Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 26 - Kesedihan Alina


__ADS_3

Alina pulang dalam keadaan menangis, keadaan rumah sudah sepi dikarenakan orangtuanya dan Naina sudah berangkat ke puncak. Hanya ada Mama Erna saja di sana dan beberapa orang yang mengurus rumah. Alina melemparkan tasnya ke sofa lalu duduk di samping Mama Erna kemudian memeluknya.


"Huaaa Nenek." Alina menangis.


"Loh! Kamu kenapa nangis Al? Bukannya tadi mau ketemu Rama? Apa Rama tidak datang?" Mama Erna dibuat heran oleh sikap Alina yang menurutnya aneh. Pergi cerah dan terlihat bahagia, tapi pulang malah menangis.


"Nenek Rama jahat sama aku, dia mutusin aku Nek. Alina tidak tahu salah ku apa, tiba-tiba saja Rama minta putus hiks hiks hiks."


"Putus! Rama mutusin kamu? Kok bisa? Bukannya kalian sudah pacaran lama dan kata kamu Rama baik banget, sayang kamu, cinta sama kamu, kok mendadak Rama mutusin kamu?" Mama Erna juga kaget sekaligus heran mendengar Alina dan Rama putus. Setahunya mereka berdua tidak pernah ada masalah, setahunya mereka tidak berbuat aneh-aneh, dan yang ia tahu Rama pria baik yang selalu membuat Alina bahagia, selalu membuat Alina semangat. Terlihat sekali jika Alina selalu bahagia apa bila menceritakan tentang Rama.


"Aku juga tidak tahu Nek, aku tidak tahu alasannya apa, aku juga tidak tahu penyebabnya apa. Rama hanya bilang dia salah dan minta maaf kepada ku, aku tidak tahu salahnya Rama apa hiks hiks hiks. Ini tidak masuk akal, Rama tidak mungkin mutusin aku secara mendadak jika tidak memiliki alasan yang kuat. Aku bingung, Nenek." Alina semakin menangis kencang, ia patah hati sekali di putusin Rama.


"Sudah sayang, cucu Nenek kan cantik, pintar, kuat, masa di putusin Rama nangis kejer gini? Ini bukan kamu loh. Kamu cari tahu alasannya Rama memutuskan hubungannya dengan kamu itu apa, kalau sudah tahu boleh kamu marah sama dia. Sekarang mendingan kamu ke kamar, ganti baju, dan kita pergi ke mall." Mama Erna mengusap pundak Alina berusaha menenangkan cucu keduanya.


Alina melepaskan pelukannya, ia menganggukkan kepalanya. Dalam pikirannya seharusnya ia tidak cengeng gini, harusnya ia buktikan sama Rama kalau pria itu bakalan menyesal telah memutuskannya.


"Aku mau belanja baju, ke salin, dan aku mau buat Rama menyesal telah memutuskan Alina yang cantik jelita ini." Tekadnya mulai beraksi.


"Nah gitu dong, ini baru cucu Nenek. Kamu tidak boleh sedih lagi, kamu harus kuat dan melakukan perawatan supaya Rama menyesal melepaskan kamu yang sangat cantik ini. Siapa tahu nantinya pas ketemu lagi Rama semakin terpesona sama kamu dan ingin balikan lagi sama kamu." Mama Erna berusaha menghibur Alina.


"Nenek yakin Rama akan mengajak aku balikan lagi?" Alina juga berharapnya hubungan mereka kembali berjalan sebab Alina sudah nyaman berpacaran dengan Rama. Pria itu selalu nurut apa katanya dan selalu saja bisa membahagiakan dia dengan caranya sendiri.

__ADS_1


"Nenek yakin. Udah buruan ganti baju!"


"Iya, Nek." Alina pun beranjak menuju kamarnya.


*****


"Ram, lo seriusan mutusin Alina? Gue tidak percaya saja lo bakalan ngambil keputusan seperti ini," kata Deni.


"Setahu gue lo itu sayang banget sama Alina, sering ngalah sama dia saking sayangnya sama dia, sering diam saja ketika Alina nyuruh-nyuruh lo," timpal Rian. Kedua sahabatnya Rama di buat heran juga. Sepengetahuan mereka Rama bukan orang yang mudah melakukan keputusan tanpa adanya hal yang membuat dia seperti itu.


"Gue seriusan, ini murni keinginan gue putus darinya. Sekalipun gue juga merasa bersalah padanya ketika melihat dia menangis, tapi gue lakukan ini karena ada alasannya. Dan menurut gue ini adalah hal yang benar."


"Kenapa lo melakukan tindakan ini di saat kita tahu perasaan lo sama Alina bagaimana?" tanya Rian.


"Jika sudah berurusan dengan Tuhan kita bisa apa," ujar Deni dan diangguki oleh Rian. Dalam setiap masalah yang mereka hadapi selalu melibatkan Tuhannya.


Drrrtt drrrtt drrrtt


Dan ponsel Rama pun berdering, ia melihatnya. "Dari bokap gue, sepertinya bokap nyuruh gue cepetan balik. Ya sudah, gue balik dulu ya."


"Ok, nanti kabari kota kalau permainan baru siap meluncur," ujar Rian.

__ADS_1


"Siap, tapi kalau kalian mau nyusul kesana susul saja. Sekalian liburan menikmati keindahan alam. Dua Minggu loh libur sekolahnya, sayang kalau tidak di manfaatkan."


"Itu mah soal gampang, nanti kita mampir."


"Sip, gue pamit dulu." Rama pun berpamitan pada kedua sahabatnya.


*****


Kediaman Rama.


"Darimana saja kamu? Dari tadi papa tungguin malah keluyuran dulu. Mau bikin papa darah tinggi, hah?" Restu mencak pinggang memarahi Rama yang baru pulang.


"Ketemu teman-teman Rama dulu sebentar, sudah selesai kok."


"Teman kamu terus yang di perhatikan, mereka itu tidak baik, mereka itu teman buruk untukmu. Gara-gara dia kamu jadi membangkang sama Papa."


"Cukup Pah, Papa boleh marah sama aku tapi jangan bawa teman-teman ku. Mereka tidak pernah membawa pengaruh buruk padaku, justru mereka lah yang selalu memberikan support dan selalu mengerti perasaan ku, selalu menghargai setiap usaha yang aku lakukan. Tidak seperti Papa yang hanya memikirkan perasaan dan kebahagiaan Papa sendiri." Rama melenggang pergi.


"Rama! Setiap hari kelakuan kamu jadi makin buruk!" sentak Restu makin marah atas sikap Rama yang terus melawannya.


"Pah, biarkan anak itu melakukan apapun yang dia inginkan. Kan ada Gilang yang selalu Papa banggakan. Sekarang Gilang bisa sukses jadi direktur di Perusahaan karena Papa. Gilang yang ada di sana berusaha membuat papanya tidak marah-marah lagi.

__ADS_1


"Kamu memang yang terbaik, Gilang. Kamu sangat hebat, tidak seperti adikmu itu." Restu bangga pada Gilang yang mampu mengelola perusahaannya. Perusahaan yang bergerak di bidang bahan bangunan terbesar dan ada hampir di setiap penjuru tempat.


"Oh jelas dong Gilang hebat, kan Papa yang mengajariku."


__ADS_2