Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 34 - Membuntuti


__ADS_3

Sampailah Rama dan Naina di salah satu tempat wisata yang ada di Cianjur, tepatnya di taman bunga Nusantara Cianjur - Jawa Barat


"Ngapain sih lo bawa gue kemari?" Naina melepaskan tangan Rama yang terus menariknya. Mereka berdua sudah berada di tempat wisata.


"Gue mau ngajak lo jalan-jalan santai di sini. Daripada lo marah-marah gak jelas mendingan kita menikmati keindahan taman ini, bagus kan?"



Rama dan Naina berjalan diantara hamparan bunga-bunga yang telah di susun rapi.


"Sebenarnya gue males kemana-mana, tapi karena lo memaksa jadinya gue ikut saja." Tak di pungkiri kalau Naina menikmati keindahan tamannya dan menikmati suasana sejuk di sana.


"Boleh gue tanya sesuatu?" Rama menoleh ke samping menatap Naina.


"Tanya apa? Jangan bertanya aneh-aneh."


"Bisa di bilang pertanyaan gue ini aneh." Pandangan Rama kembali ke depan.


"Kalau aneh gue tidak mau menjawabnya."


"Tidak perlu di jawab jika lo tidak mau menjawabnya. Gue hanya ingin bertanya kenapa lo marah-marah tidak jelas? Kenapa lo tiba-tiba menangis? Tadi juga saat gue mengajak lo, mata lo berkaca-kaca dan bilang semua lelaki sama saja ngeselin, gue ingin tahu alasan lo bersikap seperti itu."


"Tidak usah kepo deh, ini urusan gue."


Rama menghela nafas panjang. "Masalahnya gue ini suami lo meskipun gue lebih muda dari lo Kak. Jadi gue berhak tahu apa yang terjadi sama lo."


Naina sontak menoleh, ia ingat jika Rama sudah menjadi suaminya. Rama juga menoleh dan mata mereka saling berpandangan.


"Jangan memperdulikan gue, lebih baik lo perhatikan Alina, dia pacar lo dan dia cinta sama lo."


"Gue udah putus sama Alina."

__ADS_1


"Apa? Putus? Kapan?" Naina terkejut, ia pikir Rama tidak akan pernah memutuskan hubungannya dengan Alina, tapi ternyata ...


"Kemarin. Maka dari itu gue peduli sama lo karena lo sudah menjadi tanggungjawab gue, lo itu sudah menjadi istri gue. Jadi gue tidak ingin ada hal yang di sembunyikan dari hubungan ini."


"Rama, kenapa lo memiliki pikiran seperti itu?" Naina tidak menyangka kalau pikiran Rama begitu dewasa. Secepat itu pula Rama mengambil tindakan demi pernikahan yang entah sampai kapan bertahan.


"Karena gue tidak ingin mengkhianati sebuah pernikahan dan sebuah hubungan. Jika gue tetap bertahan dengan Alina itu artinya gue menodai pernikahan suci yang jauh lebih tinggi derajatnya dibandingkan pacaran. Jika gue tidak memutuskan keputusan yang ada gue akan berada di jalan penuh kebohongan. Hubungan kita yang berawal dari insiden bukan hanya sebuah kebetulan semata, tapi karena memang Tuhan yang menentukan."


"Tapi gue ..."


"Gue tahu Kak, lo masih cinta sama pacar lo itu. Tapi setidaknya gue berusaha berjalan di jalan kebenaran tanpa melibatkan perasaan yang lain. Gue tidak akan memaksa lo untuk menerima hubungan ini begitu cepat, tapi setidaknya lo terbuka sama gue dalam hal apapun termasuk masalah tang sedang lo alami saat ini. Gue akan ada jika lo membutuhkan bahu untuk bersandar, gue akan ada jika lo butuh tempat bercerita, gue akan ada jika lo membutuhkan bantuan gue."


Naina tidak bisa berkata-kata lagi, ia semakin teringat pada pengkhianatan yang Mario lakukan di belakangnya. Saat ini Naina membutuhkan tempat bercerita dan sedang di fase terluka. Tidak terasa matanya berkaca-kaca dan menetes begitu saja.


