
"Alina, ini ..."
"Mendingan ibu masuk ke ruangan guru saja, biar aku yang bicara sama Alina." Rama tidak mau membahas ini di depan yang lainnya. Sekalipun dia tahu kalau tindakan dia kepada Naina terlihat menunjukan rasa sukanya, tapi Rama berpikir tidak membicarakan masalah mereka di hadapan banyak orang.
"Tapi Rama ..."
"Aku bilang biar aku saja!" Suara Rama terdengar tegas sekali dengan tatapan yang begitu tajam seakan tidak ingin di bantah.
Naina yang sudah mendengar suara Rama, ia tidak bisa lagi melawan. Entah kenapa meskipun Rama lebih muda lima tahun darinya begitu berbeda ketika keinginannya tidak ingin di bantah.
"Baiklah." Dan Naina meninggalkan keduanya dengan rasa yang tidak karuan.
"Rama, tolong jelaskan padaku maksud dari sikap kamu? Apa kamu ingin membuat aku cemburu dengan kelakuan kamu ini? Ada hubungan apa kamu dengan Kak Naina? Tidak mungkin kan kalian memiliki hubungan tidak sehat di belakang aku." Alina menatap curiga dengan gelagat Rama yang terlihat berbeda.
Rama menghela nafas berat. "Alina, ini bukan waktu yang tepat membahas masalah ini. Ini sekolah dan aku tidak mau membahasnya."
"Kamu harus kasih tahu aku! Apa karena kakak aku, kamu memutuskan hubungan kita?"
"Tidak ada. Tidak ada sangkut pautnya dengan kakak kamu. Ini murni keinginan aku yang memang tidak mau memiliki hubungan lagi sama kamu. Di bilang sayang, aku memang sayang. Tapi aku tidak bisa mempertahankan hubungan ini karena ada hal yang jauh lebih penting. Dan aku mohon jangan memintaku menjelaskannya karena sekalipun aku menjelaskan, kamu tidak akan pernah bisa mengerti. Jadi, aku mohon sama kamu untuk melupakan aku!"
"Melupakan kamu? Kita udah pacaran hampir satu tahu, dan kamu bilang melupakan? Tidak semudah itu Rama."
"Tapi aku tidak bisa, maaf. Kita tidak ditakdirkan bersama." Rama begitu tegas dalam melakukan keputusan dan sedikitpun tidak akan pernah tergoyahkan. Dan ia pun beranjak pergi.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku harus berbicara sama Kak Naina. Tidak mungkin Rama mudah melupakan aku kalau bukan adanya orang ketika diantara kita. Aku yakin Rama berubah karena orang selingkuhannya, tapi siapa? Apa mungkin kak Naina? Tapi ini tidaklah mungkin." Banyak pertanyaan di benak Alina terhadap Naina dan juga Rama. Dari sikap Rama yang berubah membuat Alina meyakini kalau Rama memiliki wanita idaman lain selain dirinya.
******
Naina terus memikirkan Alina dan Rama. Ia takut terjadi masalah besar ketika Rama terang-terangan mengakui hubungan mereka pada Alina.
"Bu Naina, ada apa?" tanya salah satu guru yang ada di sana.
"Tidak apa-apa, pak. Hmm sapa permisi ke toilet dulu." Naina pun beranjak pergi.
Guru itu mengerutkan keningnya. "Baru juga mau mendekatinya sudah terlihat menghindar."
Setibanya di toilet, Naina segera mencari tempat kosong dan masuk setelah menemukannya. Dia merasa lega, lalu setelah selesai kembali keluar. Baru saja keluar, tangannya sudah di tarik dan tubuhnya di dorong ke dinding.
__ADS_1
Naina terkejut memekik sakit. "Aw!" ringis Naina kala punggungnya terbentur tembok.
Byurr.
Wajah Naina di siram pakai minuman dingin berwarna kuning, es jeruk. Lalu pipinya di cengkraman kuat oleh seorang wanita yang tidak suka pada kedekatan Naina dan Rama.
"Mita! Kamu Mita kan? Kurang ajar sekali."
"Hei guru baru, gue peringati lo. Jangan pernah coba-coba lo dekati Rama atau lo berurusan sama gue, anak pemilik sekolah ini. Ini hanya sebagian kecil peringatan dari gue untuk lo!" serunya begitu berani melawan Naina sebagai seorang guru.
"Anak pemilik sekolah? Asal kamu tahu, saya tidak pernah dekati Rama, dia itu kenalan adikku. Lalu salah kalau saya dekat dengannya?"
Bukan Naina namanya kalau tidak membalas perkataan orang lain.
