka. Sungguh indah."
"Kamu betul, sungguh indah ciptaan Tuhan itu. Apa yang ada di hadapan kita seharusnya di syukuri dan juga di terima dengan baik. Karena kita tidak pernah tahu apakah orang bisa menikmatinya atau tidak. Aku pun bersyukur bisa menikmati keindahan langit malam bersama seseorang dalam hidupku. Biasa di temani mama, tapi kali ini di temani kamu."
Naina menoleh menatap Rama rang tengah menatapnya. "Benarkah? Lalu pacarmu?"
"Nai, stop bahas pacar karena aku sudah tidak punya pacar. Meski dulu punya aku tidak pernah melakukan hal begini." Wajah Rama terlihat kesal, lalu salah satu tangannya beralih ke atas kening dengan mata terpejam.
"Hmm ok. Kalau tidur di sini sepertinya boleh juga. Bisa menikmati langit malam tanpa akan terkena air hujan."
Taman belakang yang atasnya di tutup kaca tebal namun masih bisa melihat suasana langit, dan tembok besar menjulang tinggi dengan atasnya di kelilingi kawat berduri tidak akan ada yang mengganggu mereka, meski hanya sekedar mengintip pun tidak akan bisa.
"Ide yang bagus. Malam ini kita akan tidur di sini." Rama langsung bangun dari tidurnya.
"Apa? Seriusan?" Naina pikir Rama tidak akan meresponnya. Ia memperhatikan suami brondongnya masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian membawa alas tidur.
"Rama, kamu yakin?"
"Tentu. Toh di sini tidak akan ada yang lihat. Temboknya menjulang tinggi, dari atas juga terhalang kaca tebal sehingga kita tidak akan kehujanan jika ada hujan." Lalu Rama menyimpan kasurnya dan menyusunnya serapi mungkin. Dia kembali ke dalam untuk mengambil bantal dan selimut.
__ADS_1
"Ini gila, aku pikir dia tidak akan melakukan itu." Naina beranjak berdiri, ia tidak mungkin tidur di sana bareng Rama.
Terlihat Ram cukup kerepotan namun mampu menyusun semuanya dengan baik. Rama kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur lipat yang tebalnya sepuluh centimeter.
"Ah, nikmat mana yang kau dustakan, Rama. Ini sangatlah nyaman." Rama tersenyum sembari memejamkan matanya terbarik enak di atas kasur.
"Kamu tidur di sini, aku tidur di dalam saja." Naina hendak pergi, namun tangannya di genggam oleh Rama.
"Mau pergi kemana kamu?" Rama menarik tangan Naina hingga gadis itu terjatuh ke atas tubuh Rama.
"Rama!" pekiknya terkejut pria itu berbuat hal nekat.
"Apa? Bukannya ini mau kamu?" Rama malah menggulirkan tubuh Naina kesamping dan memeluknya. "Nyamannya."
"Ini salah, lepaskan aku!" Naina berontak ketika sebuah rasa yang tidak biasa tiba-tiba hadir begitu saja. Gugup sudah pasti, berdebar sangatlah jelas, takut pastinya iya, semuanya bercampur menjadi satu.
Dan seketika Naina terdiam tidak bergerak. Yang ada jantungnya semakin berdebar kencang saja. Beberapa detik kemudian, Rama mendongakkan kepalanya tersenyum puas.
"Kalau diam begini kamu makin cantik, sungguh istri penurut."
"Ck, menyebalkan." Naina membuang mukanya enggan melihat wajah tengil Rama. Entah kenapa ia malah membiarkan Rama berbuat semaunya dan nurut begitu saja.
"Umurmu berapa sih? Ko wajah kamu masih kelihatan seperti anak SMA, ya?" tanya Rama sambil memperhatikan setiap lekukan indah dari wajahnya Naina. Wajah Naina memang terlihat muda dari usianya. Jika jalan dengan Rama pun terlihat seumuran padahal usia Naina lebih dewasa dari Rama.
"Dua puluh empat tahun." Naina masih membuang muka dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Dua empat, dan aku sembilan belas tahun. Kita beda lima tahun, tapi tidak apa-apa. Aku suka wanita dewasa." Tangan kanan Rama mengusap lembut wajah Naina. Dari kening, mata, pipi, hidung, hingga beralih ke bibir.
"Cantik, manis, dan juga menarik." Bisiknya begitu pelan.
Hembusan nafas Rama menerpa kulit wajah Naina. Harum aroma mint dari mulutnya menyegarkan indra penciuman Naina. Jantung wanita itu semakin dibuat tidak karuan dan semakin di buat gugup.
Perlahan wajah Naina bergerak dan matanya pun perlahan terbuka, kini keduanya saling pandang dengan jarak wajah yang begitu dekat.
"Ka-kamu, mi-minggir!" ucap Naina begitu gugup. Namun, Rama malah melakukan hal tak terduga, pria itu begitu lembut menyentuh benda kenyal yang selalu berisik jika bicara.
Naina melebarkan matanya, namun ia malah diam saja tanpa menolak ataupun berontak. Rama semakin berani menggerakkan bibirnya menikmati secara lembut seakan takut menyakiti wanitanya. Tangan keduanya saling bertautan dengan kaki saling gesek.
Keduanya terhanyut dalam melodi indah dibawah sinar rembulan. Keduanya terbuai dalam rasa yang tidak biasa dalam keadaan sadar tanpa ada yang memaksa. Setiap sentuhan lembut dan gigitan manja yang Rama berikan menghasilkan alunan merdu bak irama musik yang syahdu. Semakin bertambah manja pula ketika sebuah tangan meraba benda yang bisa menambah alunan syahdu.
Namun, di saat sebagian sudah tersentuh dan sudah tidak ada lagi penghalang, Rama tersadar. Ia melepaskan panguta nya dan tangannya pun menjauh dari buah kenyal yang barusan ia mainkan.
Naina merasa kehilangan sesuatu, ada rasa yang membuatnya kecewa. "Kenapa?"
"Maafkan aku. Seharusnya tidak begini." Rama menatap dalam mata Naina dengan tatapan mata penuh penyesalan. Tangannya menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh atas naina yang sudah tidak berpakaian. Namun bagian bawah masih lengkap.
Pandangan Naina pun seakan bertanya ada yang yang salah?
"Kita belum menikah secara resmi dan belum mendapatkan restu kedua orangtuamu. Aku tidak bisa melakukannya. Maaf aku sudah lancang menyentuhmu, tapi aku tidak akan pernah meninggalkan mu." Lalu Rama mengecup lembut kening Naina penuh perasaan.
"Tidurlah, besok kita harus ke sekolah." Dan Rama pun menggulingkan tubuhnya ke samping sampai terlentang dengan mata terpejam menahan gejolak asmara yang ingin di gapai.
__ADS_1
Naina tertegun dengan segala macam pikiran yang sulit di jelaskan. Ada rasa kecewa, ada rasa takjub, ada rasa bingung, ada rasa tidak biasa yang membuatnya begitu mudah menyerahkan diri pada pria muda di sampingnya.
"Ada apa denganku? Kenapa aku jadi begini? Aku kecewa karena Rama tidak sampai ke tahap selanjutnya, tapi aku takjub dengan pemikirannya yang bisa menahan sesuatu di saat lagi begini, tapi aku juga merasakan sesuatu yang membuat aku tidak bisa menolaknya. Apa aku mulai menyukai suami berondongku ini?"