Rama menoleh, ia terbelalak. "Lo nangis? Kenapa? Apa kata-kata gue menyakiti lo? Sorry kalau gue salah bicara?"


Naina menggelengkan kepalanya lalu ia menghambur memeluk Rama. Naina terisak menangis. Rama tertegun, ia kaget tiba-tiba saja Naina memeluknya, bertambah khawatir saja dia.


"Lo kenapa?" Rama belum berani membalas pelukan Naina, tangannya masih menggantung.


"Dia selingkuh?" Rama yang mendengarnya terkejut tidak percaya. Setahunya Mario pria baik dan tidak pernah melakukan kesalahan pada Naina, tapi mendengar perkataan Naina seakan tidak percaya.


"Iya, dia selingkuh dari gue."


"Terus lo menangisi pria itu? Dasar bodohh!" seru Rama.


Naina melepaskan pelukannya. "Kok lo malah ngatain gue bodoh? Gue tidak bodoh, Rama."


"Lo itu bodoh, ngapain juga harus menangis pria tulang selingkuh, buang-buang air mata dan tenaga saja. Dan sekarang gue tahu, jadi ini alasan lo marah-marah sama gue. Ck, dasar anak kecil lo." Rama melengos pergi.


"Hei! apa lo bilang? Lo bilang anak kecil? Lo ngatai gue bodoh? Gue bukan anak kecil ya, gue juga tidak bodoh, gue nangis karena sakit hati." Naina mengikuti Rama dan menarik tangan Rama sampai pria itu menoleh.

__ADS_1


"Terus gue harus bilang wow gitu? Ck, cengeng." Rama sengaja melakukan itu supaya Naina marah-marah dan tidak menangis lagi. Ini cara dia mengalihkan perhatian Naina dari Mario.


"Rama, lo ngeselin ya. Dari dulu selalu saja bikin gue kesal. Dasar anak ingusan!" ujar Naina memukul pundak Rama.


Rama mencekalnya. "Ssstt jangan banyak ngoceh! Ada Mario di sini," ucap Rama membuat Naina tertegun.


"Mario, di mana?"


Rama membalikkan badannya Naina dan menunjuk pria dan Wanita yang sedang berjalan-jalan juga. Naina membelalakkan matanya.


"Dia di sini? Kurang ajar sekali, bilangnya liburan ke rumah saudara tapi ternyata liburan bareng wanita. Brengsek, gue mau melabrak dia." Naina ingin melangkah, tapi Rama mencekalnya.


"Jangan gegabah dulu, mendingan kita ikuti saja mereka berdua pergi kemana? Setelah melihat semuanya lo pikirkan baik-baik mau dibawa kemana hubungan lo dan dia. Ayo kita ikuti." Rama menarik tangan Naina yang sedang memikirkan perkataan Rama.


"Mau dibawa hubunganku dengan Mario?"


Dari jauh Rama dan Naina mengikuti Mario dan wanitanya.


"Sayang aku lelah, kita balik ke hotel yuk?" Lusi begitu manja merangkul lengan Mario.


Mario tersenyum sebal. "Baiklah."


"Gue terpaksa melakukan ini demi menjaga rahasia gue dan dia. Kalau Naina tahu bagaimana? Pasti dia sangat marah sekali, tapi gue juga harus mencari cara untuk lepas dari Lusi."


Sekian lama mengikuti menggunakan motornya, Naina semakin di buat terkejut di saat Mario dan wanitanya menuju hotel. "Rama, mereka masuk hotel."


"Gue juga tidak menyangka mereka menginap di hotel, tapi lo yakin Mario belum menikah?"


"Mau menikah bagaimana calon istrinya ada di sini? Gue dan dia udah pacaran dari SMA, gue tahu kalau dia belum menikah." Perasaan Naina semakin di buat gelisah dengan pikiran yang semakin buruk pada Mario.


"Terus mereka? Apa jangan-jangan?" Pikiran Rama pun sama buruknya terhadap kedua orang itu.

__ADS_1


"Kumpul kebo," lanjut Rama.


"Apa? Tidak mungkin!"


__ADS_2