"Jelas salah, bodoh! Rama itu pacar gue, dan lo harus jauh-jauh darinya! Kalau lo masih terus mendekatinya maka jangan salahkan gue jika lo di keluarkan!" sentak Mita sambil menekan kuat tangan yang ada di pipi Naina lalu Mita melepaskan cengkeramannya.
"Awas, lo. Camkan itu!" Mita menunjuk wajah Naina dan pergi dari sana.
"Ck, cewek sinting. Sudah tahu Rama tidak suka dia, tapi malah terus saja mengaku pacarnya. Di sini murid-murid aneh semua. Bisa-bisanya dia bersikap kasar pada guru." Naina mengambil tissue yang ada di sana dan mengelap wajahnya.
"Jadi kotor 'kan baju gue." Naina menghela nafas panjang, baru saja masuk mengajar sudah dapat musuh anak pemilik yayasan.
*****
"Itu mah hanya lo nya saja yang sudah bucin dan sudah tergila-gila sama dia. Makanya lu merasa khawatir dan tidak tenang ketika cewek lo berada di lain tempat," kata Deni.
"Gue tidak peduli, feeling gue Naina tengah membutuhkan sesuatu." Lalu Rama pergi dari kelas.
"Gue heran sama Rama, dia begitu terlihat lebih memperhatikan Naina daripada Alina dulu."
"Apa sungguh-sungguh menyukai wanita ini?" seru Rian.
"Sepertinya, iya. Buktinya Rama terus teringat pada dia."
"Mudah-mudahan saja tidak ada hambatan dalam hubungan mereka. Sekalipun Naina judes, tapi dia cukup baik daripada Alina."
"Hmmm iya juga sih."
__ADS_1
*****
Mata Rama terus celingukan mencari sosok yang sedang ia cari. "Dimana dia? Di ruang guru tidak ada, di kantin tidak ada, di setiap tempat tidak ada." Rama sudah mencari keberadaan Naina dimana-mana, tapi ia tidak melihatnya.
"Apa di toilet? Ya, hanya tempat itu yang belum gue cari." Lalu Rama mencarinya ke toilet.
*****
Toilet.
"Kalau kotor begini gue harus apa? Bajunya basah dan juga terlihat menerawang di bagian dada." Naina kebingungan dan ia malu harus ke kelas dalam keadaan baju basah.
"Naina," panggil Rama membuat Naina mendongak.
"Rama, kamu ngapain ke sini? Ini sekolah dan panggil aku Bu guru." Naina mengerutkan keningnya merasa heran kenapa pria itu sampai mengikutinya ke toilet.
Rama memperhatikan penampilan Naina yang terlihat kacau. "Ibu kenapa? Apa terjadi sesuatu di sini? Pasti ada orang yang sudah melakukan ini pada Ibu, kan?" Rama mengikuti perintah Naina yang menyuruhnya memanggil ibu.
"Rama bu-bukan begitu. Tadi tidak sengaja aku tabrakan sama salah satu murid dan minumannya tumpah ke bajuku." Naina tidak menyangka Rama begitu perhatian dan bisa menebak kejadian ini. Dia lebih baik berbohong daripada Rama ngamuk. Tatapannya begitu membuat dia merinding takut.
"Aku tidak mudah di bohongi, Bu guru! Aku tahu ibu sedang bohong sama aku." Rama bersuara penuh penekanan seraya menatap Naina tajam.
Naina terdiam dan perlahan ia menunduk ingin menangis. Baru saja masuk sekolah, bari saja hari pertama mengajar sudah ada masalah. "Maaf."
"Siapa yang sudah melakukan ini sama Bu guru?" tanya Rama sambil melepaskan jaket jeans yang ia kenakan.
Naina menggelengkan kepalanya masih menunduk. Dia tidak ingin memberitahukan kepada Rama siapa orangnya.
"Aku tanya siapa orang itu?" Rama kembali bertanya sambil mengenakan jaketnya ke tubuh Naina. Naina terhenyak atas tindakan Rama dan ia langsung mendongak. Mata mereka saking berpandangan.
"Kamu itu tanggung jawab aku, Nai. Apapun yang terjadi sama kamu, aku harus tahu. Dan maaf aku tidak bisa menjagamu di hari pertama mengajar di sini," bisiknya.
"Rama!" Naina tidak bisa berkata-kata. Ucapan Rama mengingatkan dia akan statusnya sebagai istri dan Rama khawatir terhadap istrinya.
"Aku suami mu dan aku harus tahu masalah yang menimpa mu. Sekarang katakan sama aku siapa yang sudah melakukan ini sama kamu?" Rama menatap dalam mata Naina, masih berbisik-bisik bicaranya. Dan tatapan itu mampu membuat Naina terhipnotis.
"Mita," ucap Naina pelan.
__ADS_1
"Mita!"